Chapter 44: Nostalgic Feeling
Daun-daun berguguran lembut saat Lily melangkah memasuki hutan yang mengarah ke Kerajaan Elf. Angin sepoi membawa aroma mawar liar, namun insting tajamnya menangkap sesuatu yang lain - aura asing yang mengikutinya sejak tadi.
Langkahnya terhenti. Tanpa menoleh, dia menjentikkan jarinya dengan anggun. Seketika, gelombang energi sihir yang luar biasa dahsyat menyapu area sekitar, membuat pepohonan menari liar dan dedaunan beterbangan seperti badai mini.
Mata hijaunya yang dingin menatap tajam ke belakang, tepat ke arah sosok berjubah hitam yang bersembunyi di antara bayangan pohon.
"Hmm~" sosok itu tertawa renyah, suaranya terdengar melodis namun berbahaya. "Tidak kusangka kau bisa mendeteksiku secepat ini."
Tangan pucat sosok itu terangkat, perlahan menurunkan tudung jubahnya. Rambut ungu panjang berkilau tergerai, membingkai wajah cantik dengan sepasang mata merah yang berkilat jenaka.
"Five Emperors," ucap Lily datar, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. Tidak ada keterkejutan dalam suaranya, hanya analisis dingin yang terlatih.
Wanita itu membungkuk dengan gerakan teatrikal, seringai bermain di bibirnya. "Tepat sekali, Nona Lily yang terhormat." Dia menegakkan tubuhnya, mata merahnya berkilat berbahaya.
"Perkenalkan, namaku Fugue. Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan... Ratu Peri."
Lily memicingkan mata mendengar sebutan itu. Energi sihir berputar di sekelilingnya, siap dilepaskan kapan saja. "Apa maumu?"
"Oh?" Fugue memiringkan kepalanya dengan gaya main-main. "Bukankah tidak sopan langsung menanyakan tujuan tanpa basa-basi terlebih dahulu?"
Dia melangkah maju dengan anggun. "Tapi yah... memang seperti ini kan sifatmu yang terkenal itu - dingin dan arogan."
Lily tetap diam, tapi matanya tak pernah lepas mengawasi setiap gerakan Fugue. Bahkan seekor burung yang terbang di dekat mereka langsung jatuh membeku, korban dari tekanan sihir yang masih menguar dari tubuhnya.
"Baiklah, baiklah," Fugue mengangkat tangannya dalam gestur menyerah yang dibuat-buat. "Aku hanya ingin menyampaikan... pesan dari Yang Mulia Kaisar." Senyumnya melebar, menampakkan kilau berbahaya. "Tentang rencana besar yang akan segera dimulai."
"Pesan?" Lily mendengus angkuh. "Kalau hanya pesan, kenapa harus diantar oleh salah satu Five Emperors?"
"Karena," Fugue mengangkat tangannya dengan gerakan anggun, "pesan ini perlu... demonstrasi kecil."
Dalam sekejap, udara di sekeliling mereka berubah ungu pekat. Tekanan energi sihir Fugue beradu dengan milik Lily, menciptakan pusaran angin yang menghancurkan pepohonan di sekitar.
"Death Symphony," Fugue berbisik. Nada-nada musik mematikan mengalun di udara, membuat tanah retak dan tumbuhan layu seketika.
Lily bahkan tidak bergerak. "Wind Barrier," ucapnya datar. Perisai angin muncul, menyelimuti tubuhnya dan menelan musik kematian Fugue.
"Menarik!" Fugue tertawa riang. "Tapi bagaimana dengan ini?" Dia menjetikkan jarinya. "Phantom Orchestra!"
Ratusan alat musik transparan muncul di udara, masing-masing memancarkan nada yang dapat menghancurkan jiwa. Lily akhirnya mengangkat tangannya.
"Storm Lance," puluhan tombak angin melesat, menghancurkan alat-alat musik hantu. "Kau membuang waktuku."
"Ah, dingin sekali," Fugue menghela napas teatrikal. "Padahal aku ingin bermain lebih lama." Dia menjentikkan jarinya lagi. "Requiem of the Damned!"
Langit menggelap, awan-awan ungu berkumpul membentuk pusaran. Dari dalamnya, sosok-sosok transparan turun - arwah yang terjebak dalam melodi kematian.
