Chapter 33: Awakening in the Abyss
Raven berdiri di tengah ruangan istana yang megah, mempersiapkan diri untuk memulai ritual pembentukan tubuh Raia. Puluhan bintang biru berkilauan mengelilinginya, seolah-olah mengalir dari langit, menciptakan aurora yang memukau.
Suasana dingin menyebar secara perlahan, menyelimuti ruangan dengan aura magis yang sangat besar. Raven merasakan kekuatan baru mengalir dalam dirinya setelah menyerap sihir bintang.
Dia tersenyum puas, menyadari betapa jauh lebih kuat dirinya setelah menyerap kekuatan asli Raia. "Bagaimana mungkin seorang manusia memiliki sihir sekuat ini?" pikirnya, terpesona dan sekaligus skeptis. "Sangat tidak mungkin."
Dengan setiap kata mantra yang diucapkannya, energi di sekelilingnya semakin intens. Bintang-bintang berkilau, berputar dan menari dalam harmoni magis, mengalir ke tubuh Raia yang terbaring di sampingnya. Raven merasakan kehadiran Raia di dalam dirinya, seolah dua jiwa terjalin dalam satu tujuan. Meski kesepakatan ini tampaknya menguntungkan Raven, ada rasa saling ketergantungan yang tidak bisa diabaikan.
Namun, seiring dengan kekuatan yang mengalir, kenangan mengerikan mulai menghantui pikiran Raven. Dalam bayang-bayang kepalanya, dia melihat sosok pembunuh berdarah dingin—seorang pria yang berdiri tegak di tengah ratusan mayat penyihir di tempat sekte yang telah hancur. Bendera bangau putih berkibar dalam api, menghanguskan semua yang tersisa dari masa lalu.
Mata merahnya yang menakutkan bersinar dalam kegelapan, tanpa belas kasih, tanpa rasa kemanusiaan. Semua mayat tergeletak, terbelah-belah seolah-olah mereka hanya barang yang bisa dibuang. Pemandangan itu sangat mengerikan, membuat Raven merinding. "Apakah itu dia?" tanyanya dalam hati, rasa penasaran tumbuh di dalam dirinya. "Apa yang telah terjadi pada Raia?"
Raven berpikir tentang kekuatan bintang Raia yang kini mengalir dalam dirinya. Jika sihirnya adalah bintang, maka kehancuran yang ditinggalkannya pasti lebih parah. Mengapa semua orang hanya terbelah dan tidak hancur? Ada sesuatu yang lebih dalam, sebuah misteri yang menunggu untuk dipecahkan.
Dia menatap tubuh Raia, berusaha memahami sumber kekuatan yang dimiliki pemuda itu. Di mana kekuatan ini berasal? Bagaimana seorang anak bisa menanggung beban yang begitu besar? Raven merasa terhubung dengan Raia, lebih dari sekadar ritual ini. Dia melihat potensi yang belum sepenuhnya terungkap, dan rasa ingin tahunya semakin mendalam.
Dengan tekad yang baru, Raven memfokuskan pikirannya kembali pada ritual. Ia tidak hanya berusaha membangkitkan kembali Raia, tetapi juga ingin memahami sepenuhnya apa yang membuat pemuda ini begitu kuat. "Aku akan mengungkap semua rahasia ini," ucapnya, suaranya penuh semangat seraya menyeringai.
Tubuh Raia mulai terbentuk, dan saat itu, Raia kembali mendapat kesadarannya. Dengan segenap tenaga, ia berdiri, menatap tubuh barunya yang kini utuh. Senyuman menghias wajahnya.
Ignora mengamati dengan seksama, merasakan gelombang ketidakberdayaan. "Ada sesuatu yang tidak beres," bisiknya, suara penuh ketegangan. Rasa cemas itu menyebar, seperti bayangan gelap yang merayap di dinding istana.
"Raia, masukkan jiwamu ke dalam tubuh barumu," perintah Raven, suaranya tegas namun penuh harapan. Dia tahu bahwa ini adalah saat yang krusial, tetapi ada firasat buruk yang menggelayut di benaknya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Raia tersenyum puas dan melangkah maju, mengarahkan dirinya ke dalam tubuh barunya. Energi besar meluap sekali lagi, menciptakan aura yang sangat kuat, hingga sembilan jenderal iblis yang berjaga-jaga di luar istana terkejut, merasakan tekanan sihir yang luar biasa dasyat.
Namun, saat Raia mulai menyatukan jiwanya, ketegangan di dalam istana semakin meningkat. Dengan setiap detak jantung, tubuh barunya mulai retak, darah mengalir dari celah-celah yang muncul. "Raia! Apa yang terjadi?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
