Kinn pov
"Kamu menyukai pete?! Kenapa kamu sangat egois kinn! Apa aku melakukan sesuatu yang salah?!" Teriak porsche tepat di depan wajahku.
Apa yang bisa aku katakan? Porsche sudah memata mataiku dari beberapa minggu yang lalu.
Porsche bahkan menemukan lucid dream yang diberikan pete diruanganku. Dan ya.. ada foto ku bersama pete di tengah nya.
Aku mencintai pete.
Aku tidak mau mengelak atau memberi alasan, karna itulah kebenarannya.
"Jawab aku, kinn!" Porsche mendorong bahu ku dengan kepalan tangan nya.
"Maafkan aku, Porsche." Ucap ku sambil menundukan kepalaku.
Porsche pergi, mendorong bahuku dengan bahu nya, cukup keras hingga aku sedikit terdorong kebelakang.
Jika di tanya sejak kapan aku mencintai pete, mungkin itu terjadi ketika aku mengajak nya bekerja sama untuk menyelidiki Porsche dan vegas.
Aku mulai mengenal pete lebih jauh dan perlahan dia menjadi penting bagiku.
Aku mengambil kunci mobil ku lalu pergi keluar. Benda beroda empat ini membawa ku ke taman di pusat kota, sepertinya mobil ini sudah terbiasa kesini.
Aku ingat ketika bermain basket bersama pete disini. Aku juga menggandeng tangan nya.
Dada ku berdetak sangat kencang ketika dia berada di dekatku. Hari itu aku bahkan bisa memeluknya.
Aku berhasil mengambil kunci kamar milik nya dan membuatnya tidur dikamar yang sama dengan ku.
Aku sempat merasakan bibirnya yang manis di malam itu. Setelah hari itu, aku memiliki tidur yang nyenyak.
Dapatkah ku putar waktu untuk kembali ke hari itu?
Ketika aku sedang melamun tentang kenangan bersama pete, semesta berpihak padaku.
Aku bisa melihat pete yang sedang memeluk lutut nya di bangku tengah taman.
Aku menghampiri nya dan menjadi sangat terkejut.
Aku melihat mulut dan hidung pete yang mengeluarkan darah. Pipinya kiri nya juga terlihat lebam.
"Pete?! Apa yang terjadi? Apa kamu dikejar seseorang?"
Aku menyentuh pipinya pelan sambil melihat sekitar. Mencari orang yang mungkin mengejarnya.
"Aku bertengkar dengan vegas." Pete menggenggam tanganku yang ada di pipinya dan menatapku dengan mata yang penuh dengan genangan air didalam nya.
"Apa? Bagaimana bisa? Tunggu disini." Aku langsung lari menuju supermarket terdekat untuk membeli obat luka.
Aku sedikit bingung dan bertanya tanya, apa yang terjadi hingga pete dipukul seperti itu?
Ketika sudah mendapatkan apa yang kupikir dibutuhkan pete, aku kembali ketempat dimana pete berada.
"Aku akan melakukan nya perlahan. Jika ini sakit bilang padaku."
Aku mengobati luka pete. Sedangkan pete diam dengan mata yang terlihat memikirkan banyak hal.
"Kamu bisa membagi semua pikiran mu padaku, pete." Ucapku masih mengobati lukanya.
Pete hanya diam. Aku mencoba membuka mulut ku lagi.
"Kamu tau, aku sangat senang ketika kamu datang dan membantuku untuk melupakan masalahku sejenak ketika dipertemuan waktu itu. Aku harap, aku juga bisa membantumu ketika kesulitan."
