Katakan padaku bagaimana caranya meraihmu di posisi terendahku saat ini. katakan padaku bagaimana cara menunjukkan pada dunia bahwa aku ingin memilikimu meski aku tahu aku tak sebanding denganmu.
Rakhasya Bhumi Ghantara
Bukan aku yang memilihmu, tap...
Mala mengerjapkan pelan netranya, menatap sekeliling untuk memastikan keberadaannya.
"Di mana ini?"
Mala takjub, kamar yang digunakan untuk menempatkan dirinya ini begitu luas, tapi kenapa ia tidak di ikat? Pikirnya.
Puas memandang sekeliling, Mala pun turun pelan-pelan, agar jika ada orang di depan ruangan ini, maka mereka tak curiga.
Di perjalanan
"Pak, tolong maafkan saya." Rakhasya menyesalkan kepergian Mala yang disebabkan olehnya, hingga gadis itu harus dibawa lari oleh orang tak dikenal. Mereka kini berada dalam mobil yang sama untuk mencari Mala.
"Semua sudah terlanjur, Sya." Mendengar jawaban singkat Panji, Rakhasya semakin merasa bersalah.
"Makanya, Le, lain kali kalau ada apa-apa bicara baik-baik." Endang menyahuti.
"Iya, Bu De."
"Kamu bagaimana bisa menjaga Mala kalau apa-apa cemburu begini, Sya." Pak De Beni ikut menimpali dan menyayangkan perbuatan keponakannya itu.
"Iya, Pak De. Rasya mengerti."
Ponsel Panji berdering, "bagaimana, Ken?"
"Oke, baik."
Panji terus mengikuti Kendra yang mobilnya berada di depan.
"Bagaimana, Pak. Apa Mala sudah di temukan?"
Panji hanya mengangguk satu kali sebagai jawaban, membuat nyali Rakhasya benar-benar menciut dibuatnya.
Dua puluh menit berlalu, mereka sampai di depan sebuah rumah megah bernuansa putih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah dengan gerbang tinggi itu terlihat di kelilingi rumput hijau di halaman bagian sampingnya.
Kendra turun dari mobilnya lalu menghampiri ke mobil Panji.
"Om, menurut sharelock nya, Mala ada di sini." Kendra melirik tajam pada Rakhasya yang baru saja turun dari mobil.
"Ini semua gara-gara Lo!" Kendra menjambak baju Rakhasya.
"Hei, kalian bisa diam nggak sih!" Alisia melerai Kendra dan Rakhasya.
"Bu, maafkan saya. Ini salah saya."
"Sudah, Sya. Sebaiknya kita periksa saja ke dalam. Apa benar Mala ada di sana."
Panji berjalan lebih dulu kemudian di ikuti Endang dan Pak Beni yang mulai siaga.
"Gue tahu Lo cemburu sama Gue. Tapi nggak gini caranya," desis Kendra.
"Apa saya punya hak atas itu?" Rakhasya menjawab singkat tanpa ingin menanggapi.
"La, kalaupun kamu bersamanya aku ikhlas. Asalkan kamu selamat untuk saat ini."
Pintu gerbang sepertinya sengaja tak dikunci.Rakhasya memilih mendahului untuk segera memastikan Mala baik-baik saja.