Sebelum berharap, aku kasih tahu saja dulu, kalau enggak ada try out, remidi, ataupun wisuda di sini. 😌
Cuma ngasih, tahu, wkwkwkw.
🍰🍰🍰
Dinar senang akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya. Terbiasa tinggal dengan udara pegunungan yang sejuk, membuatnya seringkali merasa kembung karena setiap hari terpapar AC ketika tinggal di Jakarta.
Selama dua hari dia menginap di rumah Ibunya. Melepaskan rindu juga bercerita banyak hal. Setelah itu, baru pulang ke rumah mereka yang berada di dekat Tjakra House. Bu Siti, salah satu pegawai hotel, yang diberinya amanah untuk merawat rumah itu selama ditinggal ke Jakarta, menyambut mereka dengan senang.
"Wes beres kabeh, Mbak. Resik. Setiap hari Bu Siti saponi. Sprei juga sudah Bu Siti ganti."
Sebelum kunci berpindah tangan saat itu, Dinar memindah peralatan pribadi suaminya ke kamar utama, agar tidak menimbulkan pertanyaan kenapa tidur terpisah. Yah, saat itu masih tidur terpisah, sekarang suaminya kalau malam jadi perangko.
"Matur nuwun, Bu Siti."
Setelah pegawainya pamitan, Dinar bergegas membongkar koper dan membawa pakaian kotor ke belakang. Tangannya melirik jam tangan. Masih banyak waktu untuk mampir ke hotel dan melihat sejauh mana progres renovasi Tjakra House. Hatinya riang sekali, tak sabar melihat secara langsung.
"Din, aku ke kantor dulu ya." Bas menyusulnya ke belakang. "Kantor Grand Royal maksudku." Kalau menyebut kata kantor, Bas harus menegaskan kantor yang mana. Sebab, dia juga memiliki posisi di Tjakra House, kendati kendali pimpinan di tangan istrinya.
"Iya, Mas." Dinar memasukkan sabun, lantas menekan beberapa tombol dan meninggalkan mesin cucinya. "Aku juga mau ke Tjakra House."
"Gak capek?" Bas duduk di stool dapur.
Dinar menggeleng. "Enggak. Aku pengen ketemu orang-orang. Pulangnya, aku mau belanja. Bu Siti gak berani belanja, karena takut gak sesuai selera kita."
"Belanja bareng saja. Nanti aku jemput, kalau urusanku di kantor selesai."
"Boleh." Dinar mengangguk, lalu beranjak ke kamar. Bas mengekornya, karena ada hal yang ingin dia sampaikan. Namun, wajahnya terlihat ragu.
"Ada apa, Mas?" tanya Dinar heran, melihat dahi suaminya mengernyit, seperti sedang mikir sesuatu yang berat. Apalagi, dengan kedua tangan di saku celana dan badannya nyender ke dinding dekat pintu. Seketika perasaan Dinar tidak enak, jangan-jangan ada hubunganya dengan sang paman. "Om Umar?"
Bas menggeleng. Suaranya berdengung seperti tawon. "Ng, itu. Besok.." Tangan kanannya mengusap belakang leher, lalu berdehem. "Besok kan ulang tahunku, Din."
Astaga.
Wajah tegang Dinar berubah jadi cengo. Ternyata, cuma mau mengingatkan soal itu.
"Mau nagih hadiah, tapi takut endingnya beda alam." Bas melanjutkan omongannya dengan hati-hati.
"Maksudnya?"
Bas menjawab dengan gerakan tangan yang mencekik lehernya sendiri.
"Memang gak sakit, sih. Cuma kaget."
Dinar menghela napas besar. Merasa bersalah, karena saat di rumah Om Luki, dia melampiaskan rasa malu dengan mencekik leher suaminya. Ya, meskipun tidak kencang dan tidak sakit, tapi pasti bikin kaget karena sedang lelap-lelapnya, tiba-tiba dibangunkan dengan ekstrim.
"Aku minta maaf." Dinar yang hendak touch up, meletakkan kembali pouch kosmetiknya, dan berjalan mendekati suaminya yang menunggu dengan was-was. Terlihat sekali, kalau pria itu bersikap waspada, antisipasi jika mendapat serangan dadakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Housemate
RomantikWarning : Adult romance. Kehidupan Dinar Tjakra Wirawan berubah, setelah Ayah dan kakak laki-lakinya meninggal. Impiannya yang ingin menjadi seorang News anchor harus kandas, karena mau tidak mau, dia harus belajar menjadi seorang hotelier, dan me...
