Berdiri di hadapan para kadernya, Harun Dierja Aminoto menatap mereka semua dengan serius. Tak ada gurat bercanda di wajahnya, berikut dengan para kadernya. Secara pribadi, Harun telah menyampaikan sendiri pada mereka mengenai rencana pengunduran diri partai terhadap koalisi Indonesia Merdeka. Yaitu, gabungan para partai yang seluruh kadernya diminta untuk mendukung penuh salah satu kandidat Presiden, Irawan Pramoedya. Dan kini, secara resmi ia akan mengumumkan berita itu sekali lagi.
Ia persilakan media meliput jalannya Rapat Umum Luar Biasa yang digelar di gedung utama DPP Nusantara Jaya. Syarat yang ia ajukkan sederhana, awak media harus berada di belakang seluruh kader-kadernya. Tanpa mengajukan pertanyaan, cukup dengan mendengarkan saja apa yang akan keluar dari bibirnya.
Tanpa perlu lagi mengundang para pengurus wilayah dari partai Nusantara Jaya yang tersebar di seluruh Indonesia. Sekarang ini, mereka cukup terhubung melalui teleconference yang sedang berlangsung. Sebab, segala hal telah disepakati. Tak ketinggalan, Harun juga sudah menjelaskan pada para kadernya, ke mana mereka akan berlabuh setelah ini. Hanya saja, mereka butuh jeda.
Benar.
Harus ada jeda sampai kemudian mereka akan merapat pada koalisi yang lain.
Karena itulah, demi meyakinkan para kadernya, Harun memerlukan kecakapan Sanusi Wijaya. Sekjen partainya tersebut, berhasil membuat para kader bergerak dalam satu suara. Ya, mereka semua mendukung keputusannya.
"Saya mendengar beberapa kader kita, terlibat perkelahian di sosial media," Harun sedang menyoroti permasalahan yang ramai di perbincangkan sejak dua hari terakhir. Mengenai beberapa orang selebriti yang merupakan kader dari partainya. Nama-nama tersebut sempat trending di laman X selama dua hari. Perseteruan mereka dengan selebriti lain, mencuri banyak perhatian khalayak. "Pemilu sudah di depan mata. Deru politik semakin memanas setiap harinya. Tapi, hal itu bukan alasan untuk para kader Nusantara Jaya terlibat provokasi di jejaring maya," ia lantunkan kalimat dengan penuh ketenangan. "Balas semua dengan bijak. Namun, kalau ternyata emosi merajalela, tinggalkan sosial media. Lakukan hal yang lebih bermanfaat."
Akhirnya, Dewan Kehormatan Partai dapat melaksanakan tugasnya.
Para kader yang terlibat, langsung dipanggil untuk diberi pengarahan kedisiplinan.
"Saya tidak meminta kalian untuk berpura-pura menjadi baik. Saya hanya mengimbau, supaya kita menjadi pribadi yang lebih sabar."
Matanya menyusuri para kader-kader yang duduk di ruangan ini. Sengaja, ia menggelar pertemuan di malam hari, supaya para kadernya yang sibuk, dapat mengusahakan kehadiran. Dan hal tersebut terbukti tepat sasaran. Nyaris seluruh public figure yang menjadi bagian dari Nusantara Jaya, mampir memenuhi panggilannya. Mengenakan outfit bernuansa navy seperti warna kebanggan partai mereka selama ini, meeting room di lantai enam, tampak senada dengan para kader-kadernya.
"Abaikan, komentar-komentar miring yang tertinggal di akun sosmed kalian. Fokuskan perhatian, hanya pada niat kalian yang ingin menjadi bagian dari perubahan bangsa," Harun mengingatkan kembali tujuan yang ingin dicapai oleh kader-kader Nusantara Jaya. "Kita harus mengarahkan pandangan hanya pada satu titik tujuan. Bangsa besar ini, membutuhkan pemikiran-pemikiran bijak kita untuk membuat kebijakan yang dapat menolong orang banyak."
Walau pada penerapannya nanti, akan banyak godaan menghampiri para kadernya yang terlibat di pemerintahan. Namun, setidaknya Harun sudah berkali-kali mengingatkan mereka semua tentang pentingnya bekerja untuk melayani masyarakat.
Well, citra miring para pejabat Negara, tentulah bukan hal baru. Dari Orde Baru, sampai kini, pejabat kerap dinilai sebagai penjahat kerah berdasi. Tetapi mau bagaimana lagi, intriks politik itu banyak sekali. Tak akan ada habisnya dari waktu ke waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Rahasia
RomanceSebagai putra sulung, Harun diberi warisan politik yang membingungkan. Alih-alih bahagia, ia justru menderita sakit kepala tiada habisnya. Partai yang didirikan orangtuanya, menyisakan kader-kader kacau yang minta dibina. Hingga geliat saling sikut...
