"Lalu apa, jangan buat aku benci diriku sendiri karena kamu pergi dari ku Ra."
"Aku cuma ngerasa kalau aku nggak guna kali ini. Kamu curhat sama aku tapi aku sendiri nggak tau harus kasih saran apa ke kamu. Karena kalaupun aku kasih saran ke kamu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini suasana begitu trenyuh dengan iringan tembang Jenang Gulo mengalun indah dari gamelan malam midodareni. Setelah semua urutan pakem mulai di lakukan minggu lalu maka malam ini adalah malam sakral bagi keluarga calon nganten putri. Pasalnya ia adalah satu satunya perempuan yang di miliki keluarga besar Ki Narto Hadikusumo, seorang dalang kondang yang namanya selalu di kenal.
Di kediaman rumah mereka di penuhi dengan semua gelaran indah dengan ornamen Jawa yang amat kental. Sebuah kelir atau layar pementasan wayang terpampang jelas di latarrumah. Walaupun acara ijab sampai resepsi tidak di gelar di rumah tetapi rangkaian adat pra nikah tetap di gelar di sini. Mengingat keluarganya hidup di lingkungan masyarakat yang kental, maka keluarga ingin semua tetangganya ikut merayakan.
Tamu undangan serta sanak saudara berdatangan dan duduk manis menyaksikan wayang yang akan di gelar semalam suntuk. Ini adalah salah satu impian sang Kakung sebagai tanda cinta untuk cucu perempuannya. Pun beliau sendiri yang turut mengisi alur cerita malam ini. Bersama anak terakhirnya, Edhi Pramono serta cucu laki-lakinya yang sedang menempuh pendidikan di Akademi Militer di datangkan khusus oleh pihak Arya karena keluarga nya bisa memberi dispensasi kepada taruna itu.
Arya dengan batiknya sudah sedari tadi duduk di barisan depan. Wajahnya nampak segar setelah melakukan prosesi siraman siang tadi. Jambang dan brewok yang selalu menjadi oleh-oleh pasca tugas sudah bersih karena di rujak habis oleh Rita satu minggu yang lalu.
Benar, satu minggu yang lalu laki-laki itu baru pulang dan bukannya di sambut hangat oleh keluarga tetapi malah di marahi oleh sang ibu. Ia juga protes kepada suaminya kenapa putranya yang hendak menikah di persulit dengan di kirim ke tugas luar. Kenapa tidak di berikan keringanan saja? Ibu dari tiga anak itu tidak sabar melihat anak keduanya menikah.
Dan mari kita lihat dalam rumah sang kakung yang terdapat Deandra dengan kedua kakaknya. Dua kakak laki-laki yang tidak mau di adakan prosesi langkahan. Karena pada kenyataannya Deandra akan menikah mendahului dua kakak nya, Faishal dan Wildan yang lebih tua darinya. Jauh jauh hari Deandra sudah menyiapkan permintaan dua kakaknya sebagai syarat langkahan namun keduanya juga menolak begitu juga dengan prosesi nya, akhirnya sang Kakung pun memaklumi keputusan keduanya.
"Aku ki sadardiri yen dadi Mas ra gunongokowe Ren. Makaneaku ora njalukopo-oposokokowe. Wong akuwae ora iso ngeiopo-opokokmalahnjaluk. Tapisewalik e, akunjaluktulungdadiobojo sing gemati, setiti lan nurut karo Mas Arya. Akupercoyo Mas Arya iso nuntunkowesaklawas e, mugo-mugokowe karo Mas Arya diparingidalanpadangterus karo Gusti Allah."