Nyala masih tidak percaya pada apa yang ia alami.
Empat bulan yang lalu, ia hanyalah staf biasa yang selalu membungkuk hormat bila para petinggi partai memasuki gedung utama Nusantara Jaya. Ia terbiasa melempar senyum ramah saat tak sengaja bertemu para kader yang berstatus lebih tinggi derajatnya. Selalu mengalah ketika ia sendiri tidak salah. Lontaran permintaan maaf, kerap menjadi makanan sehari-harinya. Bila ada yang keliru dari caranya menyambut tamu, maka siap-siap saja ia tidak akan pulang tepat waktu.
Namun siapa mengira, malam ini ia justru duduk bersama dengan ketua umum dari partai besar tersebut. Tinggal bersama seorang Harun Dierja dan tidur di ranjang yang sama dengan sang ketua umum yang tersohor namanya. Tak hanya itu, ia juga sedang mengunyah sesendok nasi beserta lauk yang beberapa saat lalu disodorkan orang nomor satu di partai itu padanya. Kemudian, tidak sampai di sana, sendok bekas mulutnya pun ikut hinggap menyuap nasi ke mulut sang ketua umum.
Ya, Tuhan ....
Hanya orang gila yang tak akan menghardiknya bila ia mengisahkan hal ini.
Sebab, orang-orang waras tak mungkin mau mempercayainya.
Benar.
Ini gila.
Dan tak akan ada yang ingin percaya.
Bagaimana mungkin, seorang ketua umum partai Nusantara Jaya menyuapkan makanan kepada staf frontlinernya?
Bagaimana mungkin, Harun Dierja Aminoto yang terbiasa berjumpa orang-orang hebat negeri ini, justru tengah menatap intens staf frontlinernya?
Dunia pasti sedang gila.
Iya, itu pasti.
Duduk di kursi yang saling bersebelahan, namun mereka memilih tuk berhadapan.
"Sudah ngerasa mual?"
Anehnya tidak.
Jadi, Nyala menggeleng.
Senyum yang tidak Nyala perkiraan, mendadak terbit tipis di wajah pria berkacamata tersebut.
"Berarti benar, ya, bayinya butuh effort saya."
Nyala tak mau mengakui, namun hal tersebut benar terjadi.
Nasi yang ada di piring pria itu sudah hampir habis, mereka makan berdua dalam kebisuan yang penuh keintiman. Dalam artian, Nyala harus selalu dibuat menahan napas kala pria itu menatapnya dalam-dalam. Karena Harun Dierja tak sekadar menyuapinya, namun juga memastikan ia mengunyah makanan dengan benar. Dan tiap kali makanan itu ia telan, pria itu akan diam. Sembari memperhatikan bagaimana reaksi makanan tersebut ketika menyentuh lambungnya.
Dan ajaib, tak ada mual seperti yang selama ini Nyala takutkan.
Padahal sebelumnya, ia pernah mencoba memakan nasi ayam sewaktu masih di kostnya. Dan berakhir dengan muntah-muntah sepanjang malam. Hanya dua suap yang dulu ia masukan ke lambung, namun siksaan yang diberikan membuat Nyala dihinggapi trauma.
Lalu di malam berikutnya, ia juga mencoba makan malam dengan menu yang berbeda. Kala itu, ia membeli bakmi ayam untuk makan malamnya. Dan baru beberapa suapan ke dalam mulutnya, Nyala sudah dibuat terbirit-birit menuju kamar mandi.
Dan setelah itu, Nyala memutuskan tidak makan malam.
Tetapi saat ini, situasinya sungguh berbeda. Ia berhasil mengunyah suapan-suapan itu tanpa kepayahan. Tak ada insiden seperti mual dan muntah yang mendera. Perutnya terasa nyaman. Ia mampu menelan semua makanan yang disodorkan padanya.
"Makasih ya, Pak," tutur Nyala tulus. Sekarang, ia tak butuh berangan-angan pergi ke Burj Khalifah agar dapat mengucapkan rasa syukurnya pada lelaki itu. Sebab, apa yang dilakukan oleh sang ketua umum sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa sangat berterima kasih. "Makasih, Pak, karena Bapak harus serepot-repot ini demi memastikan saya bisa makan malam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Rahasia
عاطفيةSebagai putra sulung, Harun diberi warisan politik yang membingungkan. Alih-alih bahagia, ia justru menderita sakit kepala tiada habisnya. Partai yang didirikan orangtuanya, menyisakan kader-kader kacau yang minta dibina. Hingga geliat saling sikut...
