Chapter 43: The Seventh Seal
Retakan dimensi bermunculan seperti kaca yang pecah, menghancurkan sihir dunia yang Raia ciptakan. Namun di tengah kehancuran itu, sesuatu yang jauh lebih kuat bangkit - segel bintang ketujuh dalam inti sihirnya akhirnya terlepas.
Aura membunuh menguar deras ke langit malam, begitu pekat hingga udara terasa berat. Energi sihir memancar dalam gelombang dahsyat, menghancurkan bebatuan dan menciptakan kawah menganga di sekeliling Raia. Suasana mencekam seperti bencana yang tak terelakkan.
Mata birunya yang tenang kini berubah merah darah, menatap tajam Pedang Penghakiman yang masih melayang di udara. Bilah raksasa itu bergetar, seolah merasakan ancaman dari kekuatan yang baru bangkit.
"Sudah lama sekali aku tak melihatmu," bisik suara familiar di telinga Raia. Suara itu dalam dan kuno, membawa kenangan akan masa yang telah lama berlalu, seperti angin dingin yang membawa aroma kenangan.
Raia tersenyum, kemudian berkata dengan tenang. "Lama tak bicara, Satanael."
Di kedalaman Neraka, di singgasana yang terbuat dari tulang dan api abadi, sosok bertubuh tinggi mengamati kejadian itu melalui cermin asap. Jubah hitamnya menyapu lantai, tanduk panjangnya berkilau dalam cahaya merah. Mata merahnya yang identik dengan Raia menyala dalam kegelapan, memancarkan keinginan untuk melihat kehancuran yang dijanjikan.
Jentikan jarinya memecah keheningan. "Masih dingin seperti biasa," gumamnya, seringai tipis menghiasi wajahnya yang tersembunyi dalam bayangan. "Mari kita lihat, apakah kau masih bisa mempertahankan sikap itu saat menghadapi senjata favorit mereka."
Cermin asap bergetar, menampilkan Raia yang mulai diselimuti aura hitam kemerahan. Di langit, Pedang Penghakiman berdenyut semakin terang, bersiap melancarkan serangan yang dapat memusnahkan sebuah peradaban dalam sekejap.
"Divine Judgment," sebuah suara menggelegar dari pedang raksasa itu, menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan menara kastil yang berdiri megah, membuat debu dan reruntuhan berterbangan.
Raia merentangkan tangannya, membentuk segel rumit di udara. "Hell's Chains."
Portal-portal hitam muncul di langit malam, memancarkan aura kemerahan. Rantai-rantai berduri melesat keluar seperti ular berbisa, melilit Pedang Penghakiman dengan suara mendesis. Namun pedang itu bersinar semakin terang, memutuskan rantai-rantai neraka seolah mereka hanya benang tipis.
"Crimson Eclipse," Raia mengangkat tangan kanannya ke atas. Bulan sabit di langit berubah merah darah, memancarkan cahaya yang membekukan waktu. Untuk sesaat, Pedang Penghakiman melambat.
"Time Fracture," sambungnya tanpa jeda. Retakan-retakan muncul di udara kosong, menciptakan distorsi waktu yang mengacaukan pergerakan pedang suci itu.
Namun senjata dewa itu mengabaikan segala hukum dunia manusia. Dengan satu dentuman, pedang itu menembus distorsi waktu, bergerak semakin dekat ke bumi.
"Shadow Apocalypse," Raia menyeringai. Bayangannya menyebar seperti tinta hitam, membentuk ribuan tombak kegelapan yang melesat ke langit. Setiap tombak membawa kutukan dari kedalaman neraka, menembus langit malam yang gelap.
Pedang Penghakiman berputar, menciptakan perisai cahaya yang menghancurkan tombak-tombak bayangan. Bilahnya yang berkilau mengarah ke bumi, siap menghantam dengan kekuatan penghancur, menciptakan getaran yang membuat tanah bergetar.
"Chains of Damnation," Raia menancapkan tangannya ke tanah. Rantai-rantai hitam bermunculan dari dalam bumi, berpijar dengan api neraka. Mereka melilit pedang suci itu dalam jaring mematikan, menariknya menjauh dari permukaan.
"Blood Moon Rising," langit malam berubah merah pekat. Bulan berdenyut seperti jantung yang hidup, memancarkan energi kuno yang bahkan membuat udara bergetar. Kegelapan dan cahaya bertabrakan, menciptakan pemandangan yang menakjubkan dan menakutkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
