Manusia mengira, seluruh takdir yang bisa diubah. Namun sayangnya, kenyataanlah yang menjadi peran utama dalam semesta. Menggodok manusia-manusia manja supaya paham hakikat rasa tabah. Mengajari luasnya samudera kesabaran. Berharap waktu dapat membimbing jiwa-jiwa keruh agar bertahan menghadapi terpaan kehidupan.
Dan bagi Harun, tak ada waktu tuk berleha-leha.
Setiap detiknya, begitu berharga bila terbuang sia-sia.
Karena itu, sedari pagi, ia sudah tiba di DPP Nusantara Jaya. Memanggil Sanusi Wijaya agar ke ruangannya. Kemudian, mereka pun membicarakan keberlangsungan partai di sana.
Rasanya, bergabung dengan Kusno Aji tidak buruk juga.
Kusno tidak meminta dana kampanye untuk partai. Sebagai gantinya, Kusno meminta Sanusi Wijaya untuk memberikan sumbangan dana kampanye Presiden langsung dari perusahaannya. Yang artinya, kas partai Nusantara Jaya akan aman. Juga, Kusno Aji tak membutuhkan gimmick-gimmick murahan berbalut romansa. Beliau hanya menginginkan Harun mendampinginya.
Baiklah.
Harun tidak akan menolak.
Masalah dengan Irawan Pramoedya akan mereka selesaikan dengan bantuan Kusno Aji.
Oke.
Harun tetap bisa mempertahankan citra politiknya yang bersih.
Bukan berarti ia juga menggilai dipandang suci, tidak seperti itu. Hanya saja, menjabat sebagai ketua umum, ia memang wajib menjadi wajah untuk mewakili partainya.
"Kita harus mengadakan meeting internal dengan elite partai," Harun tampak serius menekuri simulasi yang bisa mereka lakukan untuk pengumuman hengkangnya Nusantara Jaya dari koalisi Indonesia Merdeka. "Jadwalkan pertemuan dengan mereka sore ini," ia menambahkan. "Dan nanti, Pak Sanusi yang akan menjelaskan pada elite partai mengenai alasan yang membuat kita keluar dari koalisi," wajahnya terangkat. Menjadikan Sanusi Wijaya sebagai pusat atensi. "Setelah itu, katakan langsung ke koalisi mana kita akan bergabung."
Karena tugas untuk meyakinkan orang-orang partai adalah tugas Sanusi Wijaya.
Beliau teramat mahir melakukannya.
Dan biasanya, semua akan patuh sesudah mendengar arahan beliau.
Yeah, Harun masih terlalu hijau untuk dipercaya oleh kader senior terhadap keputusan yang akan menjadi kontroversi ini. Makanya, ia mulai menyukai fakta bahwa kini, dirinya dan Sanusi Wijaya berada di pihak yang sama.
"Nanti, setelah kita mendapat dukungan penuh dari para elite partai. Kita akan menggelar rapat internal dengan seluruh perwakilan kader yang tersebar di Indonesia. Gunakan dana dari kas untuk mengakomodasikan kedatangan mereka."
Perintah Harun cukup jelas.
Karena menurutnya, bila mengumumkan perubahan koalisi hanya dari teleconference, kesempatan untuk menjelaskan sangat terbatas. Apalagi, bila terjadi kegaduhan signal. Kadang kala, bahkan sering terjadi kesalahpahaman. Makanya, mereka perlu bertatap muka. Walau kegaduhan akan terdengar jelas, tetapi paling tidak, mereka dapat memberikan penjelasan yang benar-benar masuk akal.
"Dan sebelum kita memutuskan koalisi, kita harus bertemu terlebih dahulu dengan Kusno Aji. Pastikan beliau benar-benar akan pasang badan dan menyambut Nusantara Jaya ketika pengumuman resmi kita berikan."
Sanusi Wijaya menghela.
Ia lepas kacamata dan meletakkannya di meja.
Punggungnya yang tadi sedikit melengkung karena sibuk membaca aturan kebijakan yang kelak akan mereka sampaikan, kini menyandarkan punggung tersebut secara penuh. Kedua tangannya terlipat di dada. Matanya menatap tajam pada Harun Dierja yang tampaknya begitu bersemangat dalam pengunduran diri partai mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Rahasia
RomanceSebagai putra sulung, Harun diberi warisan politik yang membingungkan. Alih-alih bahagia, ia justru menderita sakit kepala tiada habisnya. Partai yang didirikan orangtuanya, menyisakan kader-kader kacau yang minta dibina. Hingga geliat saling sikut...
