Chapter 38: Five Emperors
"Maaf, Raia. Putriku memang seperti ini," Vertigo tertawa lepas, tangannya yang kekar menepuk pundak Raia. Mata emasnya berkilat penuh nostalgia - seakan melihat bayangan masa lalu dalam sosok temannya yang kini telah berubah. "Tak kusangka kau masih hidup, meski dalam wujud yang berbeda."
Raia menghela napas, menggelengkan kepalanya. "Aku sempat tak percaya kalau dia sungguh putrimu. Sikapnya jauh berbeda darimu," ia melirik ke arah Vera yang masih berdiri dengan anggun namun waspada.
Vera mengamati interaksi antara ayahnya dan orang asing ini dengan dahi berkerut. Tak pernah sebelumnya ia melihat makhluk dari ras lain bisa berbicara seakrab ini dengan sang Emperor. Bahkan para peri tinggi dan raja monster pun selalu menjaga jarak formal. Namun orang ini - tidak, naga ini - berbicara dengan ayahnya seolah mereka teman lama. Rencananya untuk menjadikan Raia sebagai pelayan istana kini hancur berantakan bagai kelopak bunga tertiup badai.
"Tch," gerutunya pelan, suara yang tak luput dari pendengaran tajam sang ayah.
"Ada apa, putriku? Penasaran dengan siapa temanku ini?" Vertigo tersenyum hangat, matanya berbinar jahil. Ia berpaling pada Raia yang berdiri dengan tenang, sisik hitamnya berkilau tertimpa cahaya senja. "Ini putri pertamaku, Vera Lunaris. Kuharap dia tak terlalu merepotkanmu tadi."
Senyum tipis menghias wajah Raia. "Tidak, anakmu justru membantuku tanpa ia sadari." Matanya melirik penuh arti. "Sepertinya dia tahu tentang diriku di masa lalu?"
Vertigo tertawa, merangkul tubuh Raia dan berbisik rendah. "Putriku sangat mengagumimu, Raia. Aku menceritakan bagaimana kau rela mengorbankan segalanya demi kedamaian saat perang besar itu - hingga namamu tercatat dalam sejarah bukan sebagai pahlawan, melainkan penjahat."
Vera merasakan gelombang ketidaknyamanan menyergap. Posisinya sebagai ratu seakan tak berarti di hadapan ikatan tak terlihat antara ayahnya dan Raia. "Ayah," ia bersuara ragu, "apa kau yakin dia tidak memiliki niat jahat?"
Vertigo menoleh, senyum bijak menghias wajahnya. "Tenang saja, Vera. Naga ini adalah orang baik - mungkin yang terbaik yang pernah kukenal."
"Aku tidak menginginkan konflik lebih lanjut," Raia menatap Vera dengan kelembutan yang tak terduga dari sosok yang beberapa saat lalu hampir menghancurkan pasukan elfnya. "Aku datang hanya untuk membantu dan dibantu."
Vera masih ragu, namun keyakinan di mata ayahnya membuat pertahanannya mulai goyah. "Baiklah," ucapnya lebih lembut, "jika kau benar-benar berniat membantu, aku akan mendengarkan."
Diiringi oleh prajurit kerajaan elf yang mengenakan zirah berkilau, Vertigo, Raia, dan Vera melangkah menuju kastil. Setiap langkah mereka disertai penjagaan ketat dari prajurit bersenjata tombak dan pedang, yang berjalan dengan disiplin tinggi.
Suasana di sekeliling mereka begitu tenang, meskipun ada nuansa ketegangan yang masih tersisa akibat pertemuan sebelumnya.
Kelima belas elf yang sebelumnya menyergap Raia menghela napas lega, terlepas dari bayang-bayang kematian yang mengintai mereka. Dalam hati, mereka semua berjanji untuk menjadikan kejadian hari ini sebagai pelajaran berharga.
Mereka bersyukur bisa melihat matahari terbenam di balik pepohonan, sebuah pemandangan yang mungkin tak akan pernah mereka nikmati lagi jika dunia sihir Raia terbentuk sempurna.
Kastil elf menjulang megah di hadapan mereka, menara-menara rampingnya seolah menembus awan, diselimuti sulur-sulur tanaman berpendar yang merambat indah.
Jalan berbatu putih di bawah kaki mereka dihiasi mosaik rumit, memantulkan cahaya senja yang lembut.
“TUAN NAGA!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
