Empat Puluh Tujuh

94.7K 6.8K 596
                                        


Resah yang mereka tabuh, benar-benar mengguncang dada. Walau telah berkali-kali saling menyentuh, debar itu tetap saja menggila. Ketika deru dan cumbu menjadi satu, keduanya sadar bahwa menjadi utuh merupakan hal yang tak ingin buat mereka menjauh. Jadi, ketika kulit bertemu kulit, dan hasrat mulai menari-nari tak menentu. Mereka paham, bahwa bisa saja riak dalam darah merupakan akumulasi rindu.

Ah ....

Harun dalam keadaan rentan. Tubuhnya tanpa busana dan tengah membiarkan istrinya mencumbu. Ia sepenuhnya berada dalam kendali wanita itu. Rambut Nyala yang menjuntai mengenai kulitnya, Harun biarkan Nyala merangkak di atas tubuhnyanya. Mengecupi kulitnya, menjilat dadanya, lalu bermain-main dengan putingnya.

Astaga ...

Harun mengerang, namun merasakan candu.

Ia biarkan wanita itu duduk di atas pahanya. Menyiksa gairahnya yang membuncah menginginkan berada di dalam pusat senggama sang wanita. Namun rupanya, Nyala sedang ingin benar-benar menyiksa. Sebab, alih-alih membuat mereka padu, Nyala justru membuat banyak tanda di dadanya. Menggigit putingnya. Menggodan lewat jilatan basah disepanjang dada.

"Nyala ...," Harun menghela dengan susah payah. Pembalasan dendam wanita itu, membuatnya nyaris tenggelam. Harun tak kuasa. Ia tutup mata, seraya mencoba pasrah. Seluruh tubuhnya meremang penuh suka cita. Namun, ketika sapuan lidah istrinya semakin turun menyentuh perut, Harun panik. "Jangan," ia berusaha melarang. Tetapi, belaian Nyala buatnya terbang.

Sial!

Ini nikmat.

Ya, Tuhan ... Harun tak dapat tenang.

Saraf-saraf tubuhnya mendadak aktif dan mencoba menunggu. Rasa penasaran membuncah, ingin melihat apa lagi yang akan dilakukan istrinya itu. Namun, ketika Nyala merosot semakin jauh, Harun menahan lengan wanita itu sambil menggelengkan kepala tak setuju.

"Nggak usah," ucapnya susah payah. Seolah tahu, apa yang akan dikerjakan oleh Nyala di bawah sana.

Nyala tak meresponnya lewat kata.

Wajah wanita itu memang mendongak ke arahnya. Tetapi, tangannya meluncur ke bawah. Menyentuh gairah Harun yang membuncah siap memulai petualangan baru.

"Nyala ...," bibir Harun menipis. Kepalanya mendadak pusing, namun bukan pusing yang menyakitkan. Sungguh, pijatan itu terasa sampai ke ubun-ubun. Buat dirinya mengempaskan kepala ke bantal. Tak kuat menerima serangan nikmat yang tak dapat ia deskripsikan lewat kata. Meringis kala pijatan Nyala di bawah sana, terasa semakin mendebarkan. Harun menggerang tertahan. "Please ...," entah apa yang ingin dimohonkannya. Yang jelas, ia menutup mata demi menikmati semua rasa yang berkumpul di sana.

Demi Tuhan, ini gila.

Tetapi sial, Harun menyukainya.

Sungguh, ini adalah yang pertama bagi mereka.

Sebab selama ini, hanya Harun yang memuaskan keduanya.

Dan Nyala, sedang bersemangat kala ciuman yang mereka labuhkan selepas beberapa hari tak bertemu, rupanya menyebarkan endorphin ke seluruh tubuh. Nyala tahu betul, dirinya merindukan pria itu. Makanya, ia ingin mencipta kenangan baru.

Jadi, ia benar-benar bergerak berdasarkan insting.

Ia genggam bukti gairah itu di tangan. Menyentuhnya pelan-pelan. Membelainya naik turun, demi merasakan hangat yang menyelubungi bentuk gairah di tangannya tersebut. Namun yang buat Nyala semakin berani adalah erangan yang muncul dari bibir seorang Harun Dierja. Bagaimana mungkin, pemimpin partai yang dikenal begitu berwibawa, kini terlihat pasrah dan tak berdaya. Apalagi, ketika Nyala memutar tubuh.

Nyala RahasiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang