Yess, kemaren yg nebak Kalla Group, jadi emang aku terinspirasi sama perusahaan besar ini. Dan BG pak JK cukup cocok sih sebagai pengusaha dan politisi buat gambaran sosok fiksinya Pak Sanusi. Hehehhee
Oke semuanya Happy reading ...
***
Di malam kebakaran.
Sanusi Wijaya masih berada di ruang kerjanya.
Ditemani oleh asisten pribadi juga finance accounting yang setia mengikutinya sejak ia masih aktif sebagai pengusaha, hingga terjun ke dunia politik. Mereka sedang membahas kemungkinan langkah politik yang bisa diambil ketika nanti pengukuhan bakal Cawapres akan diumumkan. Juga, tengah mengalkulasi sumbangan Pilpres yang akan ia berikan kepada Irawan Pramoedya yang nanti beratasnamakan Widjaja Group.
Karena baginya, partai Nusantara Jaya hanyalah wadah.
Tujuan utamanya, jelas mengembangkan perusahaannya.
"Peluang Irawan memang cukup besar. Tapi Effendy Ghazali juga harus diperhitungkan, Pak," saran sang aspri dengan wajah serius. Pria berusia pertengan 40 itu, sudah tahu betul kehendak dari atasannya. "Partai besar seperti Indonesia Perjuangan tentu akan mengupayakan kemenangan Capresnya."
Itulah yang sedang membuatnya bimbang.
Partai Nusantara Jaya, jelas telah berkoalisi dengan Irawan Pramoedya. Namun, atas nama perusahaan, ia bebas memberikan sumbangan pada Capres manapun yang ia kehendaki. Masalahnya, ia harus memastikan kandidat mana yang berpeluang besar memenangkan Pemilu. Sebab, bila pihak yang ia dukung kalah, tak hanya uangnya yang melayang. Kesulitan mendapat perizinan dalam usahanya pasti akan terjadi bila Presiden yang tak ia pilih menjabat nanti.
"Jadi, kita harus bagaimana?" Sanusi memijat pelipisnya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Harusnya mereka sudah beristirahat dan tidur. Tetapi pembahasan serius, masih terus berlangsung. "Kita harus segera menyerahkan sumbangan, agar kandidat tahu bahwa kita mendukung mereka sejak awal," ucapnya memaparkan. Karena, bila sumbangan diserahkan lebih awal, utang budi si calon Presiden nanti, akan jauh lebih dalam lagi. Beda soal bila sumbangan diberikan mendekati waktu Pemilu, si kandidat hanya akan menerimanya tanpa benar-benar merasa berutang budi.
"Kenapa kita tidak mempertimbangkan Kusno Aji juga, Pak?" sang finance account bertanya. "Dari hasil survei, elektabilitas Kusno Aji lebih baik dari periode yang lalu. Dan, pendukung Presiden di Pemilu periode sebelumnya, banyak yang kini memberikan dukungan pada Kusno Aji. "
Tok ... tok ... tok.
Perbincangan mereka terintrupsi oleh ketukan konstan di balik pintu.
Buat Sanusi Wijaya melepas pandangan dari neraca saham yang tadi dipaparkan oleh finance accountnya. "Masuk!" serunya sambil menanti.
Ternyata yang masuk ke dalam adalah salah seorang ajudannya. Pria berjas gelap tersebut, terlihat terburu-buru melangkah.
"Ada apa?" Sanusi bertanya karena merasa pasti ada yang tidak beres. "Ada masalah?"
"Kost-kostan yang ditinggali Nyala Sabitah terbakar, Pak."
"Hah?" Sanusi refleks menutup berkas yang tadi sedang dibacanya.
"Barusan saya menerima laporan, kalau kost-kostan tempat Nyala Sabitah tinggal, terbakar," lalu ia pun menunjukkan foto yang berada di ponselnya. Tak lupa, rekaman video dari lokasi tersebut pun tengah ia putar. "Ada perintah lanjutan, Pak?" tanyanya kemudian.
Sejenak, Sanusi tak bereaksi.
Namun matanya tetap mematri foto yang berada di ponsel tersebut diam-diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Rahasia
RomanceSebagai putra sulung, Harun diberi warisan politik yang membingungkan. Alih-alih bahagia, ia justru menderita sakit kepala tiada habisnya. Partai yang didirikan orangtuanya, menyisakan kader-kader kacau yang minta dibina. Hingga geliat saling sikut...
