Chapter 7
Prajurit Terkuat dan Wanita Tak di Undang?
Di sisi lain, setelah berpisah dengan Raia, Aron melangkah menuju kelas di ujung lorong yang membelok kanan. Di ujung lorong itu, terdapat kelas aneh dan mencurigakan, kelas itu terkunci oleh sihir dan diikat oleh rantai. Intuisi sihir Aron merasakan ada hal aneh di dalam sana.
Aron dikaruniai kemampuan spesial dalam mendeteksi keberadaan atau sesuatu hal yang aneh. Hanya dengan menggunakan intuisi sihirnya, ia mampu merasakan sumber keanehan atau keberadaan itu dengan mudah. Itulah mengapa ia menuju ruangan kelas di ujung lorong akhir itu, demi menyelidiki apa yang janggal di dalamnya.
Melalui pusaran sihir biru malam dibawah, Aron memunculkan pedang dari bawah kakinya, meninggi perlahan hingga berada dalam genggamannya. Sebuah pedang indah berkilauan seperti berlian mencuri pandangan.
Bilahnya terbuat dari perak kemilau, seindah salju di pagi hari. Namun, yang paling menawan adalah dua mata pedang itu, seakan sepasang mata yang mampu menatap dengan tatapan tajam.
Gagang pedang berwarna hitam legam, kontras dengan bilah peraknya yang berkilauan. Keanggunan tetap terpancar dari lapisan daun lembut membungkus pangkal gagang. Dari sana, mekar dua untaian warna, hijau zamrud dan ungu, melintasi batas antara gagang dan bilah.
Seperti sulur berdaun, kedua warna itu meliuk indah di kedua sisi bilah. Tiap liukannya tajam namun anggun, serupa tarian ular membelah udara. Keindahan tak tertandinggi, namun menyimpan kekuatan misterius di dalamnya.
Sungguh pedang agung, lahir dari sentuhan tangan-tangan pengrajin terampil. Kemilau dan keindahannya mampu membuat siapa saja terpana.
Aron memanggil pedang itu sebagai Argentum Lunae. Ia menggenggam gagangnya yang nyaman nan lembut, lalu memfokuskan pikirannya hingga sepenuhnya tenang. Tangannya perlahan turun, melepaskan tebasan diagonal di tengah rantai yang membelakangi sihir penghalang di pintu kelas itu.
—SWING!
Suara lembut seolah bukan berasal dari pedang menggema di lorong, membelah dua rantai yang mengunci dan menghapus sihir penghalang di pintu tersebut.
Pedang berkilau nan memukau itu masih tergenggam erat di tangan Aron. Ia melangkah perlahan, mengintip isi ruangan misterius itu dengan waspada. Meski tak merasakan tanda atau energi sihir apa pun melalui intuisinya, Aron justru menginjak jebakan sihir.
Akar-akar berduri berwarna hijau tua mencuat tiba-tiba, mirip dengan yang pernah dikeluarkan Lily. Refleks, Aron melompat mundur sambil melepaskan tebasan horizontal dari Argentum Lunae. Namun hanya berhasil menggores sedikit bagian akar itu, seakan tak mampu memotongnya.
"Penyihir mana yang bisa memunculkan akar gila seperti ini?!" Batin Aron, menyadari dirinya takkan sanggup menahan akar berduri itu terlalu lama.
Dari belakang, muncul sosok pria tua berjanggut coklat muda dengan rambut hitam pendek. Tubuhnya tinggi besar, menandakan prajurit terlatih. Di mulutnya terselip sebatang rokok hijau, mengepulkan asap yang memenuhi lorong.
Pria itu menepuk bahu Aron, menatap pedangnya yang tergenggam kuat. Pandangan mata Aron berubah abu-abu, seakan jiwanya disedot. Ia menyadari pria tua hendak merebut pedangnya.
Gesit, Aron menghindar ke samping kanan saat tangan pria itu mencoba meraih pedangnya. Tatapan tajamnya mengisyaratkan kesiapan untuk menyerang balik. Namun dalam hati, Aron merasakan tekanan kuat hanya dengan tatapan balik sang pria tua.
"Pedang yang bagus... Tapi, sayang penggunanya sangat lemah," ujar si pria sembari membelai janggut panjangnya dengan lembut.
Aron terpancing oleh kata-kata menghina itu. Meski sadar sedang dijebak, emosi seakan mendesaknya untuk menyerang si pria tua, bahkan jika nyawanya jadi taruhannya.
Keheningan mencekam melingkupi lorong itu. Akar berduri yang sempat menyerang telah bersiaga untuk menyambutnya lagi. Di satu sisi, Aron menggenggam erat Argentum Lunae. Di sisi lain, si pria tua berdiri dengan wajah yang dipenuhi kepuasan, seolah sedang bermain-main dengan kehidupan Aron di tangannya.
Sensasi tegang dan mencekam itu menggantung di udara. Akankah Aron berhasil mengendalikan emosinya dan memikirkan strategi yang lebih baik? Atau justru terjebak dalam permainan berbahaya sang pria tua, mengikuti hasrat untuk menyerang dengan kekuatan yang entah berarti atau tidak padanya?
Tidak ada yang tahu, Aron sekarang sedang dilema untuk mengambil keputusan. Dirinya tahu kalau ia melawan maka itu sama saja dengan memeluk kematian itu sendiri, namun hasratnya untuk membunuh seakan tak mau hilang, pikirannya terus berteriak, memerintah Aron untuk menyerang.
Namun, keberuntungan sepertinya berpihak pada Aron. Tercium baru harum, menenangkan pikiran siapa saja yang menghirupnya, bagaikan aroma keberkahan dan kebebasan akan sesuatu. Pikiran Aron yang dikuasai oleh hasrat membunuh sebelumnya hilang seakan tak pernah ada karena efek dari perasaan menghirup bau harum yang datang secara tiba-tiba.
Dari balik tikungan, sesosok wanita cantik melangkah anggun dengan rambut hitam indahnya terikat rapi dalam kuncir kuda. Sepasang mata bulan sabitnya yang berwarna kuning cemerlang seakan mampu menelanjangi jiwa siapa pun yang memandangnya.
Gaun hijau dan coklat berlengan panjang memeluk tubuh ramping wanita itu dengan anggun, sementara stocking hitam membalut kedua kakinya yang jenjang. Setiap langkahnya mengunci lirikan kagum dari para pria.
Wangi harum bunga yang menguar dari tubuhnya bagaikan penawar bagi ketegangan yang melingkupi. Aron dan sang pria tua sejenak terpana, tersihir oleh keanggunan dan keharuman wanita itu. Bahkan akar berduri yang sempat menyerang Aron seakan luruh tertidur.
Wanita anggun itu menghampiri keduanya dengan senyum simpul. Rambut hitamnya yang berkilau dan wajah rupawannya yang memesona seakan mampu meluluhkan hati yang paling keras sekalipun. Kehadirannya menginterupsi Aron dan sang pria secara tak terduga.
"Kita bertemu lagi, mantan prajurit terkuat, Tuan Argon" Suara indah bagaikan harmoni, mengambang di udara layaknya ketenangan yang terbebaskan.
"Keturunan Everbloom, ya? Ternyata masih ada yang hidup... ", Ujar pria tua itu dengan enteng, seakan kalimat yang dilontarkannya itu hanyalah hal biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasíaRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