Lily menghela napas bosan. "Wind God's Wrath."
Angin tornado menyapu area itu, menghancurkan segala yang disentuhnya. Namun Fugue hanya tersenyum, membiarkan dirinya terhempas beberapa meter ke belakang.
"Sudah cukup," Fugue merapikan rambutnya yang berantakan. "Aku sudah melihat yang ingin kulihat." Dia membungkuk hormat, tapi senyum di wajahnya penuh ejekan. "Sampaikan salamku pada kekasihmu itu. Oh, dan..." matanya berkilat berbahaya, "pertunjukan utama akan segera dimulai."
Sebelum Lily bisa bereaksi, tubuh Fugue memudar menjadi kabut ungu, meninggalkan melodi samar yang menari di udara.
"Pertunjukan utama?" Lily memicingkan mata. Instingnya mengatakan sesuatu yang besar akan segera terjadi. Dia menatap ke arah Kerajaan Elf, tempat di mana Raia berada.
"Dasar pembuat masalah," gumamnya, melanjutkan langkahnya yang tertunda. Angin dingin berhembus, membawa aroma mawar yang kini bercampur dengan melodi kematian yang masih tersisa.
Tepat setelah Fugue hendak menghilang sepenuhnya, tubuh kedua wanita itu mendadak lemas. Tekanan sihir yang luar biasa mengalir dari langit, menusuk hingga ke jiwa mereka.
"Ini..." Fugue yang tadinya setengah transparan kembali memadat, jatuh berlutut. Matanya melebar menatap langit. "Tidak mungkin..."
Lily mendongak, mata hijaunya yang dingin untuk pertama kalinya menampakkan emosi - keterkejutan yang nyata. Di atas sana, Pedang Penghakiman yang ditakuti seluruh ras hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah.
Dan di tengah kehancuran itu, melayang sosok yang sangat dikenalnya. Raia, dengan sayap hitam raksasa membentang memenuhi cakrawala, aura membunuhnya menguar hingga menutupi langit dan rembulan. Tujuh bintang merah berputar di sekelilingnya, memancarkan kekuatan yang membuat udara bergetar.
"Jadi ini..." Fugue tertawa lemah, "kekuatan asli dari Raia Astrydia!"
Lily berdiri tegak meski kakinya gemetar, matanya tak lepas dari sosok Raia. "Akhirnya aku menemukanmu lagi," bisiknya.
"Nona Lily," Fugue bangkit perlahan, senyum misteriusnya kembali meski keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Kurasa sekarang aku mengerti kenapa Yang Mulia sangat tertarik padanya."
Langit semakin gelap, awan-awan hitam berkumpul seperti akan memulai badai dahsyat. Aura Raia semakin pekat, membuat udara terasa berat dan mencekik.
"Kekasihmu itu," Fugue melangkah mundur, tubuhnya mulai memudar lagi menjadi kabut ungu, "akan menjadi bidak yang menarik dalam permainan ini."
"Permainan?" Lily melirik tajam, tapi Fugue sudah menghilang sepenuhnya, meninggalkan tawa samar yang menari bersama angin.
Kemudian, seringai muncul dari wajah Lily karena ia tak menyangka akan mendengar hal konyol dari Five Emperors. "Bidak? Sungguh bodoh... Aku dan dirinya akan menghancurkan kalian dalam waktu dekat."
Di langit, Raia perlahan turun, serpihan-serpihan Pedang Penghakiman jatuh di sekelilingnya seperti hujan cahaya yang meredup. Mata merahnya yang berkilat berbahaya bertemu dengan mata hijau Lily.
"Sudah 87 tahun aku menanti momen ini," ucap Lily, senyum tipis menghias wajahnya.
Raia tersenyum, bukan senyum biasa melainkan senyuman yang benar-benar tulus bak seorang anak yang mendapatkan keinginannya. "Maaf membuatmu menunggu."
Angin dingin berhembus, membawa aroma mawar yang kini bercampur dengan energi kuno. Di kejauhan, guntur menggelegar, menandakan badai besar akan segera dimulai - badai yang akan mengubah takdir dunia selamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
