Chapter 30 The Ritual of Rebirth

106 13 4
                                        

Chapter 30: The Ritual of Rebirth

Saat Raven muncul di hadapan Raia dan Ignora, aurora merah di langit berubah warna menjadi ungu kehitaman. Udara di sekitar mereka menjadi lebih berat, seolah gravitasi meningkat berkali-kali lipat.

"Sudah waktunya," Raven berkata, suaranya bergema di keheningan padang kristal. "Ritual pembentukan tubuh akan segera dimulai."

Raia dan Ignora saling bertukar pandang. Mereka bisa merasakan kekuatan yang berbeda dari Raven-lebih kuat, lebih stabil, namun juga lebih... hangat?

"Kekuatan ini..." Ignora bergumam, "seperti bukan milikmu sendiri?"

Raven tersenyum tipis. "Memang bukan. Ini adalah pemberian dari seluruh penduduk dunia bawah." Ia mengangkat tangannya, dan lingkaran sihir raksasa berwarna ungu muncul di bawah kaki mereka. "Mereka memberikan energi mereka agar ritual ini bisa terlaksana."

"Tapi kenapa?" Raia bertanya, "Kenapa mereka mau membantu kami?"

"Karena..." Raven terdiam sejenak, "mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan tubuh, kehilangan identitas. Dan mereka tidak ingin ada yang mengalami hal yang sama."

Lingkaran sihir mulai berputar perlahan, simbol-simbol kuno bermunculan di sekitarnya. Kristal-kristal merah di sekitar mereka mulai bersinar, beresonansi dengan energi ritual.

"Sebelum kita mulai," Raven menatap keduanya bergantian, "ada yang perlu kalian ketahui. Ritual ini... tidak pernah dilakukan sebelumnya."

"Apa maksudmu?" Ignora bertanya waspada.

"Selama ini, jiwa yang masuk ke dunia bawah adalah jiwa yang sudah terpisah dari tubuhnya. Tapi kalian..." Raven menunjuk ke arah mereka, "kalian masih memiliki koneksi dengan tubuh asli kalian. Ditambah lagi..." ia menatap Ignora, "kau bukan manusia sepenuhnya."

"Lalu apa risikonya?" Raia bertanya tegas.

"Dalam skenario terburuk..." Raven menarik napas dalam, "jiwa kalian bisa hancur. Tidak ada reinkarnasi, tidak ada kehidupan selanjutnya. Hanya... kehampaan absolut."

Keheningan mencekam menyelimuti mereka. Aurora di langit bergerak semakin liar, mencerminkan energi yang mulai bergejolak.

"Aku tetap akan melakukannya," Raia akhirnya berkata. "Bertaruh besar pada kehidupan atau kehampaan."

Ignora mengangguk. "Aku juga. Lagipula..." ia tersenyum pada Raia, "kita sudah berjanji untuk mencari tahu tentang surga setelah ini, bukan?"

Raven menatap keduanya dengan kagum. Di tengah ancaman kehancuran total, mereka masih bisa tersenyum dan bercanda. Mungkin inilah yang membuat mereka berbeda dari jiwa-jiwa lain yang pernah ia temui.

"Baiklah," Raven mengangkat kedua tangannya. "Mari kita mulai."

Lingkaran sihir berputar semakin cepat. Kristal-kristal merah mulai terangkat dari tanah, melayang di sekitar mereka seperti kunang-kunang raksasa. Aurora di langit turun dalam bentuk spiral, menyelimuti area ritual.

"Dengarlah, wahai jiwa-jiwa yang tersesat," Raven mulai mengucapkan mantra kuno. "Atas nama para pendahulu, atas kekuatan yang dipinjamkan padaku..."

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Retakan-retakan muncul di sekitar lingkaran sihir, mengeluarkan cahaya merah menyala.

"Ada yang salah," Ignora berkata tegang. "Sesuatu... sesuatu datang."

Belum selesai ia berbicara, dari retakan-retakan itu muncul tangan-tangan hitam yang mencoba meraih mereka. Suara-suara berbisik memenuhi udara, membawa pesan-pesan mengerikan.

AstrydiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang