10. Menerjemahkan keinginan

41.2K 4.1K 372
                                        

Ada yang masih melek? 👰‍♀️👰‍♀️👰‍♀️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada yang masih melek?
👰‍♀️👰‍♀️👰‍♀️

"Baik lah baik lah." Dinar akhirnya memilih mengalah. Sebenarnya, tinggal di sini tidak masalah juga. Toh mereka beda kamar. Anggap saja lagi berada di kos yang campuran, dan pria ini adalah teman satu kosan, atau bapak kos sekalian.

"Aku di sini, tapi tetap bayar seratus lima puluh ribu per malam, ya Mas."

Astaga. Bas memutar bola mata. Bukan tanpa alasan dia menahan Dinar di sini, selain ingin mendidik secara langsung, dia juga bisa sekalian mengawasi. Kalau Dinar tinggal di rumah temannya, hanya akan membuat repot waktu dan tempat pertemuan. Meski sepertinya Dinar bukan gadis yang akan bergaul sembarangan, tetap saja dia khawatir. Apalagi, dia tidak tahu seperti apa temannya yang bernama Alana. Apakah akan memberi pengaruh buruk atau tidak.

Ah, ini semua gara-gara Rav yang menitipkan adiknya sebelum meninggal. Dia jadi seperti punya kewajiban dan merasa tak tenang jika tidak mengawasi Dinar.

"Simpan saja duitmu itu."

"Gak! Anggap aja Mas Bas Bapak kos yang punya kos harian. Akan tetapi, aku cuma sanggup sewa kamar, jadi untuk makan, aku-"

"Yang nanggung," sela Bas gemas.

"Serius? Padahal tadi, aku mau tanya warung terdekat dan murah dimana."

Bas menghela napas besar. Berusaha sabar. Mana ngertilah dia warung murah dimana. Melihat wajah pria di depannya yang seperti menahan emosi, Dinar meringis lebar.

"Ng, begini saja." Gadis itu terlihat sedang berpikir keras. Tampak dari dahinya yang mengernyit. Bas heran, apa susahnya sih menurut? Padahal di sini, Dinar hanya perlu anteng, Tidak perlu memikirkan soal tempat tinggal dan makanan. Dekat dengan Grand Royal pula. Tapi baiklah, mari kita dengarkan saja dulu pendapat gadis ini. Bas masih melipat kedua tangan dan menunggu gadis yang duduk di dekat kakinya mengeluarkan uneg-uneg.

"Kita belanja saja, gak usah makan di luar Mas, biar gak ngabisin banyak uang. Meski duit Mas Bas banyak, dan gak bakal habis kalau cuma untuk menampungku, tapi aku cukup tahu diri kok. Aku bisa masak. Dan biarkan aku yang urus soal makanan selama aku di sini."

"Bisa masak?" Bas sampai menaikkan dua alisnya, karena tak percaya.

"Bisa lah."

Menarik. Bas memperhatikan Dinar untuk sesaat. Sikapnya yang luwes saat di dapur dan meladeninya makan siang sebenarnya sudah menunjukkan kalau gadis ini cukup akrab dengan urusan domestik. Sebuah kriteria yang menjadi standar calon mantu idaman Mami.

Bas paham, maksud Mami yang menginginkan menantu luwes urusan rumah, semata-mata bukanlah untuk mengerjakan urusan rumah tangga. Akan tetapi, sebagai orang tua, Mami ingin anak dan cucunya berada di tangan perempuan yang bisa merawat dengan tulus dan penuh perhatian. Yang bisa memastikan kebutuhan gizi dan nutrisi. Yang bisa memiliki banyak waktu untuk fokus pada tumbuh kembang anak dan juga menyenangkan suami.

Housemate Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang