Dua Puluh Sembilan

94.4K 7K 511
                                        

Terlihat tenang, bukan berarti selalu senang. Harun hanya berusaha menerima kenyataan tanpa harus membenci keadaan.

Ya, begitulah yang selalu ia terapkan dalam kehidupan.

Harun merupakan sosok yang tampak menghanyutnya dalam ketenangannya di berbagai kesempatan. Pengolahan emosi yang ia miliki sungguh luar biasa. Ia juga mahir bermuka dua. Ia pandai bila hanya bermain peran dalam hal basa-basi semata. Tujuannya, bukan untuk serakah. Melainkan demi kemajuan partainya.

Dan semua itu, ia pelajari dari ibunya.

Benar.

Ibunya.

Dibanding sang ayah, jujur saja Harun lebih mengagumi sang ibu. Impact yang diberikan seorang Dewi Gayatri tidak pernah main-main. Terlalu anggun, namun begitu tegas dalam berpendapat dan berdebat. Tampak santun, tetapi mempunyai pendar mengerikan yang mampu membuat lawan bungkam. Tuturnya yang sopan, kadang-kadang bagai anak panah yang melesat tepat ke jantung lawan. Senyumnya memang menawan, namun juga mematikan. Perempuan jawa itu memiliki aura bidadari, tetapi mampu membuat siapa yang melawannya mati.

Terlalu hiperbolis, ya?

Sungguh, seperti itulah ibunya.

"Dari mana, Mas?"

Adalah tanya yang terlontar dari bibir ibu tiga anak itu begitu melihat putra sulungnya memasuki apartemen. Namun, tak ada senyuman. Wajah senja tersebut begitu datar. Tetapi percayalah, pendar yang mengiringinya menyimpan emosi yang sedang ditahan.

"Kok sendiri?"

Matanya menjangkau ruang kosong di belakang putranya. Tak ada yang mengikuti. Putranya pulang sendiri setelah ia mendapati bukti, bahwa anaknya itu memiliki teman baru yang disembunyikan darinya.

"Belum siap menghadapi Mama?"

Benar.

Harun membenarkan hal tersebut dalam hati.

Ia menghela pelan, seraya melajukan kaki-kaki menapaki apartemennya yang dingin. Mengambil tempat duduk di depan ibunya, mata Harun langsung saja meneliti barang-barang yang berada di atas meja.

Well, satu kantong plastik berlogo apotek telah berada di sana. Lengkap dengan dua kotak susu berukuran besar yang berdiri mencolok di kantung putih tersebut.

Sungguh, Harun tidak akan menyalahkan asistennya.

Namun, yang membuatnya penasaran adalah sebuah amplop cokelat yang telah terbuka. Dan ke sanalah tangannya menuju. Masih dalam diam, ia meraih amplop tersebut dan mengeluarkan isinya dari sana. Tetapi, betapa terkejut begitu mendapati dirinya berada di lembaran-lembaran foto berlatar gelap itu.

"Mas tahu, berapa yang harus Mama bayar untuk membungkam wartawan itu?"

Pasti sangat banyak.

Karena sudah pasti, foto-foto ini akan menjadi berita eksklusif. Sebab, di dalam foto tersebut tak hanya sosok Harun yang tertangkap kamera, melainkan Nyala yang tengah berada di pelukannya.

Astaga ....

"Bisa kasih Mama penjelasan, Mas?"

Harun memilih meletakkan kembali lembaran foto-foto itu. Mencoba membalas tatapan sang ibu, Harun terfokus pada kedua tangan yang saling mengepal erat di atas pangkuan ibunya. Sesuatu yang langsung Harun pahami, bahwa ibunya sedang menahan diri. "Maaf, Ma," tuturnya mengawali pengakuan yang akan ia ungkap. "Aku menikahi gadis di foto itu," jujurnya sambil menatap ke dalam mata sang ibu. "Dan saat ini, dia sedang mengandung."

Ketenangan sang Dewi lenyap.

Emosi yang ia tahan, buyar.

Meraih bungkusan plastik di atas meja, ia lempar benda itu dihadapan putranya. "Anak bodoh!" seruannya terdengar bergetar. Napasnya yang tadi terpantau konstan, kini menderu sesak. Ketenangan palsu itu benar-benar luntur. Bahkan, semenjak ia mendapat laporan bahwa Harun terlihat membawa seorang wanita ke apartemennya, jantung Dewi Gayatri tak pernah tenang. Ia merasa kecolongan. "Bawa perempuan itu ke sini!" tuntutnya menyerang. "Berhenti menyembunyikannya. Dan bawa dia ke sini!"

Nyala RahasiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang