Rubi teringat Laras selama proses melahirkan. Rindunya pada sang mama membuncah. Tidak ada yang ia inginkan selain keberadaan beliau di sisinya. Ia ingin ditenangkan oleh mama. Ia ingin menggenggam tangan Laras sebagai sumber kekuatan. Ia ingin dibisikan kata-kata penuh kesejukan ketika sedang mempertaruhkan hidupnya di ruang bersalin.
Pikiran Rubi sudah melayang ke mana-mana. Ia pikir, dengan mengingat sang mama di antara hidup dan mati menandakan dirinya pun akan pergi untuk selamanya. Ia pikir, malam itu adalah terakhir kalinya melihat orang-orang yang ia sayangi. Ia pikir, malam itu adalah pelukan perpisahan dengan sang suami.
Namun Tuhan masih menginginkannya di dunia ini. Rubi masih bernapas. Ia masih merasakan sejuknya pendingin ruangan. Ia masih bisa menggendong bayi merahnya yang berjenis kelamin perempuan. Anaknya terlahir dengan sehat, selamat dan sempurna. Ia masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk menyusui dan merawatnya.
Gyandra Bameswara memiliki arti, anak perempuan yang dimuliakan dari keluarga Bameswara. Begitulah Rubi dan Ardiono memberinya nama. Sebagai do'a. Sebagai harapan. Tidak ada yang perlu diributkan ketika menetapkan nama tersebut.
"Kenapa Gyan tidur terus sih, Bun?" Ganendra sedang mengamati adiknya dari pinggir boks bayi.
Sudah dua bulan terakhir, begitulah rutinitas Ganendra sepulang sekolah. Ia akan segera mandi dan pergi ke kamar adiknya. Sedangkan Gayatri mengikuti kelas tambahan dan ekstrakulikuler karena sudah kelas dua SMP. Tidak terasa, anak pertamanya sudah remaja.
"Memang waktunya tidur, Mas. Sekarang adek sudah bisa bedain siang sama malam. Harusnya Mas Ganen tidur juga nih. Biar malam bisa belajar."
Ganendra nyengir kuda. Anak tengahnya itu sering sekali ketiduran ketika belajar di malam hari.
"Kalau Mas Ganen kan capek, jadinya tidur siang. Adek mana ada capeknya sih." Ganendra memeluk lengan Rubi. "Bunda, jangan hamil lagi ya. Mas takut bunda kesakitan."
Rubi hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Ganendra memang masih trauma karena sempat melihat Rubi merintih dalam waktu yang lama.
Setelah Gyandra lahir, untungnya Ganendra tidak terlalu cemburu. Hanya terkadang banyak bertanya karena ingin tahu, seperti, bun, kok adek nggak ada burungnya ya?
Anak seumuran Ganendra nyatanya belum paham ada perbedaan bentuk kelamin antara laki-laki dan perempuan. Hal itu juga yang membuat Rubi bertanya pada Ardiono di suatu malam, Ganendra tuh udah sunat belum sih, Mas?
Pertanyaan itu muncul karena seingat Rubi, dulu adik sepupunya bisa tahu bentuk kelamin cewek dan cowok berbeda karena ia akan disunat dan mempertanyakan kenapa adiknya yang perempuan tidak disunat juga. Akhirnya, ia tahu bahwa bentuknya berbeda.
Dan Ardiono dengan entengnya menjawab kalau ia lupa harus mengkhitan Ganendra. Jelas Rubi terkejut bukan kepalang. Bocah itu akan berusia sepuluh tahun! Banyak yang mengatakan kalau semakin dewasa akan semakin sakit dan lama penyembuhannya. Oleh karena itu, mereka berencana untuk mengkhitan Ganendra ketika libur sekolah tiba.
"Assalamu'alaikum." Ardiono memang sengaja ingin pulang cepat selama tiga bulan pertama Rubi baru melahirkan. Bukan cepat sih, lebih tepatnya, kerja hanya setengah hari. Ia ingin terlibat lebih jauh dalam proses merawat Gyandra. "Ke meja makan yuk. Aku bawain Taigersprung. Dimsum sama mie ayam kesukaan bunda sama Mas Ganen."
"Asik!" Ganendra berdiri mendekati Ardiono dan mengambil alih paper bag. "Mas Ganen yang siapin."
Ganendra memang sudah mengetahui di mana letak piring, mangkuk dan alat makan lainnya. Ketika Rubi baru melahirkan, bocah itu dengan sok taunya menyuruh Bu Riswan untuk beristirahat dan dengan sigap, Ganendra menyiapkan makanan untuk beliau tanpa diminta.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Sebentar
RomanceArdiono Bameswara memerintahkan orang kepercayaannya untuk memasang pamflet dengan judul "Dicari Calon Istri dengan IPK Cumlaude." Rubi Albarsya terkejut ketika mengetahui beasiswa yang selama ini ia dapatkan setiap bulan tiba-tiba saja diputus. Ard...