Chapter 47: Destiny in the Sky
Kabut fajar merangkak di antara pepohonan ketika Raia dan Lily melangkah keluar dari pondok mereka. Udara dingin menusuk, membawa aroma embun dan dedaunan basah. Lily mengencangkan ikatan jubah putihnya yang dihiasi sulaman benang emas-motif bunga lily yang rumit menari di sepanjang tepian kain, hasil karya para peri sutra dari Vale of Whispers.
Di sampingnya, Raia mengenakan jubah senada dengan detail bordiran perak yang menggambarkan konstelasi bintang kuno, setiap jahitannya mengandung sihir pelindung yang Lily tanamkan selama berminggu-minggu membuatnya.
Lily berhenti sejenak, matanya menyapu pondok kayu yang telah menjadi saksi bisu penantiannya. Sulur-sulur tanaman merambat menutupi sebagian dinding, sementara jendela-jendela kecilnya memantulkan cahaya keemasan dari lentera yang masih menyala di dalam.
"Memikirkan sesuatu?" Raia menggenggam tangan Lily, merasakan getaran halus dari sihir yang mengalir di pembuluh darah kekasihnya.
"Hanya mengingat," Lily tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Setiap pagi yang kulewati di sini, setiap ramuan yang kubuat, setiap harapan yang kupanjatkan untukmu kembali."
Raia mengeratkan genggamannya. "Dan aku kembali."
"Ya," Lily menyandarkan kepalanya di bahu Raia. "Kau selalu menepati janjimu."
Udara di sekitar mereka tiba-tiba bergetar, diikuti hembusan angin dingin yang membuat dedaunan menari. Blanc muncul dari balik awan, tubuh serpentine-nya yang panjang bergerak dengan keanggunan yang mustahil bagi makhluk seukurannya. Sisik-sisik putihnya berkilau seperti mutiara di bawah cahaya fajar, menciptakan prisma es kecil di udara. Surai keperakannya mengalun bagai sutra tertiup angin, sementara kumis panjangnya-simbol kebijaksanaan yang telah berusia ribuan tahun-bergerak dengan ritme yang seolah mengikuti melodi kuno.
Naga itu melayang turun, tubuhnya yang panjang membentuk spiral longgar di udara sebelum membungkuk dengan anggun. Matanya yang sebiru es abadi menatap kedua penumpangnya dengan kelembutan yang jarang terlihat dari makhluk sekuat dirinya.
"Tunggu," Raia menahan tangan Lily sebelum mereka naik. Dengan gerakan yang nyaris sakral, ia melepas kalung kristal dari lehernya-sebuah kristal biru yang berpendar dengan cahaya dingin, mengandung kekuatan es abadi dari Realm of Eternal Frost. "Untukmu."
Lily menahan napas ketika Raia mengalungkan kristal itu di lehernya. Seketika, kehangatan yang familiar menjalar di kulitnya, kontras dengan dinginnya kristal yang ia rasakan saat pertama menyentuhnya. "Kristal ini..."
"Dari sahabatku di Realm of Eternal Frost," Raia tersenyum, jemarinya membelai lembut kristal yang kini bersandar di dada Lily. "Akan selalu hangat untukmu, tapi dingin bagi yang lain. Seperti cintaku."
"Masih pandai merayu rupanya," Lily tertawa kecil, rona merah mewarnai pipinya yang pucat.
"Hanya untukmu," Raia mengedipkan mata, membuat rona di wajah Lily semakin dalam.
Sebelum naik ke punggung Blanc, Lily berbalik menghadap pondok. Ia mengangkat tangannya, dan cahaya putih keperakan mengalir dari jemarinya seperti air terjun yang bercahaya. Sihir itu membentuk kubah pelindung yang hampir tak terlihat, berkilau samar seperti gelembung sabun raksasa di bawah sinar matahari.
"Sihir pelindung?" Raia mengamati tekstur sihir yang familiar sekaligus asing baginya-Lily telah banyak berkembang selama mereka terpisah.
Lily mengangguk. "Agar tempat ini tetap aman sampai kita kembali. Terlalu banyak kenangan berharga di sini." Ia memejamkan mata sejenak, memperkuat mantranya dengan ingatan-ingatan yang ia simpan tentang tempat ini.
Raia mengulurkan tangannya, membantu Lily naik ke punggung Blanc yang berkilau. Sisik-sisik naga itu terasa hangat dan hidup di bawah telapak kaki mereka, bergetar halus dengan kekuatan yang terkendali. Raia duduk di belakang Lily, lengannya melingkari pinggang kekasihnya dengan protektif.
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
