Chapter 42: Nature of Life
Raia mengangkat tubuh Vera yang mulai berubah menjadi serpihan cahaya. Dalam pelukannya, gadis itu terasa seringan bulu, seolah kehidupan perlahan menguap dari raganya. Kilau keemasan memancar lembut dari kulitnya yang semakin transparan, seperti kunang-kunang yang hendak terbang ke langit malam.
Melihat wajah damai Vera, membuat Raia tersenyum tanpa sadar. Untuk pertama kalinya ia menyaksikan seseorang yang berkoban secara sukarela meski harus membawa kebohongan di pundaknya sampai akhir.
"Kau telah melakukan sesuatu yang luar biasa," bisik Raia, untuk pertama kalinya membiarkan emosinya terlihat jelas. "Pak tua elf akan bangga melihat putrinya hari ini."
Mata Vera yang mulai sayu berbinar mendengar nama ayahnya. Tangannya yang mulai memudar mencoba meraih wajah Raia, meninggalkan sensasi hangat seperti sinar matahari pagi. "Terima kasih... untuk segalanya..."
Raia tersenyum tenang dan berkata dengan lembut di telinga Vera. "Kau telah menunjukkan pengorbanan yang indah, jadi aku akan memberikan hadiah padamu."
Sebelum tubuh Vera sepenuhnya menghilang, Raia memejamkan mata. Lingkaran sihir kuno muncul di bawah kakinya, memancarkan cahaya hijau kebiruan yang belum pernah dilihat siapapun. Simbol-simbol dalam bahasa kuno berpijar, menciptakan pilar cahaya yang menjulang ke langit malam.
"Nature of Life," ucapnya tenang. Suaranya bergema dengan kekuatan yang membuat udara bergetar.
Energi kehidupan mengalir deras dari tubuh Raia seperti air terjun cahaya, meresap ke dalam tubuh Vera. Setiap tetes membawa kenangan - tawa pertamanya saat berhasil menangkis serangan, air matanya saat pertama kali terluka dalam latihan, senyum bangganya saat akhirnya menguasai teknik dasar.
Raia mengayunkan tangannya ke belakang, menciptakan retakan dimensi yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. Serpihan-serpihan jiwa Vera yang telah tercerai berai mulai berkumpul kembali, ditarik oleh kekuatan sihir kuno yang hanya bisa digunakan sekali seumur hidup.
Vera membuka mata perlahan, kebingungan merasakan jiwanya yang kembali utuh. Tubuhnya yang tadinya hampir lenyap kini padat dan hidup, detak jantungnya kuat seperti genderang perang. "Raia... apa yang..."
Raia hanya tersenyum, tidak menjawab. Senyum yang berbeda dari semua senyum yang pernah ia lihat dari semua orang - hangat, tulus, dan sedikit... senang? "Pergilah. Rakyatmu dan orangtuamu menunggu."
"Tapi bagaimana bisa—" Vera mencoba bertanya, matanya masih dipenuhi kebingungan dan takjub.
"Sampaikan pesanku pada Vertigo," potong Raia, masih dengan senyum misterius yang sama. "Katakan padanya: pecahkan segel bintang di inti sihirku."
Vera hendak membanjiri Raia dengan lebih banyak pertanyaan, tapi sesuatu dalam mata birunya yang dalam menghentikannya. Ada kesedihan di sana, tapi juga kepuasan dan... kedamaian?
Raia mendorong Vera lembut ke arah retakan dimensi. "Jalani hidup dengan baik, setelah ini kita tak akan pernah bertemu lagi."
Cahaya menyilaukan menyelimuti Vera. Ketika dia membuka mata, pemandangan yang menyambutnya membuat nafasnya tercekat.
Di hadapannya membentang Hutan Suci Para Leluhur - tempat yang selama ini hanya dia dengar dalam dongeng pengantar tidur.
Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi menembus awan, batang dan daun mereka memancarkan cahaya lembut keperakan.
Sungai-sungai kristal mengalir di antara akar-akar pohon yang bercahaya, airnya jernih memantulkan aurora yang menari di langit malam.
"YANG MULIA!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
