19 - Ardiono yang Aneh

7.7K 566 4
                                    

Keluarga Bameswara baru mendarat di Jogja pukul tiga sore dan langsung menuju Godean. Seharusnya mereka berada di Banyuwangi satu hari lagi, tapi Gayatri keracunan makanan.

"Bunda, Mbak Yaya mau langsung tidur." Putrinya terlihat lesu karena terus memuntahkan isi perutnya.

Ganendra ikut tidur bersama kakaknya karena kasihan. Ardiono sudah meminta tolong Rukmini untuk menjaga mereka berdua dan sedang dalam perjalanan ke rumah.

"Kamar kita ada di belakang rumah ini." Pria itu memasuki kamar Ganendra dengan laptop di tangan.

Rubi mengernyit heran. "Terpisah dari rumah?"

"Iya."

Ardiono tuh kenapa sih? Ada masalah hidup apa? Astaghfirullah. Jangan sampai gue menyinggung perasaan dia dan salah ngomong lagi! Omel Rubi dalam hati.

Bagaimana tidak? Mereka harus berjalan kurang lebih lima puluh meter menuju kamar. Kalau kedua anaknya kenapa-kenapa, malah jadi ribet jalan sejauh ini.

Kadang Rubi mau menuduh kalau Ardiono adalah sosok bapak yang abai. Tapi, dirinya menahan diri untuk tidak berprasangka buruk.

Langkah Rubi sudah gontai karena kelelahan dan harus mendorong dua koper size M di tanah yang basah karena hujan.

"Harusnya kamu nggak usah beresin koper anak-anak. Biar besok aja ada Mbak Eni."

Rubi menguap. "Udah terlanjur."

Dari luar, kamar Ardiono mirip penginapan di Bali dengan tembok putih, pintu kayu dan tanaman merambat.

Mungkin karena suaminya lulusan teknik sipil, jadi ia senang melakukan pembangunan sampai hal yang nggak penting sekalipun; kamar di luar rumah.

Mata Rubi jatuh pada kolam renang yang terlihat menyegarkan. Pohon-pohon tertanam di kanan dan kiri.

Membawa dua koper di jalan setapak berlantai kayu ini jelas pekerjaan yang luar biasa. Ardiono? Jangan ditanya. Tangan kirinya membawa oleh-oleh, tangan kanan dengan koper dan tas laptop.

"Selamat datang." Ardiono menoleh ke arah Rubi yang mengikuti suaminya dari belakang.

"Konsepnya bagus." Saat mereka memasuki ruang TV, "tapi kejauhan dari rumah."

Ardiono terkekeh seraya membuka penutup jendela dan membiarkan cahaya masuk.

Walaupun masih bete, Rubi mulai melihat-lihat beberapa ruangan sambil menggeret koper.

Rumah kecil ini bernuansa tropis dengan dominan warna putih, hitam dan coklat muda. Dilengkapi ruang TV, dapur dan kebun belakang. Orang kaya mah bebas ngabisin duit. Pikirnya.

 Pikirnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bukan SebentarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang