Ganendra menangis ketika mengetahui Ardiono dan Rubi akan berada di Jakarta selama tiga hari. Ia memaksa untuk ikut dan berjanji tidak akan nakal. Bundanya sempat luluh, tapi Ardiono dengan tegas mengatakan tidak.
Pria itu ingin lebih serius menatap masa depannya dengan Rubi.
Betapa baik istrinya ini? Rubi tidak menuntut ingin dicintai, tapi ia selalu memberikan yang terbaik untuk Ardiono dan anak-anak.
Sekarang, giliran dirinya ingin memperhatikan wanita di hadapannya ini.
"Hari pertama, shopping untuk kamu dulu?" Tanya Rubi ketika mereka sedang minum kopi di Lewis and Carroll Grand Indonesia.
Ardiono mengangguk. "Kamu juga shopping ya."
"Belum ada yang saya suka."
"Nanti dibantuin sama Store Assistant aja."
Rubi menggeleng. "Emang bisa?"
Pria itu tersenyum. "Saya kalau belanja dibantu mereka, nggak ngerti yang bagus yang mana soalnya."
"Hmm ada yang saya mau beli di Seibu. Anggun tunangan soalnya Februari nanti. Saya mau datang."
"Datang sendiri?" Ardiono mengernyitkan dahinya.
"Iya."
Ardiono terkekeh mendengar pernyataan istrinya. "Nggak mau ngajak saya?"
"Eh? Maksudnya?" Rubi memasang wajah bingung.
"Kamu kan sudah menikah, datang ke undangan ya sama pasangan, Bi."
Rubi terbahak. "Iya, ya. Lupa. Nggak paham saya tuh. Ya sudah kamu kosongin jadwal kalau begitu."
"Anggun bukannya lebih muda dari kamu?" Tanya Ardiono penasaran. "Dia mau nikah juga?"
"Bisnis keluarganya nggak ada yang nerusin, kakak laki-lakinya nggak mumpuni. Nah ada tangan kanan papanya di kantor yang kerjanya bagus, dikenalin ke Anggun dan ternyata mereka cocok selama kenalan. Ya udah deh." Jelasnya.
Ardiono juga sempat memikirkan hari tuanya. Sebagai pebisnis, tentu ia ingin anak laki-laki yang menjadi penerusnya.
Tapi, mendengar cerita Rubi membuat pikirannya terbuka, anak laki-laki tidak selalu akan seperti ayahnya. Entah sifat, kemampuan dan kecerdasan.
***
"Kamu mau punya anak berapa?" Tanya Ardiono. Pasangan suami istri itu akan menyeberangi jalan dari Grand Indonesia menuju Plaza Indonesia.
Rubi tidak bisa mengulum senyumnya. Ia menggelengkan kepala karena Ardiono menanyakan hal itu di tengah hiruk pikuk jalanan Jakarta. "Harus banget lagi setengah lari begini nanyanya?"
Ardiono tertawa. "Kepikirannya tadi sih waktu lagi nunggu buat nyeberang."
"Hmm saya mau nambah dua. Jadi empat anak. Kalau kamu?"
Suaminya itu tersenyum. "Saya kepikiran nambah satu aja malah. Kamu nggak apa-apa anaknya bakalan empat?"
Rubi mengangguk pasti.
Pendingin mall menerpa wajahnya. Ia baru sadar, Jakarta di malam hari lumayan panas. Apa karena tadi banyak kendaraan yang memadati jalanan menuju dua mall megah ini?
"Saya suka banyak anak. Seru." Rubi menoleh pada Ardiono.
Pria itu mengatupkan bibir sebelum akhirnya berujar. "Hmm, oke. Nanti kita bicarain lagi di hotel ya. Banyak yang ingin saya katakan dan mungkin kamu belum tau tentang saya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Sebentar
RomanceArdiono Bameswara memerintahkan orang kepercayaannya untuk memasang pamflet dengan judul "Dicari Calon Istri dengan IPK Cumlaude." Rubi Albarsya terkejut ketika mengetahui beasiswa yang selama ini ia dapatkan setiap bulan tiba-tiba saja diputus. Ard...