Bukan Rangkuti Malik.
Dalang di balik sabotase di malam Rakernas itu adalah Sanusi Wijaya.
Sumpah, Harun sampai tak lagi bisa berkata-kata.
"Sial!"
Tangannya hanya mampu mengepal penuh amarah.
Di mejanya telah terhampar bukti-bukti yang tak lagi mengerucut pada satu nama, melainkan pelaku utama. Sementara di depan matanya, layar macbooknya masih menyala. Memperlihatkan beberapa potongan video dari rekaman panjang cctv yang telah dipangkas anak buahnya. Menyusunnya runut agar ia tak lagi payah dalam mencerna. Mempertontonkan aksi di luar nalar, yang buatnya tercengang.
Tentang sebuah kejahatan yang berjalan begitu mulus.
Mengenai sebuah konspirasi yang terjalin sangat halus.
Berengsek!
Tak ada celah yang tercipta.
Segalanya, benar-benar terencana.
"Bagaimana ceritanya?" Harun bahkan tak tahu harus bertanya apa saking banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang membabat isi kepala. "Astaga," ia menyentuh kening ketika rasa pening tiba-tiba menusuk di pelipisnya. "Jelaskan, semua!" perintahnya sambil menutup mata.
Gila!
Ini semua terdengar sangat gila!
Bagaimana mungkin Sanusi Wijaya pelakunya, di saat semua bukti yang ia miliki sebelumnya mengarah kuat pada Rangkuti Malik yang berada di penjara?
Bahkan pada fakta yang tersembunyi darinya, mengenai mantan sekretarisnya, Gusti Raya yang ternyata merupakan istri siri dari Rangkuti Malik.
Dan kini, setelah ditelusuri lebih detail lagi, semua anak panah itu menunjuk Sanusi Wijaya sebagai biang keladi dari semua masalah. Kemudian, hal itu mematahkan stigma mengenai betapa jahatnya Rangkuti Malik. Karena ternyata, kejahatan Rangkuti Malik tidak ada apa-apanya dibanding kelicikan Sekjen partainya.
Astaga ...
"Beliau ingin mengendalikan Bapak," Putra menjawab tuntutan sang atasan sambil menghela. Ia turunkan ipad di tangan sembari menatap sang atasan dengan sama frustrasinya. Sejak awal, mereka memang dipermainkan. Sedari mula, bukti-bukti itu dibuat sengaja mengarah ke satu nama. "Dan dia berhasil."
Benar.
Kalau dipikir-pikir lagi, Sanusi Wijaya memang berhasil mengendalikannya.
Dari mulai menyetujui Irawan Pramoedya sebagai koalisi, juga kedekatannya dengan Ginta Maharani.
"Lalu, Nyala?"
Mengingat wanita itu malah membuat perasaan Harun berkecamuk tak tentu arah.
"Bukan plan B. Mbak Nyala adalah umpan utama yang memang disiapkan untuk Bapak."
"Sial!"
Harun memijat kepalanya yang terasa pusing luar biasa. Ia sungguh-sungguh ingin muntah. Namun tampaknya, penderitaannya mendengar segala kebenaran tersebut belum selesai. Walau ia sudah membaca sendiri semua temuan yang dirangkum oleh anak buahnya, mengenai insiden yang terjadi di malam Rakernas itu.
"Selebgram yang ditemukan di kamar Bapak adalah kamuflase, dari keberadaan Mbak Nyala yang memang sudah disiapkan untuk Bapak. Kamera-kamera tersembunyi yang dipasang di kamar hotel malam itu, merupakan bagian dari rencana. Seperti yang saya katakan sebelumnya, segala jejak yang ada di malam itu, benar-benar tersamarkan. Sanusi Wijaya ingin membuat Bapak seolah-olah percaya bahwa semua itu adalah ulah Rangkuti Malik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Rahasia
RomanceSebagai putra sulung, Harun diberi warisan politik yang membingungkan. Alih-alih bahagia, ia justru menderita sakit kepala tiada habisnya. Partai yang didirikan orangtuanya, menyisakan kader-kader kacau yang minta dibina. Hingga geliat saling sikut...
