Selamat membaca.
Jangan terprovokasi sama judul. 😄
🌚🌝
"Diiiiin."
Dinar yang baru memarkir sepeda mininya menoleh saat mendengar teriakan dari suara yang familiar. Sejenak dia tertegun, lalu histeris sendiri melihat sosok kakaknya berdiri di teras dan sedang merentangkan kedua tangan.
"Maaaaaaassss???" Seketika Dinar berlari meninggalkan sepedanya yang belum terjagang sempurna. Melompat masuk dalam pelukan kakaknya yang selama dua tahun ke belakang tidak pulang ke rumah karena kuliah di negeri orang. Tangisnya pecah, rasa rindu dilampiaskannya tanpa malu menjadi perhatian tetangga yang lewat.
"Kapan pulaang?" Masih dengan isak tangis, dia memandang kakak laki-lakinya. "Mas kok tambah putih?Mana oleh-olehnya?" Tangannya menengadah.
"Halah." Rav tertawa, mengacak-acak puncak kepala adiknya. "Sudah dari minggu lalu, cuma nginep dulu di rumah temen, di Jakarta."
"Penting mana temanmu atau adikmu? Bisa-bisanya gak langsung pulang ke rumah." Dinar protes keras. Selama ini, dia merasa kesepian saat di rumah, setelah kakaknya mengambil beasiswa paska sarjana di luar negeri. Bisa-bisanya setelah dua kali lebaran tidak mudik ke Indonesia, malah memilih menginap dulu di Jakarta. Sungguh terlalu.
"Ya temen-ku lah."
"Gak usah pulang aja sekalian." Dinar melipat kedua tangan sambil merengut. Lalu tangannya bergerak merapikan anak-anak rambutnya yang berantakan karena tiupan angin sore.
Rav tertawa. "Ngambekan. Ayo, Mas kenalin, sama teman Mas." Dia mendorong adiknya ke paviliun. "Temen Mas ganteng, awas kepincut."
"Idih. Sori ya. Seleraku tu Adam, ketua kelasku di sekolah. Anaknya baik, pintar, jago basket pula."
"Halah, bocil." Rav menjitak kepala adiknya. "Belajar yang bener, jangan pacaran. Masih SMP juga."
Dinar makin merengut, mengusap-usap kepalanya sambil terus berjalan. Ketika sampai di ambang pintu paviliun, matanya terperangah. Melihat seseorang yang rebahan di sofa panjang ruang tamu dan sedang asyik bermain ponsel.
"Bas! Kenalin, adikku."
Pria yang dipanggil Bas menoleh, menatap Dinar yang menganga.
Buset, cakep amat.
"Oh hai." Bas menurunkan kaki dan tersenyum tipis. "Dewangga Baskoro, panggil Mas Bas saja."
Cara duduknya saja, cool. Ini sih, si Adam lewat.
Dinar masih menganga lebar. Sampai kakak laki-lakinya dengan tanpa permisi, menaikkan dagu adik perempuannya.
"Mingkem, Din. Takut laler masuk."
"APA SIH MAS?" Sebuah pukulan melayang dengan cukup keras di lengan Rav. Wajah Dinar merona merah karena salah tingkah. Apalagi, ketika melihat Bas tersenyum geli.
"Mas Rav, jahat." Dinar memukul orang yang dipeluknya.
Bas, yang semula terlelap jadi terbangun karena kaget.
"Dinar kangen." Dalam mimpinya Dinar tiba-tiba terisak. Tangannya semakin erat memeluk Bas, seolah pria yang saat ini dipegangnya erat-erat adalah Rav. Kakak yang selama ini menjahilinya, melindunginya, dan menjaganya.
Masih dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Bas mengernyit, memijat pangkal hidungnya lalu saat kesadarannya pulih, dia membelalak kaget dengan apa yang terjadi.
Menyadari kalau sudah menikah, Bas menghela napas besar. Memejamkan mata untuk beberapa saat, lalu menyangga kepalanya. Menatap gadis yang memeluknya dengan erat. Sejak kapan, posisi mereka berhadapan dan berpelukan seperti ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Housemate
RomanceWarning : Adult romance. Kehidupan Dinar Tjakra Wirawan berubah, setelah Ayah dan kakak laki-lakinya meninggal. Impiannya yang ingin menjadi seorang News anchor harus kandas, karena mau tidak mau, dia harus belajar menjadi seorang hotelier, dan me...
