Chapter 32 Echoes of the Past

108 11 1
                                        

Chapter 32: Echoes of the Past

Setelah proses pembentukan tubuh Ignora selesai, kini tiba giliran Raia. Raven, dengan wajah serius, mulai membacakan mantra untuk membentuk kembali tubuh Raia.

Namun, sebelum kata-kata yang sakral itu terucap sepenuhnya, dunia bawah bergoncang hebat. Gemuruh yang mengerikan mengguncang tanah, seakan-akan dimensi ini diserang oleh kekuatan yang tak terduga.

Semua makhluk di penjuru dunia bawah panik, berlarian mencari tempat berlindung. Gemuruh itu semakin kuat, dan Raven, sang ratu, tersungkur di lantai, memuntahkan seteguk darah segar. Darahnya mengalir seperti tinta hitam keunguan, menambah kesan suram di sekelilingnya.

Raia menatapnya sejenak, merasakan ketidakberdayaan di mata sang ratu yang biasanya kuat. Dalam situasi genting ini, ia tahu bahwa tindakan cepat diperlukan. Tanpa basa-basi, Raia membuka mulutnya. "Di mana aku harus menaruh kekuatanku agar dunia bawah bisa bertahan?"

Dengan segenap usaha, Raven mengumpulkan kekuatannya. Dari jantungnya, ia memunculkan sebuah bola sihir kecil—bola gelap berwarna hitam keunguan. Di dalamnya terdapat energi sihir dan kehidupan yang terpendam. Meskipun terlihat kecil, energinya sangatlah kuat, namun pada saat itu, ukurannya bahkan lebih kecil dari segenggam tangan.

Raven memandang bola itu dengan penuh harapan, meskipun wajahnya menunjukkan rasa sakit yang mendalam. "Ini... adalah inti dari kekuatanku. Aku tak tahu berapa lama aku bisa bertahan tanpa energi ini," katanya dengan suara bergetar.

Ignora yang berdiri di samping Raia, merasakan ketegangan yang meningkat. "Raia, kau harus mengalirkan energi sihirmu ke dalam bola itu. Dengan begitu, dunia bawah bisa stabil. Namun, risikonya cukup besar. Jika kau tidak bisa mengendalikan kekuatan itu, kau bisa kehilangan jiwamu."

Raia tersenyum. "Tidak ada yang mustahil di hadapanku," Ia melangkah mendekat, merasakan aura bola sihir yang bergetar di hadapannya.

Dengan hati-hati, Raia merentangkan tangannya, mengarahkan energi sihirnya ke arah bola hitam keunguan. Energi itu mengalir dari dalam tubuhnya, membentuk aliran cahaya yang berkilauan saat memasuki bola.

Begitu energi Raia menyentuh bola, cahaya yang dihasilkan bercampur dengan warna hitam keunguan, menciptakan pemandangan yang menakjubkan sekaligus mencekam.

Namun, saat energi sihir Raia mulai mengalir, guncangan di dunia bawah semakin hebat. Retakan-retakan di tanah semakin besar, dan suara gemuruh semakin menggema. Raia bisa merasakan tekanan yang semakin meningkat, seolah dunia ini menolak perubahan yang sedang terjadi.

"Raia, fokus!" teriak Ignora, berusaha mengingatkan. "Jangan biarkan energimu lepas dalam kekacauan ini!"

Dengan konsentrasi penuh, Raia terus mengalirkan energinya. Dalam pikirannya, ia teringat akan semua yang telah terjadi. "Jangan meragukan diriku, Ignora."

Akhirnya, saat energi Raia dan Raven bersatu, bola sihir itu mulai bergetar dengan intensitas yang luar biasa. Ledakan energi memancar keluar, menyebabkan cahaya menyilaukan memenuhi ruangan. Suara dentuman menggema, dan dunia bawah seolah terbelah menjadi dua.

"Ini dia!" teriak Ignora, matanya berkilau penuh harapan. "Kita hampir berhasil!"

Namun, guncangan semakin kuat, dan Raia merasakan tubuhnya mulai melemah. "Raven, aku butuh lebih banyak waktu." serunya, berjuang melawan arus energi yang mengalir deras.

"Jika kau terus bertahan, kau bisa kehilangan jiwamu!" Raven memperingatkan, suaranya penuh kekhawatiran.

Seutas senyuman menghias wajah Raia. "Aku ingin bertaruh pada kekuatanku sendiri," Ia terus berusaha menstabilkan energi yang mengalir, mendorong bola sihir untuk menyerap lebih banyak kekuatan.

AstrydiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang