Pagi tadi, Raden bertanya melalui pesan singkat, adakah restoran tradisional selain gudeg yang recommended?
Sebenarnya Rubi agak heran dengan pertanyaan itu karena yang orang Jogja kan mereka berdua kenapa jadi bertanya pada dirinya? Tapi ya sudah lah, hitung-hitung 'perbaikan gizi' khas anak kos kalau kedatangan orang tuanya, Rubi menjawab Warung Bu Ageng. Ia sudah sangat merindukan nasi campur paru ketumbar yang harganya sungguh mahal untuk mahasiswi sepertinya.
Dan sekarang, ia sudah berada di dalam taksi online menuju tempat tersebut. Sejujurnya, Rubi lumayan takut bertemu dengan kedua anak Ardiono. Pasalnya, ia hanya pernah berinteraksi dengan satu anak kecil yaitu Radit, anaknya penjaga kos yang berusia delapan belas bulan.
Ia tidak pernah lagi berkunjung ke rumah saudara ibunya sejak merantau ke Jogja. Rubi tahu, ia sudah memiliki banyak keponakan karena sepupu-sepupunya sudah pada menikah. Tapi, ia tidak ingin kembali ke sana hanya untuk sekedar berbasa basi.
Banyak yang mengatakan Rubi adalah kacang lupa pada kulitnya, ia tidak peduli. Ia ingin membangun kehidupannya seorang diri. Toh, dari dulu pun keluarga ibunya tidak pernah benar-benar membiayai hidup dan juga pendidikannya.
"Sudah sampai ya, Mbak." Ujar supir taksi mengagetkan Rubi yang dari tadi melamun.
"Makasih, Pak." Rubi menutup pintu taksi.
Rubi berjalan memasuki Warung Makan Bu Ageng, matanya mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Di sanalah Ardiono dan kedua anaknya sedang duduk.
"Hai, apa kabar?" Dengan jantung berdegup lebih cepat, Rubi berusaha terdengar normal, ramah dan sopan kepada keluarga Bameswara.
Ia memandang satu per satu keluarga kecil yang akan menjadi keluarganya juga.
Sang ayah tetap dingin, tapi kedua anaknya tersenyum ramah dan menyapa. "Hai Tante, Rubi, aku baik." Rubi menebak itu adalah Gayatri atau biasa disapa Mbak Yaya.
Berbeda dengan Gayatri, si kecil Ganendra tidak menjawab pertanyaan malah memberikan pertanyaan. "Tante Rubi kok telat?"
Ardiono? Jangan ditanya, ia hanya menengadahkan kepalanya, memberikan petunjuk dengan kontak mata agar Rubi duduk di depannya dan di sebelah Gayatri.
"Maaf ya tante telat." Jawab Rubi ramah. "Sudah pada pesan?"
"Sudaah!" Jawab Ganendra dengan hebohnya.
Yang membuat Rubi cekikikan. "Ganendra pasti udah tidur siang ya makanya semangat banget?"
Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Iya, kan mau ketemu tante. Habis ini kita ke mana lagi?"
Pertanyaan Ganendra membuat Rubi menolehkan kepala pada Ardiono menunggu jawabannya. "Terserah, Ganen mau ke mana. Ayah antar saja."
"Teman Ganen sudah pernah makan cookies di Dou Cookies. Tapi, Ganen belum coba cookies-nya soalnya kata Yang Uti nggak boleh sering makan manis, nanti giginya bolong."
Rubi tertawa mendengar penjelasannya. Ia melihat Gayatri yang sedari tadi diam saja seperti tidak tertarik.
Menurut artikel yang ia baca, selalu libatkan anak-anak dalam setiap percakapan. Ia juga menonton reality show Korea, Little Forest, bagaimana Lee Seung Gi dan yang lainnya menjaga anak-anak.
Saking ekstranya, LSG mengambil sertifikasi agar bisa merawat mereka dengan baik.
Ya, Rubi juga harus berusaha lebih demi bisa menjadi ibu yang baik di kemudian hari.
"Mbak Yaya sukanya apa?" Tanya Rubi sambil mengelus kepalanya yang dibalut pashmina berwarna hijau muda.
"Es krim." Jawabnya pendek.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Sebentar
RomanceArdiono Bameswara memerintahkan orang kepercayaannya untuk memasang pamflet dengan judul "Dicari Calon Istri dengan IPK Cumlaude." Rubi Albarsya terkejut ketika mengetahui beasiswa yang selama ini ia dapatkan setiap bulan tiba-tiba saja diputus. Ard...