27 - Orang Utan

6.2K 502 5
                                    

Mau jalan lagi sama dia kalau punya waktu luang?

Sindiran Ardiono persis seperti mendiang ibu Rubi ketika dulu lagi memarahi dirinya, "ya terus aja lari-larian teruuus sampai jatuh."

Sebenarnya Rubi ingin membalas, "dasar laki-laki tua!"

Tapi, ia urungkan niat tersebut karena setelah bertemu, ia menyadari telah merindukan pria itu. Padahal hanya satu hari mereka tidak bersama.

Ya mau gimana lagi? Namanya juga pengantin baru... Baru sebulan tepatnya.

Mata Rubi tidak berhenti menyusuri wajah Ardiono yang terlihat kacau dengan jambang. Namun begitu, wanita itu tetap mengaguminya karena sang suami semakin terlihat tampan dan berkarisma.

Kapan pria itu tidak tampan sih? Pikir Rubi.

"Rubi, tolong kasih tau saya, bagaimana cara buat kamu bahagia?" Tanya Ardiono.

Rubi disadarkan kembali dari lamunannya. Ah iya, mereka masih berbicara. Ia tidak akan menyebutnya mengobrol, karena mengobrol untuk percakapan santai. Sedangkan dengan Ardiono selalu menegangkan dan kaku. Sampai sekarang saja mereka masih dengan kata panggilan baku, saya.

Tidak pernah terbayangkan oleh Rubi akan menggunakan kata saya ketika sedang berdialog dengan suaminya.

"Bawa saya jalan-jalan." Balas Rubi.

Ardiono mengangguk. "Oke, mau ke mana?"

"Wisata. Lihat orang utan, mumpung lagi di Kalimantan."

Ardiono nampak terkejut. "Nggak lagi bercanda kan kamu?"

Rubi menggelengkan kepala. "Biar kayak Raline Shah, bersahabat sama satwa."

"Ya nggak satwa yang itu juga!" Ujar Ardiono kesal yang malah membuat Rubi tertawa.

"Hahaha, ish kamu mah! Saya tuh penasaran tau." Rubi masih terkekeh. Ia membuat wajah memohon seperti halnya Ganendra ketika sedang dimarahi ayahnya. "Gimana, Mas? Boleh ya liat orang utan? Katanya mau buat saya bahagia?"

Ardiono memejamkan matanya sejenak, seperti sedang memproses cara berpikir sang istri. Lalu ia membukanya dan menyerah. "Bukan bahagia itu yang saya maksudkan. Tapi ya sudah, kalau maunya liat orang utan."

Rubi tidak paham ucapan suaminya. "Maksud kamu bahagia yang mana emangnya?"

Ardiono bangkit dari kursinya membawa piring kotor mereka ke meja kopi. "Nggak jadi."

"Harus jadi dong." Ujar Rubi masih memaksa Ardiono untuk mengatakan yang sejujurnya.

Suaminya balik badan setelah selesai. "Tadi kamu bilang senyuman kamu nggak berseri, nggak keliatan kayak orang yang sudah punya pasangan...."

Belum sempat Ardiono selesai berbicara, Rubi terbahak karena suaminya terlalu serius menanggapi ucapannya yang cenderung asal-asalan. "Oh yang itu."

"Iya yang itu." Ungkapnya yang sekarang sudah berbaring di kasur.

Rubi mengikuti Ardiono, ia duduk bersila di sebelah sang suami. "Itu di Jogja aja kita omongin lagi. Sekarang kan di Kalimantan, jadi saya mau jalan-jalan."

"Saya kerja, bukan untuk ke hutan liat satwa yang dilindungi." Ardiono membuka iPad-nya.

"Hmm benar juga." Rubi tengah berpikir ketika telponnya berdering dan ia bergumam kecil. "Mati gue."

Membuat Ardiono memicingkan matanya. "Apa?"

"Hmm nggak papa. Saya angkat dulu." Rubi kabur ke kamar mandi karena pria yang membuat suaminya cemburu tiba-tiba saja menelpon.

Bukan SebentarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang