18. MEMBERI PENGERTIAN

610 57 50
                                    

Aku sudah terbiasa sakit, tapi saat kamu yang menyakitiku kenapa rasa sakitnya berbeda

Rakhasya Bhumi Ghantara

Mala menarik tangan Rakhasya menuju kursi di pinggiran kolam usai memesan makanan. Resto yang mereka tuju kali ini memang sangatlah romantis jika dikunjungi bersama pasangan.

Banyak lilin-lilin di tengah kolam yang menyala indah, membuat suasana romantis semakin terasa saat melihatnya.

"La, kamu nggak malu kalau ada penggemar kamu lihat?" Rakhasya celingukan.

"Buat apa? Biarkan saja publik tahu hubungan kita."

"Tapi, resikonya nama kamu, La."

Saat Mala ingin menjawab, makanan yang mereka pesan telah datang, "yeay, makanan kita datang. Udah nggak usah di bahas ya, kita makan aja. Aku tahu kamu belum makan dan aku nggak mau kamu sakit."

"Duh, Kakak ini serasi sekali," celetuk si pelayan.

"Terima kasih." Mala tersenyum menanggapi.

Seperginya pelayan itu, Mala berpamit ke toilet pada Rakhasya.

Belum lama Mala pergi, seorang gadis berpakaian pelayan mendekatinya.

"Rasya?" Rakhasya pun menoleh mendengar namanya dipanggil.

"Ilyana?" Rakhasya pun beranjak berdiri.

"Ya Allah, Rasya." Gadis yang dipanggil Ilyana itu serta merta memeluk Rakhasya, membuat nya terkejut.

"Il-Ilyana tolong jangan begini."

"Sya, aku kangen sama kamu." Usai mengurai pelukannya, gadis itu kembali memeluk Rakhasya erat.

"Maaf, Il. Tolong jangan begini."

"Rakha." Mendengar suara di belakangnya, Rakhasya buru-buru melepaskan Ilyana.

"Sayang." Mendengar Rakhasya memanggil gadis cantik di depan mereka dengan sebutan sayang, Ilyana terkesiap, netra nya berkaca-kaca.

"Sya, kamu."

"Siapa dia, Rakha?" Mala terlihat sedikit kesal lalu memeluk pinggang Rakhasya posesif.

"La, kenalin. Ini Ilyana, teman mainku di kampung. Il, ini Mala, calon istriku." Mendengar Rakhasya menyebut dirinya calon istri, seketika Mala tersenyum. Mengulurkan tangan pada Ilyana.

"Hallo."

"Sya, jadi kamu-" Ilyana berlalu pergi tanpa berniat membalas uluran tangan Mala.

"Dia suka sama kamu, Rakha?" Tanya Mala seperginya Ilyana.

Rakhasya mengangguk, "dulunya. Tapi hati tidak bisa di paksa."

Rakhasya menarik kursi tempat duduk Mala. Menarik piring makanan yang sedikit jauh lalu meletakkannya di depan gadis itu.

"Aku punya saingan sekarang," celetuk Mala dengan wajah di tekuk.

"Siapa yang bilang? Kamu sudah menang dari awal, karena aku suka kamu dari kecil." Rakhasya mengacak lembut pucuk kepala Mala.

"Bukannya cinta masa kecil itu cuma cinta monyet?"

DEAR RAKHASYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang