Keesokan harinya, kini Alya bangun dari tidurnya terlebih dahulu, ia mendapati wajah datar Gus Fatih yang sedang tertidur pulas itu tengah menghadapnya
Alya mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat jam weker yang berada di nakas belakang Gus Fatih dan kini sudah menunjukkan waktu pukul 02.00 dini hari
Tak lama dari itu, Alya pun menidurkan kepalanya lagi dengan mengelus batang hidung Gus Fatih dengan jari telunjuknya
Hingga sampailah Gus Fatih membuka matanya, ia mendapati Alya sedang menatapnya dengan kekaguman
Mata hitam milik Alya kini bertemu dengan mata coklat milik Gus Fatih, Gus Fatih dengan alis nya yang tebal sedangkan Alya dengan alis tipisnya
"Kenapa, hm?" tanya Gus Fatih dengan suara seraknya
"Eeeee~~" lemot Alya
"Hm?"
"Mas Alfa, nggak sholat?"
"Sholat, Humaira. Mau sholat bareng?" tanya Gus Fatih dan Alya pun langsung menganggukkan kepalanya
Melihat itu Gus Fatih pun bangun dari tidurnya dan mengambil botol minum yang berada di nakas nya dan mulai membuka tutupnya
"Minum dulu" ucap Gus Fatih dengan memberikan botol minum yang sudah terbuka ke Alya
"Buat apa?"
"Minum, Humaira" titah Gus Fatih dengan nada yang tidak ingin ditolak
Mendengar itu Alya pun mulai meminum nya beberapa tegukan dan memberikan kepada Gus Fatih lagi
"Kholas?"
"Em" jawab Alya dengan menganggukkan kepalanya
"Ya sudah, kamu wudhu duluan"
Dan lagi-lagi Alya pun menurut, setelah keduanya siap untuk sholat, Gus Fatih pun mulai mengimami nya
~
09.00, Bagian belakang Kapal Phinisi
Saat ini keduanya tengah menikmati sarapan di bagian belakang kapal sambil menikmati view labuan bajo, Alya dengan Abaya biru denim nya dan pashmina nya yang berkibar kini terlihat sangat anggun dan cantik dimata Gus Fatih
"Cadarnya copot saja nggak papa, tadi sudah pesan ke Alan biar gaada orang yang masuk ke belakang kapal"
"Bener, Mas?"
"Iya"
Mendengar itu Alya pun mulai mencopot cadarnya namun tangan Gus Fatih mencegahnya
"Tadi mas yang pasangkan, sekarang mas juga yang harus melepaskan" ujarnya, dan terbukalah wajah cantik Alya itu dengan sempurna, kulit yang putih bak mutiara, bibir yang sudah alami berwarna pink dan bulu mata nya yang lentik
Setelah melepaskan cadar Alya, kini Gus Fatih beralih kepada rambutnya yang sedikit panjang dan mulai menguncir nya
"Alya mau nguncirin rambutnya" ujar Alya
"Ini" Gus Fatih menyerahkan karet yang berwarna hitam itu kepada Alya dan ia pun langsung duduk membelakanginya di bagian bawah kursi
"Kenapa nggak duduk di samping Alya aj-.."
"Biar kamu lebih gampang nguncir nya"
Sembari menguncir rambut gondrong Gus Fatih, entah mengapa mulutnya itu kini ingin sekali berkomentar terhadap rambut suaminya
"Mas Alfa"
"Dalem, kenapa hm?"
'Gaboleh salting, gaboleh salting'
KAMU SEDANG MEMBACA
EL-FATIH (END)
Novela Juvenilبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ANAK NYA NADHIELFATHAN
