Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar Rubi yang lupa ditutup gorden. Semalam, ia menangis sampai tertidur karena percakapannya dengan Ardiono di mobil. Seperti orang kerasukan, ia mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa mendaftarkan diri untuk menjadi istri pria itu.
Jelas sekali, Rubi mengingkari prinsipnya. Ia sudah berjanji agar tidak mengemis perkara uang pada laki-laki maupun perempuan. Ia lebih baik menghabiskan waktu dan energinya untuk bekerja daripada meminta.
Tapi, kemarin sore berbeda. Ia iri dengan kehidupan Gayatri Bameswara yang nyaman. Terlalu nyaman malah.
Kamar anak itu cantik dengan nuansa pink. Seprai yang wangi. Lemari besar berisi pakaian dari berbagai macam brand. Deretan buku dan boneka memenuhi dinding. Tidak ketinggalan komputer, laptop dan iPad sebagai penunjang pendidikannya.
Gayatri bisa memilih, untuk bermain di kamar seharian atau pergi ke mall kalau bosan.
Rubi Albarsya tidak pernah memiliki hak istimewa seperti itu. Ia tidak memiliki pilihan selain mempertahankan prestasi demi mendapatkan beasiswa.
Ayahnya meninggalkan rumah dan menikahi perempuan berduit yang usianya jauh lebih tua demi mewujudkan impiannya menjadi seorang pengusaha sukses. Pria kurang ajar itu tidak bertanggung jawab sejak Rubi berusia sepuluh tahun.
Sebagai single parent, Laras, ibu Rubi, bekerja demi menghidupi putri satu-satunya. Rubi belum paham tentang rumitnya permasalahan orang dewasa. Ibu hanya menasihati, ketika besar nanti, ia harus berdiri di atas kakinya sendiri.
Hingga suatu hari, satu-satunya tempat Rubi berlindung pergi untuk selama-lamanya. Ia ingat siang itu, bagaimana ia berlari secepat mungkin untuk segera sampai di rumah. Ia marah. Kenapa Tuhan tidak mengizinkannya untuk berada di sisi ibu ketika beliau menghembuskan napas terakhirnya? Ia benci Tuhan. Ia benci takdir hidupnya.
Namun, untuk kali ini saja, ia ingin egois. Ia ingin menikah dengan Ardiono demi memiliki hak istimewa itu. Ia hanya ingin memikirkan pendidikan dan karirnya ke depan. Walaupun artinya, ia akan hidup bersama pria yang tidak dicintainya.
***
"Tapi dia nggak minta maaf gitu udah mata-matain lo pas lagi sama Mas Danu?" Anggun terdengar emosi setelah Rubi selesai bercerita tentang apa yang terjadi dua minggu lalu.
"Biarin aja, Nggun. Yang terpenting sekarang adalah gue nggak usah khawatir tentang uang semester." Rubi menyendok pempek ke mulutnya.
"Gila ya, orang tuh kalau udah punya kuasa bisa banget semena-mena." Anggun makin ngegas. Ia tidak terima temannya diperlakukan seperti itu.
Rubi dan Anggun berada di Pempek Ny. Kamto setelah satu jam setengah menghadiri prospek lapangan pekerjaan untuk lulusan Statistika. Salah seorang alumni yang berkarir di PwC menceritakan pengalamannya bekerja di big four.
Mendadak hal tersebut membuat Rubi sedih. Apakah cita-citanya sudah pupus? Apakah ia akan memakai blazer, heels lima senti dan pergi dari satu meeting ke meeting lainnya untuk menjadi seorang konsultan?
Yang di depan mata saat ini adalah menikah dengan Ardiono Bameswara. Nasibnya selalu seperti ini; she never gets what she wants. Instead, she gets what she deserves. Ia tidak pernah mendapatkan apa yang ia mau. Malah, ia mendapatkan apa yang berhak diterimanya.
"Lagi pula, gue takut kalau pinjem duit lo, Nggun. Takut bayar hutangnya bakal kelamaan. Lo tahu sendiri, banyak candaan nggak enak mengenai hutang. Yang punya hutang biasanya lebih galak lah. Kabur-kaburan kalau ditagih lah." Rubi mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Iya bener juga sih, Bi. Kalau misalnya gaji lo besar dan malah hedon daripada bayar hutang, gue bisa emosi." Anggun setuju dengan ucapan Rubi. "BTW, lo takut nggak sih mau nikah? Karena, Bi, lo hanya akan melangkah maju. Sudah nggak bisa mundur lagi."

KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Sebentar
RomanceArdiono Bameswara memerintahkan orang kepercayaannya untuk memasang pamflet dengan judul "Dicari Calon Istri dengan IPK Cumlaude." Rubi Albarsya terkejut ketika mengetahui beasiswa yang selama ini ia dapatkan setiap bulan tiba-tiba saja diputus. Ard...