Tiga Puluh Lima

92.1K 6.7K 419
                                        

Pada bulan yang masih tertutup awan. Tersemai ribuan harapan bahwa sebentar lagi, cahayanya dapat membuat langit terang. Walau sinarnya tak bisa menggeser hitam, tetapi setidaknya sulur-sulur keemasan itu mampu memberi asa kepada bintang-bintang kecil tuk memamerkan hal serupa. Agar mereka tak berkecil hati karena sinarnya tak mampu menjangkau angkasa, rembulan rela meredupkan miliknya juga. Berbagi kesunyian di malam yang tenang. Ikut berpegangan kala badai menghadang. Menjaga kesatuan malam, bulan dan bintang memutuskan tak ingin dipisahkan.

Bagai sebuah petunjuk arah, para gemintang yang menemani rembulan juga bisa membuat manusia bahagia. Seolah memberi tahu arah pulang, sinar mungilnya yang berada di langit justru menentramkan jiwa.

Namun segala fenomena indah itu, hanya terjadi di langit. Karena di bumi, realita begitu senang mematahkan ekspektasi yang mengendap dalam angan. Memaparkan kenyataan bahwa semesta dan seisinya tak hanya tentang bulan dan bintang. Harun harus menerima fakta kalau selama ini musuh yang ia takuti, telah berada di depan mata.

Mantan Jenderal TNI AD yakni Kusno Aji, merupakan dalang di balik kebakaran yang terjadi di kost-kostan Nyala beberapa saat lalu. Dan tak segan-segan, pria 60 tahun itu, mengatakannya secara gamblang. Mengetahui rahasia yang semula ia simpan rapat, Harun pun harus putar haluan dengan membuat janji demi memberi makan emosi yang berkecamuk dalam diri.

Ditemani ajudan dan asisten pribadinya, Harun melangkah menyurusi rumah megah milik Kusno Aji. Tidak bertemu di rumah singgah, atau justru kantor DPP, Kusno Aji mengundangnya langsung ke hunian pribadinya yang bergaya modern klasik.

"Selamat datang, Pak Harun. Akhirnya, setelah sekian lama saya mengajukan janji temu. Pak Harun sendiri yang mendatangi saya."

Sebuah sarkas.

Dan Harun harus menahan diri agar tak terpancing emosi.

Sungguh, keadaannya saat ini tak diperkenankan untuk melakukan hal itu.

"Terima kasih karena sudah mau menerima kehadiran kami, Pak Kusno," Harun mengulurkan tangan berjabat. Senyumnya hanya segaris. Tak perlu berpura-pura menyamarkan kekesalannya, Harun menampilkan dirinya apa adanya. "Bagaimana keluarga, Pak? Sehat?" ya, basa-basi ini perlu dilanjutkan.

"Pak Harun nggak lagi ingin bertemu dengan putri bungsu saya, kan?" ledek Kusno Aji sambil tertawa. Ia pun menerima jabatan tangan tersebut, sembari mengerling pada anggota yang dibawa oleh tamunya. "Saya nggak melihat Pak Sekjen di sini. Pak Harun sengaja, ya, nggak mengajak anggota partai?"

Kusno Aji, berengsek!

Harun mengeratkan rahang.

Kali ini, tak hanya sebuah sarkas, tetapi juga sindiran dan ejekkan. Buat Harun harus mencoba mengendalikan diri lebih hebat lagi.

Well, Harun hanya berharap bahwa Kusno Aji tidak sepicik itu dengan mengunggah kedatangannya malam ini ke sosial media. Bukan apa-apa, ia datang ke sini tanpa sepengetahuan Sekjen dan juga elite partainya. Karena memang, permasalahan yang membuatnya kemari adalah mengenai kepentingan pribadi. Jadi, Harun merasa tidak perlu melibatkan partainya saat ini. Sebab, yang akan mereka bahas bukanlah koalisi.

"Oh, saya mengerti, ini pertemuan rahasia 'kan?"

Harun bersumpah, tidak akan pernah mau berurusan dengan Kusno Aji kalau tidak karena terpaksa. Padahal dulu, ia begitu mengagumi beliau. Sosoknya yang tampak gagah dengan visi dan misi yang begitu jelas dan cerdas kala melakukan debat Presiden di periode yang lalu, membuat Harun memutuskan memilih Kusno Aji saat pemilihan umum berlangsung.

Makanya, ketika mengetahui Kusno Aji kembali dicalonkan sebagai kandidat presiden, Harun pernah akan memihaknya.

Namun, sekarang tidak lagi. Hm, ternyata ibunya benar. Kusno Aji merupakan sosok yang problematik yang mengerikan.

Nyala RahasiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang