Dua

120K 8.3K 167
                                        

Erangan itu berembus putus-putus.

Peluh yang mengalir, tergelincir bebas.

Tak ada yang tersisa, baik akal maupun benang yang melekat di tubuh telah menghilang. Membuat desah yang tadi tertahan mulai melantun panjang. Gemuruh yang memacu tubuh, beriak karena pecut hasrat yang menari-nari memenuhi segala rongga.

Jangan tanyakan bagaimana mulanya, nyatanya efek yang ditimbulkan minuman yang diteguk oleh Harun Dierja, membuat otaknya tak bisa bekerja. Gairah yang tak pernah ia jadikan pikiran utama, mendadak menjelma menjadi naga yang menuntut paksa. Kalah pada gelombang ingin bersuka cita, ia susul syahwat yang menyesatkan.

Terjerumus pada malam panjang, berdua. Mereguk dosa yang tak terkira. Bencana yang membuatnya harus meninggalkan acara lebih cepat dari yang lainnya, malah menjadikan malam itu bak wisata yang tak mungkin terlupa.

Rupanya, diam-diam ia pun mendamba.

Ternyata, tanpa diduga ia menginginkannya.

"Berengsek!"

Harun menutup memorinya sambil menggebrak meja.

Wajahnya yang kaku, tampak geram. Kelakuannya dua malam yang lalu sungguh tak bermartabat. Bagaimana mungkin ia mampu mengkliam perbuatan orang lain sebagai bajingan, bila ternyata ia mampu menikmati tiap efek yang ditimbulkan.

Astaga ...

Satu kali, mungkin akibat paksaan keadaan. Namun bagaimana dengan yang kedua kalinya? Di saat ia sendiri yang meminta tuk mengulang kembali.

Ketika kulit bertemu kulit.

Saat cumbu berbalas syahdu.

Hingga desah kembai mengalun tanpa malu.

"Sial!" ia sedang memaki dirinya sendiri.

Ingatan tentang malam itu bak hantu yang enggan menjauh.

Tanpa kacamata yang menghiasi wajah, Harun terlihat dapat mengamuk kapan saja. Sayangnya, ia terlampau mahir mengolah emosi. Ia pintar mengendalikan diri. Karena beberapa detik kemudian, ia sudah dapat menetralkan ekspresi. Walau tak banyak yang berubah, hanya saja Harun telah mengenakan kembali kacamatanya.

"Bagaimana hasilnya?" pertanyaannya mengalun tenang.

Tentu, ia tak sendiri di ruangan.

Ada ajudan serta asisten pribadi yang mendampingi. Karena sebentar lagi, ia memiliki pertemuan dengan beberapa elite partai.

"Benar, Pak. Gusti Raya adalah istri siri Rangkuti Malik."

Memejamkan mata, Harun mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Rahangnya kembali mengerat, namun kali ini ia berhasil menahan umpatan dari bibirnya. "Sudah berapa lama?" tanyanya dengan suara rendah.

"Tiga tahun, Pak."

Kepalanya sontak mengangguk. Kini, teka-teki itu terjawab sudah. Saat kembali membuka netra, ia menatap kejam pada kedua bawahannya tersebut. "Dan kalian luput menyadari rahasia sebesar itu?"

Ternyata, musuh paling berbahaya adalah orang terdekat.

Gusti Raya adalah salah satu buktinya.

Bekerja bertahun-tahun dengan sang ayah. Menjadi sekretaris yang selalu dipercaya. Entah apa yang terjadi sebenarnya, sampai-sampai orang itu tega mengkhianati kepercayaan ayahnya. Karena ternyata, selama ini sekretaris sang ayahlah yang sudah menjual semua informasi terkait penyakit yang diderita ayahnya kepada Rangkuti Malik.

"Maaf, Pak."

Harun bisa saja melempar apa pun yang ada di mejanya saat ini demi menuntaskan kekesalan. Tetapi seingatnya, ia tidak pernah melempar barang hanya untuk memperlihatkan amarah atau kekecewaan. Ia lebih suka bergerak dalam diam. Menghukum dengan mengancam. "Bereskan dia," Harun memutar kursi ke arah landscape siang ini. "Jangan sampai ada media yang tahu mengenai kejadian dua hari yang lalu. Singkirkan mereka dengan tenang."

Nyala RahasiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang