Hari H resepsi pernikahan, ballroom utama milik Grand Royal Jakarta tampak ramai. Panitia wedding dengan seragam khas mereka terlihat sibuk mengatur ini dan itu. Bridesmaids, groomsmen, terlihat asyik mengobrol satu sama lain dan mengambil beberapa foto sambil menunggu acara utama dimulai. Begitu juga para tamu undangan yang sudah berdatangan. Musik mengalun dari stage dengan komposer dan penyanyi-penyanyi nasional yang ikut meramaikan perhelatan. Semua tampak ceria, berbanding terbalik dengan suasana di dalam kamar pengantin.
Dinar mual hebat, dan beberapa kali muntah air. Tubuhnya keluar keringat dingin dan rasanya ingin pingsan. Sebenarnya, dia sudah merasa tak enak badan beberapa hari terakhir. Kepalanya sering pusing, mendadak flu, perut kembung dan berbagai keluhan tak enak lainnya. Acapkali Bas mengajak ke dokter, selalu dijawabnya hanya masuk angin biasa. Alih-alih ke dokter, Dinar lebih memilih minum obat generik yang dibeli di Apotik. Sebuah keputusan yang disesalinya, karena saat hari H akhirnya nyaris tumbang.
"Bagaimana ini, Al, Von?" Dinar panik, memegang Alana dan Voni yang menemaninya di kamar pengantin sebelum turun ke ballroom. Ibu dan juga kedua mertuanya sudah di bawah, menyambut para tamu undangan. "Aku gak kuat. Pusing, mual, dan rasanya engep."
"Gue kasih tahu, mertua lo ya?" Voni ikut khawatir. Sementara TIM MUA yang ada di kamar itu juga tak kalah cemas.
"Acara kan gak mungkin dibatalin, Von." Dinar ingin menangis rasanya. Sudah dandan cetar ala princess, masa gak jadi tampil? Tadi pagi, dia berusaha tampak sehat di depan suami dan keluarganya, sekarang, badannya sudah diambang batas.
"Atau panggil Mas Bas?" usul Alana. "Mas Bas di bawah kan?"
"Gue panggilin." Voni bersiap keluar kamar.
"Aku takut nanti malah dimarahin."
"Gak mungkin laaah." Voni geregetan sendiri.
"Soalnya dari kemarin aku nolak mulu kalau diajak ke dokter. Hari H malah jadi gini."
"Kalau dimarahin, dengerin aja. Emang Si Bapak bisa tahan marahin lo? Palingan ngomel lima menit." Voni kembali melangkah.
"Tunggu-tunggu."Alana yang sejak tadi mengamati, tiba-tiba menyadari sesuatu. Bulan lalu, sahabatnya cerita kalau sudah melakukan malam pertama. Bisa jadi, tanda yang dialami Dinar adalah– "Kamu haid terakhir kapan?"
"Terakhir haid—" Dinar tampak mengingat-ingat, lalu matanya melebar. "Masa sih, Al?"
Alana langsung menoleh pada Voni. "Von, dekat hotel ada apotik, tidak?"
"Agak jauh dikit, mau beli testpack?" Voni langsung nyambung.
Alana mengangguk. "Kalau beneran hamil, dia harus hati-hati. Dia juga tidak boleh kecapean, dan harus merubah sepatu yang dipakai." Alana mendadak panik. "Sepatunya ketinggian."
"Masa aku hamil?" Dinar seketika panik.
"Ya bisa saja, kan lo udah punya suami, Ibu Dinar." Voni kian gemas. "Mana lo pernah main di kantor kan?"
"Heh. Sembarangan, gak pernaaaaah."
"Bohong."
Alana dan TIM MUA yang mendengar terbahak meski sejujurnya merasa kasihan melihat Dinar yang kembali ingin muntah.
"Gue turun dulu deh. Ngasih tahu Mas Bas."
"Jangan bilang kalau hamil, kan belum tes. Bisa saja masuk angin." Dinar masih denial, karena tak mau terlalu cepat menyimpulkan.
"Iya-iya." Voni buru-buru keluar. Namun, baru juga membuka pintu, dia kembali mundur karena Jess masuk.
"Ada apa Von?" tanyanya heran, melihat sepupu misannya tampak buru-buru. Jess masuk sambil menggandeng Mona, yang memakai dress tutu ala princess. Rambutnya yang ikal dicepol lucu dan ada mahkota kecil sebagai hiasan, di atas kepalanya yang mungil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Housemate
RomanceWarning : Adult romance. Kehidupan Dinar Tjakra Wirawan berubah, setelah Ayah dan kakak laki-lakinya meninggal. Impiannya yang ingin menjadi seorang News anchor harus kandas, karena mau tidak mau, dia harus belajar menjadi seorang hotelier, dan me...
