Growing feelings

542 76 8
                                        

Pete pov

Aku menarik nafas ku dan membuang nya secara perlahan untuk mencoba menenangkan diriku.

"Pete, ingat untuk menekan tombol di jam nya jika ada masalah." Nop mengingatkan ku kembali.

Aku sudah dengar ratusan kali kalimat itu.

Aku diijinkan masuk setelah dipastikan tidak ada senjata tajam ataupun pistol di tubuh ku.

Pertemuan ini sangat lah ketat, pengawal pribadi bahkan ponsel tidak diijinkan. Dan aku diharuskan menginap semalam disini.

Kemarin malam,  vegas sudah memberitahu tentang apa yang harus dilakukan.

Vegas bilang aku hanya harus mengobrol lalu minum bersama pengusaha yang ada disini.

Jika ada yang bertanya tentang perusahaan, dia bilang untuk menjawab sesuka ku dan serahkan padanya.

Begitu aku masuk ke ruangan yang ditunjukan oleh pria besar didepan, aku langsung melihat banyak orang dengan jas rapih.

"Khun pete? Sebuah kehormatan anda bisa datang ke sini. Perkenalkan nama ku Ram. Bergabunglah bersama kami."

Seorang pria paruh baya datang menyambut ku dan mendorongku mendekat dengan beberapa orang yang sedang mengobrol disana.

"Sepertinya aku baru melihat mu? Apa nama perusahaan mu?"

Salah satu wanita tua berbicara padaku. Namun, orang tadi, ram, menggantikan ku untuk menjawab.

"Dia pete. Suami vegas. Bukan kah kehormatan bagiku melihat pete ada di acaraku? Haha"

Ram memegang lenganku, dan mengusap nya. Aku di situasi kurang nyaman sekarang.

Apa aku harus menekan jam ini?

"Jadi dia adalah pete? Vegas menolak anak perempuan ku hanya untuk pria seperti ini? Menjijikan."

Salah satu wanita lain membuka mulutnya. Dia menatapku dengan tatapan sinis.

"Itu berarti anak perempuan mu lebih menjijikan daripada aku. Khun ram, aku ingin melihat lihat sebentar."

Aku tersenyum pada wanita itu dan langsung pergi menjauh dari orang orang bermulut bau itu.

Setelah berkeliling, ternyata hanya ada dessert dan minuman berakohol disini.

Aku mengambil satu gelas dan menenggak nya.

"Theerapanyakul sekarang sedang sangat berantakan. Awalnya aku bingung kenapa korn memilih kim sebagai penerusnya, tapi sekarang aku tau. Kinn sangat bodoh, haha."

"Sepertinya phi nya yang gila itu lebih baik daripada kinn, haha."

Aku menguping pembicaraan dua orang pria yang sedang merokok di jendela dekat meja ku.

Khun kinn ada disini? Kenapa aku tidak bisa melihat nya.

Setelah hampir 5 menit mencari khun kinn, akhirnya aku menemukannya.

Khun kinn memakai kaos dalaman berwarna hitam dengan long coat selutut berwarna kuning tua.

Aku juga melihat Khun kinn yang sedang berdiri di jendela paling pojok dalam ruangan ini.

Dia seperti sedang melamun sambil memikirkan sesuatu.

Aku pun berdiri di depan nya untuk menyapa.

"Oh? Pete? Kamu disini?"

Khun kinn menatapku. Ada senyum di bibirnya, namun matanya terlihat sangat lelah.

Aku mengangguk lalu tersenyum padanya.

It's over.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang