hallo ... sorry yaaa aku tinggal 2 minggu kemaren hihihii
2 minggu kemarin aku lagi umroh, makanya gak bisa lanjut up
nah, skrg kita lanjut yaaa
happy reading ...
Hujan adalah bukti bahwa cinta memang tak pernah mengenal kata letih. Walau kehadirannya hanya sesekali, hujan dengan senang hati mencium bumi. Meresap ke dalam tanah, kemudian menguap menjadi butiran awan. Dan bila tiba mendung menghadang, hujan tak pernah menaruh kecewa dan kemudian memilih jatuh berkali-kali.
Hakikat kecewa itu pasti.
Dan berharap pada manusia, merupakan seni terbaik dalam menyakiti diri sendiri.
Namun Nyala, sedang tak punya pilihan lain.
Nyaris lima tahun setelah kabur dari rumah, nyatanya hidupnya semakin susah. Gajinya sebagai pelayan di rumah makan, tak cukup untuk membiayai hidupnya. Terlebih, pekerjaan tersebut nyaris menguras seluruh tenaga. Ia memang diberi tempat tinggal oleh pemilik rumah makan tersebut. Bersama dua orang pelayan lainnya, mereka menempati satu kamar yang berada di bangunan paling belakang dari rumah si pemilik.
Dan kini, ia sudah tidak tahan.
Karena keluar baik-baik tidak diperbolehkan, maka Nyala nekat kabur. Tak masalah ia kehilangan gajinya yang seminggu ini belum terbayar. Yang penting, ia bisa keluar dari sana. Ia pergi menjelang subuh. Ia berlari dengan satu ransel di punggung yang berisi pakaiannya.
Well, setelah lulus SMA, Nyala memang nekat keluar dari rumah ibunya. Ia pergi dengan merampas uang bulanan yang dikirimkan oleh pesuruh ayah biologisnya. Uang yang selama ini langsung diterima ibunya, kala itu Nyala sendiri yang menerimanya. Dan, ya, ia bertahan dengan uang lima juta di tangan. Mencari kost-kostan juga pekerjaan. Entah sudah berapa pekerjaan yang ia geluti selama nyaris lima tahun ini. Puncaknya, adalah bekerja di rumah makan Ibu Firda. Pelanggannya merupakan buruh pabrik, tukang ojek, juga orang-orang yang bekerja di lingkungan sekitar. Jam kerjanya, layaknya romusa di era penjajah.
Dan akhirnya, Nyala memilih menyerah.
Ia sudah muak melihat segala macam sayuran yang diberi limpahan micin demi mencipta rasa. Belum lagi bila ikan-ikan itu tidak habis. Bisa dicuci, lalu dipanaskan—ah, sudahlah. Nyala malas mengingatnya.
Kembali mengandalkan kenekatan, ia mendatangi rumah megah yang sebelum-sebelumnya hanya berani ia intip dari jauh. Tiga bulan lagi, ia akan berusia 23 tahun, dan ia tidak tahu harus ia apakan hidupnya ini.
Rumah itu berpagar tinggi, di sisi kanannya terdapat pos penjaga. Dari balik pagar, Nyala dapat melihat halaman rumah itu tidak terlalu luas. Namun, bangunan dua lantai tersebut tampak megah dengan arsitektur bergaya klasik modern. Dan Nyala, tidak langsung melapork ke pos penjaga. Sebab, ia tahu ia akan diusir oleh mereka. Makanya, Nyala memilih menunggu di luar dengan batu bata yang tadi ia temukan di jalan.
Sekarang hampir jam delapan pagi.
Ia akan menunggu sampai mobil yang ditumpangi ayah bioligisnya keluar dari sana.
Ia akan menghadangnya dengan bata yang berada di tangan. Jadi, bila mobil tersebut mencoba melewatinya, Nyala akan langsung melemparkan batu tersebut ke kaca mobil itu. Ia tahu, ia tak akan dituntut ganti rugi. Ia juga tak mungkin di penjara. Ia hanya akan dicerca, Nyala sudah kuat mental menghadapinya.
Dan tak berselang lama, sebuah mobil pun akhirnya akan keluar. Nyala berlari tepat di depan gerbang yang mulai terbuka. Ia sudah mengintai cukup lama, dan baru kali ini ia menggunakan keberaniannya untuk bertatap muka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Rahasia
RomansaSebagai putra sulung, Harun diberi warisan politik yang membingungkan. Alih-alih bahagia, ia justru menderita sakit kepala tiada habisnya. Partai yang didirikan orangtuanya, menyisakan kader-kader kacau yang minta dibina. Hingga geliat saling sikut...
