Chapter 46: The White Dragon
Pagi menyingsing dengan kabut tipis menyelimuti hutan. Raia terbangun lebih dulu, matanya menatap wajah damai Lily yang masih terlelap di sampingnya. Jemarinya perlahan menyusuri rambut putih Lily yang tergerai di bantal.
'Betapa beruntungnya aku', pikirnya.
Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan kekasihnya, Raia bangkit dan berjalan ke arah jendela. Kabut pagi membuat hutan terlihat mistis, seperti lukisan tua yang dihidupkan. Dia menghirup udara segar dalam-dalam, merasakan kekuatan yang mengalir di pembuluh darahnya—kekuatan yang selama ini tertidur.
"Kau bangun terlalu pagi," suara lembut Lily memecah keheningan.
Raia menoleh dan tersenyum. "Maaf, apa aku membangunkanmu?"
Lily menggeleng, bangkit dari tempat tidur dengan anggun. Gaun tidurnya yang putih kontras dengan rambut putihnya yang panjang. "Kau tampak berpikir keras."
"Aku hanya..." Raia menatap ke luar jendela, "merasa aneh berada dalam kedamaian ini, setelah sekian lama."
Lily mendekati Raia, melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya dari belakang. "Kita berhak mendapatkannya," bisiknya, menyandarkan kepala di punggung Raia.
Raia menutup matanya, menikmati kehangatan Lily. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu hari ini," katanya setelah beberapa saat.
"Oh?" Lily mengangkat alisnya penasaran. "Apa itu?"
Raia berbalik, menghadap Lily dengan senyum misterius. "Rahasia. Setelah sarapan."
Mereka menikmati sarapan sederhana dengan teh hangat. Lily bercerita tentang tahun-tahun yang telah berlalu, tentang bagaimana dia selalu kembali ke pondok ini untuk menjaga kenangan mereka tetap hidup. Raia mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tertawa kecil atau menggenggam tangan Lily saat cerita menjadi lebih emosional.
"Kau benar-benar tidak menyerah," Raia menggeleng takjub.
Lily tersenyum tipis. "Cinta membuatmu melakukan hal-hal bodoh."
"Atau hal-hal luar biasa," tambah Raia, mengecup punggung tangan Lily dengan lembut.
Setelah sarapan, Raia mengajak Lily ke padang rumput kecil di belakang pondok. Matahari pagi bersinar cerah, menyingkirkan kabut yang tersisa. Bunga-bunga liar bermekaran di antara rumput, menambah warna pada pemandangan.
"Jadi," Lily memecah keheningan, "apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"
Raia tersenyum, berdiri di tengah padang rumput. "Selama 87 tahun kita terpisah, banyak hal yang berubah," ia mulai berkata, suaranya dalam dan tenang.
Lily memperhatikan dengan seksama ketika tujuh bintang merah mulai muncul dan berputar di sekeliling Raia. Angin lembut bertiup, mengangkat dedaunan kering dalam pusaran kecil.
Udara di depan Raia mulai bergetar, seperti permukaan air yang terusik. Perlahan namun pasti, retakan tipis muncul di ruang kosong, seolah realitas itu sendiri sedang retak.
"Breakdown Nostlagia," bisik Raia, satu tangannya terangkat ke depan.
Retakan di udara melebar, membentuk portal oval yang menampilkan pemandangan dunia lain—langit berwarna ungu pucat dengan aurora hijau kebiruan yang menari-nari, pegunungan kristal yang menjulang tinggi, dan danau-danau kecil berair perak.
"Ini dunia sihirku," jelas Raia, matanya berkilau dengan kebanggaan. "Tempat yang kuciptakan tanpa sengaja, mempresentasikan inti sihirku sendiri."
Lily terpana, mulutnya sedikit terbuka karena takjub. "Ini... luar biasa," dia akhirnya berkata, melangkah mendekati portal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
