BAB - 38: Mind Blowing Moment

69 4 2
                                        

"Apa ini yang dimaksud oleh sisi lo yang lain?"

Wajah Satya menjauh sembari terkekeh. "Segitu nggak percayanya lo sama gue soal ini, Sar. Tega bener. Ini gue beneran, bukan Manakar."

Sarah mengedikkan bahu. "Sepak terjang cinta lo kagak jelas sih, Sat. Makanya pas lo bilang gitu justru gue yang geli dan aneh sendiri."

"Wah ..." Satya berdecak, bingung antara harus marah atau tertawa. Ia kembali ke posisi semula untuk membersihkan cairan racun tikus lalu mencuci gelasnya sampai benar-benar bersih dan baunya hilang sebelum ditaruh di lemari paling atas. Terakhir ia melepas sarung tangan latex lalu buang di tong sampah.

"Tapi bagian mau bunuh Om Sarwo, gue serius."

Sarah langsung kelabakan. "Buset dah, Sat. Nggak, jangan, bisa-bisa lo yang nggak bisa lolos dari jeratan hukum. Bahkan hukumannya lebih panjang. Lo tahu, bagaimanapun kondisinya, darah biru keluarga Anggara mengalir deras di tubuhmu. Orang tua lo, Mas lo, sampai ponakan lo yang akan menanggung akibatnya."

Satya ikut duduk di samping Sarah lagi, bertopang dagu dengan wajah tercenung. "Gue nggak terima lo diperkosa sama si Tua Bangka Mesum itu. Dan gue ... gue ... nggak ada di sana untuk nolong lo." Tangan besar Satya menutup wajah pria itu, dan isakan tangis terdengar.

Belum pernah Sarah melihat Satya nangis tersedu-sedu begini. Dulu waktu mereka masih pacaran, Satya hanya menangis saat menang lomba dan tidak rela berpisah dengan sahabat empat orang itu. Waktu itu Sarah hanya menunggu sampai berhenti nangis, dan itu yang dilakukannya sekarang.

"Satya yang gue kenal nggak gini," gumam Sarah dengan decakan kecil.

Satya langsung melepas tangannya dari wajah dan melempar sorot sinis. "Heh Sar, seplayboy kardusnya gue. Pelecehan seksual tidak pernah ada dalam kamusku. Ogah banget gue dicap penjahat kelamin, masa gini aja nggak ngerti. Ealah lo yang notabene mantan terlama dan terindah nggak tahu gini."

Bukannya sewot, Sarah tertawa lebar. Objek tawanya adalah cara penyampaian Satya yang pakai wajah konyol sampai bibirnya dimiringin dan mata melotot dan berputar.

"Seneng banget keknya kalau gue pasang muka jelek." Satya lanjut bersuara, kali ini dengan wajah sebal yang mana bikin Sarah refleks cubit pipinya pakai satu tangan. "Eh Anjir sakit weyyyy, Sar. Parah lo kalau nyubit gini. Wey .... Sar ...ad—"

"Asik ternyata jahilin lo, masih nggak berubah dari dulu," tutur Sarah. Ini hiburan terasyik selama seminggu Sarah tinggal di vila keluarga Satya.

"Ya sudahlah yuk istirahat. Gue anterin lo ke kamar, infus lo ribet soalnya." Satya mengabaikan perkataan jahil Sarah. Ia turun dari kursi dan keluar ke dapur lebih dulu, menghindari salah tingkah tidak berguna ini.

"Iya nih." Tangan kiri Sarah yang masih ditancap infus terangkat sedikit, cairannya tinggal sedikit habis. "Semoga aja pas pemeriksaan dan ganti perban bisa lepas dan gue bisa bergerak bebas."

Langkah Satya berhenti di ambang pintu dapur. "Bergerak bebas tapi masih punya luka jahitan apa gunanya?"

Tawa Sarah keluar lagi sambil mendekat ke mantan pacar. "Banyak bacot lo, dahlah balik aja ngantuk gue."

Mereka kembali ke kamar masing-masing begitu selesai naik tangga.

Saat merebahkan diri, perasaan aneh nan nyaman menguasai tubuh Sarah. Ia ingat jika kemarin tidak menjawab pertanyaan gilanya Om Sarwo, maka sudah dipastikan hanya tinggal nama saja. Selamanya Sarah berterima kasih pada pria itu, dan tanpa sadar bibirnya membentuk senyum haru.

***

Hari-hari berikutnya dijalani oleh Sarah dan Satya dengan santai. Mereka memang belum beraksi lagi karena sedang proses pemulihan total dan kesibukan Mas Anton di kantor. Hal ini juga dimanfaatkan untuk main-main sama Mami, ponakan, dan Mbak Tyas. Tentu saja Mami menyambutnya dengan baik, dan terselip harapan agar Sarah bisa balikan lagi dengan Satya. Bagian ini Sarah hanya jawab bahwa semua dikembalikan ke Tuhan. Poin plus berikutnya adalah Mami dan Mbak Tyas tidak banyak bertanya tentang masalah pelik Sarah dan Satya. Mereka berdua juga sudah tidak bergantung dengan infus dan merasa badannya sudah kuat.

Reputasi | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang