Act 41

23K 1.6K 49
                                        

Kepala Sabrina penuh setelah dia bertemu Kinan sore ini. Mereka membicarakan banyak hal termasuk apa yang terjadi pada Naka dulu. Klise, sebenarnya. Naka diselingkuhi. Tapi kecenderungan cowok itu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi adalah sesuatu yang cukup mengkhawatirkan.

Padahal, itu bukan salahnya. Tapi luka yang ditimbulkan bertahan dalam jangka waktu yang lama, turut berakibat pada bagaimana Naka bersikap padanya di awal-awal cowok itu mendekatinya.

Tarik-ulur itu menjadi masa-masa yang melelahkan. Sebentar-sebentar Naka membuatnya merasa begitu dicintai, sebentar-sebentar juga Naka mendorongnya menjauh. Naka begitu egois saat itu. Tapi sekarang semuanya terasa sedikit masuk akal. Ketakutan cowok itu... bisa sedikit dimengerti olehnya.

Naka hanya tidak ingin menyakitinya seperti apa yang pernah cowok itu lakukan pada Kasa.

"Kamu pasti ngerasa aku lagi membicarakan omong kosong ya?" Sabrina ingat bagaimana Kinan menunjukkan raut tidak enakkan setelah dia bercerita panjang lebar tentang Naka. "Memang kedengerannya mustahil tapi it is what it is. Aku nggak mengarang sedikit pun."

"I feel sorry."

"You don't have to." Kinan tersenyum lembut. Apa yang dia ceritakan nyaris sama persis seperti apa yang Naka ceritakan. Hanya saja, jika Naka bercerita secara acak, versi Kinan lebih tersusun dan gampang dimengerti. "Aku tau ini nggak mudah buat kamu tapi aku bilang ini ke kamu supaya kamu tau masalahnya walaupun kedengarannya seperti mengada-ada."

Sabrina menggeleng. Yang seperti ini bukan sesuatu yang asing baginya. Tantenya yang kini menjanda juga dulunya diselingkuhi oleh suaminya. Setiap kali mereka membahas soal ini, Tante Lidya selalu bilang bahwa ini salahnyabahwa dia tidak cukup baik dan gagal menjadi seorang istri padahal selingkuh adalah sikap buruk dari pelaku. Tapi justru korban yang merasa buruk dan disalahkan. Ini tidak adil.

Sabrina merasa ada gumpalan pahit di tenggorokannya. Matanya panas karena terlalu marah. Jadi dia kembali menyelam ke dalam kolam untuk menenangkan dirihingga, dia mendengar namanya dipanggil dengan samar.

Panggilan itu membuat kepalanya menyembul ke permukaan. Rupanya, Naka sudah berdiri di pinggiran kolam dengan kedua tangan yang yang terselip di dalam saku. Sabrina tidak punya pilihan selain menepi.

"Berenang malam-malam apa nggak dingin?" Naka berjongkok dengan Sabrina yang masih bertahan di dalam kolam. Bibir gadis itu sudah bergetar karena dingin jadi Naka menyentuh pipinya untuk menyalurkan hangat. "Naik, gih. Nanti masuk angin."

Sabrina menyambut uluran tangan Naka yang membantunya menaiki tangga. Cowok itu sigap menyelimuti tubuhnya yang berbalut baju renang dengan handuk kering.

"Tau dari mana aku di sini?"

"Tadi aku ke atas tapi kamu nggak ada. Adam bilang kamu lagi berenang," jelas Naka. Harusnya Sabrina tidak perlu heran soal ini. Apa-apa tentangnya belakangan ini selalu dibocorkan oleh Adam. "Tadi ketemu Kinan ya? Dia bilang apa? Aku sama sekali nggak tau dia bakal nemuin kamu. Sori."

"Ngobrol aja. Aku ditraktir makan," jawabnya. Naka memiringkan kepala seolah tidak percaya. Dia yakin Kinan menceritakan sesuatu. "Kapan-kapan kita mau nail art bareng," lanjut Sabrina.

"Kamu suka?"

"Diajak nail art? Bukan ide yang buruk."

"Aku nggak tau Kinan bilang apa sama kamu tapi kamu nggak perlu maksain diri buat terlihat senang seandainya kamu merasa terganggu." Naka berujar sungguh-sungguh tapi Sabrina hanya mengulas senyum. Gadis itu berjalan ke kursi rotan untuk mengambil bathrobe dan memakainya begitu rambutnya tidak lagi meneteskan air.

Agency [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang