Jealous

1.2K 137 3
                                        

Vegas pov

Aku terbangun karna tangisan venice yang begitu keras. Anak itu tidak bisa tenang walau sehari.

Beberapa hari ini, porsche membuatku bekerja sampai pagi. Aku tidak tau dimana dia dapat semua dokumen itu. Yang hanya membuat ku sakit kepala!

"Pete! Tolong diamkan anak mu! Aku ingin tidur sebentar!" Aku teriak sambil menutup telinga ku dengan bantal.

Tapi tangisan venice tidak berhenti. Aku semakin kesal. Dan bangun untuk menghampiri sumber berisik itu.

"Nop? Dimana pete?" Tanya ku heran karna hanya ada nop dan venice didalam.

Pantas venice terus menangis.

"Khun pete.. sedang keluar. Aku akan coba menenangkan venice di halaman. Khun vegas tidur lah kembali."

Nop berbicara dengan nada yang sedikit takut. Dia juga terlihat buru buru keluar.

"Kemana pete?" Tanya ku menghentikan nya berjalan lebih jauh dariku.

Nop hanya diam sambil melihat sekeliling dengan tidak tenang.

"Nop."

Aku mencoba untuk memperingati dia. Aku tau ada yang tidak beres.

"Khun pete sedang ke keluarga utama. Aku permisi" Kata nop sambil pergi membawa venice yang masih menangis keluar.

Aku sangat marah sekarang. Aku yang bekerja hingga pagi. Ketika tidur anak setan itu menangis hingga membangunkan ku. Dan sekarang pete pergi ke keluarga utama tanpa memberitahu ku.

Aku mengambil ponsel ku yang diletakan di laci samping tempat tidur. Menekan tanda panggilan ke nama pete di kontak ku.

"Pete. Dimana kamu?" Tanya ku datar. Aku mendengar suara yang sangat ramai. Seperti dia ada di pasar.

Pete: "Halo vegas.. aku sedang bersama khun no. Dia menelepon ku karna..."

"Pulang sekarang."

Aku bahkan tidak membiarkan pete menyelesaikan bicara nya dan langsung menutup telpon.

Aku yang tadi sangat mengantuk tiba tiba menjadi segar.

Aku mandi dan merokok di balkon kamar ku.

Tidak lama setelah itu aku melihat pete yang turun dari mobil dengan buru buru. Langsung menghampiri venice yang masih di tenangkan nop.

Dia bahkan belum berhenti menangis sejak tadi. Apa dia tidak lelah?

Setelah habis 1 bungkus rokok, pete masuk ke kamar.

Aku menatap nya. Dan menggerakkan jari telunjuk kedepan dan kebelakang sebagia isyarat agar dia menghampiri ku.

Pete datang dengan ragu. Berdiri di depan ku.

"Darimana?"

"Aku dapat pesan dari khun no, katanya dia sakit. Jadi aku kesana untuk menjenguk nya. Tapi ternyata dia membohongiku. Dia memanggil ku untuk bergabung di pesta perayaan happy ending dari drama yang dia tonton."

Pete berbicara sambil menundukan wajah nya. Tidak berani menatap ku.

"Sepertinya kamu terlalu sering pergi kesana tanpa ijin ku pete."

Aku mencoba membuat nya menatap ku dengan mengangkat dagu nya.

"Itu tidak berbahaya, vegas. Aku juga hati hati membawa mobil. Disana kan juga aman. Kamu mungkin lupa aku juga kepala bodyguard dulu." Pete mencoba membela diri nya.

Aku hanya menatap mata orang yang berada di depanku.

"Maafkan aku." Pete menundukan kepala nya lagi.

It's over.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang