Delapan Belas

92.9K 7.9K 725
                                        

Part ini panjaang bgt pokoknya hahahaa

Siang ini, tamu cukup ramai.

Para elite partai kembali hadir untuk menyatakan dukungan penuh pada keputusan ketua umum mereka yang akan mengikrarkan kesediaannya untuk diusung menjadi bakal calon presiden.

Setelah rapat yang tiada habisnya selesai digelar, pilihan mereka jatuh pada Irawan Pramoedya, seperti yang diharapkan orang-orang. Namun, keputusan tersebut hanya akan disampaikan pada kader secara internal. Belum saatnya public mengetahui keputusan ini. Yang terpenting adalah bahwa antara para partai yang mendukung Irawan Pramoedya dengan partai Nusantara Jaya, sudah ada kesepakatan yang terjalin.

Dan sebagai frontliner yang bekerja dengan mengandalkan senyum dan kesopanan, Nyala tidak tahu apa-apa. Ia juga tidak mau tahu. Karena siapa pun nanti yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden, ia tetap harus bekerja demi agar tetap hidup.

Ya, mungkin, gajinya bisa saja naik bila sang ketua umum sukses di lantik. Selebihnya, Nyala tak akan kebagian apa-apa. Makanya, ia lebih suka bila tak tahu apa-apa.

Nyala sedang menjaga meja frontliner seorang diri sambil menunggu ketiga temannya untuk bergiliran beristirahat. Ketika rombongan beberapa orang wanita berbeda usia memasuki lobi. Di belakang mereka, ada dua orang ajudan yang setia mengikuti dengan banyak barang yang dibawa.

Tiada hari bagi Nyala tanpa merasa pusing, dan siang ini pun demikian. Tetapi sekarang, Nyala pintar menyiasati pusingnya. Ia perlu teh manis hangat dengan dua sachet gula bila sudah seperti ini. Namun, ia belum bisa ke pantry. Jadi, ia pun mencoba menahan diri dengan mengabaikan rasa sakit di kepala. Sambil tersenyum menyapa rombongan wanita yang baru saja memasuki lobi, Nyala menjalankan SOP dengan benar. "Selamat siang Ibu, ada yang bisa saya bantu?" ia bungkukkan sedikit kepalanya dengan sopan.

"Sekarang peraturan DPP makin ketat, ya? Sampai saya harus ngelapor dulu untuk ketemu anak saya."

Ibu Dewi Gayatri.

Nyala mengenal sosok tersebut sebagai istri dari mantan ketua umum yang lalu, sekaligus pendiri dari partai ini.

Keikutsertaan Ibu Dewi dalam banyak kegiatan partai, membuat Nyala tentu saja tak lupa pada sosok tersebut. Dan kini, sosok itu tidak hanya berdiri sebagai istri dari mantan ketua umum partai, melainkan juga ibu kandung dari ketua umum partai yang baru.

Sekaligus ....

Nyala menekan kedua tangannya yang berada di atas perut dengan helaan napas yang ia samarkan lewat senyum kecil yang masih tertahta di wajah. "Benar, Ibu. Peraturan baru ini memungkin kami untuk mengenali setiap tamu yang datang. Jadi, kalau semisal ada kejadian nggak terduga seperti kebakaran atau gempa bumi, kami tahu berapa jumlah orang di dalam gedung yang harus dievakuasi," Nyala menjelaskan dengan lancar.

"Hm, okelah. Jadi, saya bisa bertemu dengan anak saya 'kan?"

"Saya akan hubungi sekretaris Bapak terlebih dahulu, Ibu. Sembari menunggu, Ibu Dewi duduk dulu, ya?" Nyala mempersilakan. Ia mengerling pada kedua ajudan yang mengikuti keempat rombongan tadi untuk membawa tamu VIP tersebut ke sofa. "Sambil menunggu, apa Ibu mau minum teh?" Nyala kembali menawarkan opsi untuk menjamu tamunya dengan baik.

"Nggak perlu. Nanti saja sekalian di atas," sahut Dewi Gayatri yang sudah duduk nyaman di salah satu sofa. "Oh, ya, pesankan sama sekretaris Harun, untuk menyiapkan peralatan makan siang, ya?"

"Baik, Ibu," Nyala mengangguk dengan senyum professional di wajah.

Demi Tuhan, ia mengenali semua tamu yang dibawa oleh Ibu Dewi Gayatri.

Nyala RahasiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang