3. AYAM WARNA-WARNI

742 56 28
                                    

Hidupku yang sepi terasa lebih berarti semenjak ada kamu disisiku

Rakhasya memandang sekeliling, mencari keberadaan Mala yang sudah meninggalkannya. Kakinya terus melangkah dengan mata yang sibuk memperhatikan orang-orang yang ada di salon itu.

Dugg!

"Aduh bopo-biyung-emak-bapak." Lelaki itu meringis tatkala kakinya tersandung kursi kosong. Ingin sekali ia mengumpat jika saja tak ingat ucapan pak de nya.

"Jangan suka mengumpat, kalau kualat kakimu di atas kepalamu di bawah."

Rakhasya bergidik ngeri, "emoh ah kualat."

"Rakha! Gue bosan nunggu, Lo." Mala menarik lengan Rakhasya agar lelaki itu mengikutinya.

Mala meminta pemilik salon yang tak lain adalah sahabatnya untuk merubah penampilan Rakhasya sesuai keinginannya.

"Ruri, Lo kasih apa yang Gue bilang tadi." Mala mendekatkan Rakhasya pada lelaki kemayu di depannya. Tampak Rakhasya melirik sekilas dengan wajah tertekan.

"Lanang kok ngene." Batinnya.

"Sesuai permintaan Yey, Mal." menjentikkan jemarinya. Menarik Rakhasya menuju sebuah ruangan.

Lima menit, sepuluh menit, tak terasa sudah hampir setengah jam Mala menunggu. Beruntung keadaan agak sedikit mulai sepi setelah para pengunjung pulang.

"Non."

Mala yang asyik dengan ponselnya berjengkit lalu mengangkat kepala, menatap ke arah sumber suara.

Mala yang asyik dengan ponselnya berjengkit lalu mengangkat kepala, menatap ke arah sumber suara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Gadis cantik itu sekali lagi bungkam melihat perubahan Rakhasya. Kaos warna putih sederhana, serta penampilannya yang dirubah total oleh pemilik Ruri sahabatnya.

Lelaki kemayu yang berdiri di belakang Rakhasya berdehem. Membuyarkan tatapan Mala yang terfokus pada lelaki itu.

"Mal, siapa sih dia? Ganteng banget loh." Bisikan Ruri cukup membuat Mala gugup. Memang tak dipungkiri, kulit putih, wajah tampan, serta pahatan nyaris sempurna Rakhasya tak menampik bahwa lelaki itu pantas disebut dewa yunani meskipun hanya berasal dari kalangan biasa.

"Sopir Gue." Mala menjawab singkat. Mengalihkan tatapannya dari Ruri.

Lelaki itu terbengong, memainkan rambut panjangnya yang di gerai bebas.

"Pantas kok sama, Lo. Kalau dilihat-lihat mirip juga. Eh, Ne orang bilang kalau mirip itu tandanya jodoh."

"Apaan sih, Lo Ri," tukas Mala.

DEAR RAKHASYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang