Gazebo Belakang
Seusai melaksanakan sholat isya' secara berjamaah, kini keluarga Al-Fahri pun berkumpul di gazebo belakang rumah yang berview kolang renang dan taman
"Ada apa Abi, Ummi? kenapa panggil Alya kemari?" tanya Alya yang masih mengenakan mukenah nya
"Ada yang perlu Abi dan Ummi bicarakan ke kamu" jawab Mayra
"Adek doang mi? Arhan nggak?"
"Kalo nggak sama kamu juga, gunanya Ummi suruh kamu kesini ngapain Arhan?" greget Mayra kepada putra sulungnya
"Hehe"
Melihat sang putra yang sedang menyengir kuda, Fahri pu langsung mencetus "Kamu bisa serius sedikit nggak? kalo nggak Abi patahin gigi kelinci kamu"
"Mana ada Arhan punya gigi kelinci bi, lagian Arhan bercanda dikit kan biar ga tegang tegang amat"
"Arhan" panggil Mayra datar sebagai peringatan
Mendengar dirinya dipanggil oleh sang Ummi, Arhan pun menatapnya dengan tatapan canda. Tapi tatapan canda itu berakhir saat mendapati Mayra sedang menatapnya dengan tatapan tajam
"Maaf Ummi" ucap Arhan dengan menundukkan kepalanya
Melihat sang Abang kini sedang di ulti oleh sang Ummi, Alya pun tertawa kecil
"Diem kamu!" cetus Arhan tak terima jika ditertawakan oleh sang adik
"Arhan, Alya!"
"Maaf Ummi"
Setelah putra-putri Al-Fahri sudah meminta maaf kepada sang Ummi, sang Ummi pun diam tak menjawab yang dimana berhasil membuat suasana di gazebo itu senyap beberapa menit. Tak lama kemudian, Mayra pun memulai percakapan lagi
"Ummi sudah maafkan kalian berdua, tapi Ummi minta tolong sama kalian berdua untuk bisa membedakan mana waktu serius dan mana waktu bercanda, faham?" tanya Mayra tegas
"Faham Ummi" jawab putra putri Al-Fahri itu dengan kepala yang masih menunduk
"Alya"
"Iya, Ummi?"
"Bolehkah Ummi meyakinkan hati putri Ummi yang sedang patah hati ini?"
"Ummi bisa aja, Alya ga lagi patah hati Ummi.. Alya gapapa"
"Kita ini keluarga nak, kita semua punya ikatan darah dan batin sama dengan kamu. Apa yang kamu, Abang dan Abi rasakan Insya Allah Ummi juga bisa merasakan nya juga. Sudah cukup kamu menyembunyikan rasa sakit ini kepada kami, dan Ummi kali ini sudah amat cukup bangga akan kekuatan hatimu yang bisa melewati semua ini, Kamu lebih memilih menceritakan masalah yang kamu rasakan kepada Allah dibanding dengan kami, dan itu sudah membuat Ummi bangga dengan tindakan kamu ini dibandingkan dengan anak diluaran sana yang lebih memilih mengakhiri hidupnya hanya karena pujaan hatinya telah memilih pilihannya dibanding dirinya"
"Nak, kami semua sudah tau apa yang terjadi sama kamu. Namun kami tidak tau yang jelas seperti apa. Yang kami hanya ketahui hanya intinya saja, dan kami tidak akan memaksa kamu untuk menceritakan kepada kami apa yang kamu rasakan karena kamu bukan Alya kecil yang sama seperti dulu. Alya kecilnya Al-Fahri sekarang udah besar secara fisik, namun di hati Abi, Ummi dan Abang, kamu tetap menjadi Alya kecil di keluarga Al-Fahri ini"
"Emm... Bolehkah Ummi bertanya sesuatu kepada kamu?" tanya Mayra kemudian, setelah dirinya menjelaskan beribu-ribu bahasa kepada Alya
"Boleh Ummi"
"Bagaimana keadaanmu setelah ditinggalkan oleh orang yang katanya ingin menghalalkan mu?"
"Trauma. Alya trauma Ummi.... Dan rasa trauma ini bisa diibaratkan seperti selamat dari kecelakaan maut namun cacat untuk selamanya"
KAMU SEDANG MEMBACA
EL-FATIH (END)
Novela Juvenilبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ANAK NYA NADHIELFATHAN
