Raia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia.
500 tahun kemudian, seorang pemud...
Keheningan malam memeluk Kuil Angsa ketika semua penghuninya telah terlelap. Hanya rembulan yang mengintip malu-malu dari balik awan, menerangi koridor-koridor kosong dengan cahaya keperakan. Di sayap utara kuil, Lily tertidur dengan damai, Lysia meringkuk di sampingnya dengan boneka kelinci dalam pelukannya. Di ruangan tetua, Elara dan yang lainnya mendengkur pelan, terbuai mimpi tentang masa lalu dan masa depan.
Namun jauh di bawah permukaan, di ruangan tersembunyi yang hanya bisa diakses oleh satu orang di seluruh kuil, sosok tinggi berdiri sendirian. Raia Astrydia, pimpinan Sekte Angsa, menatap dinding batu yang dipenuhi ukiran kuno. Ruangan itu tidak besar-hanya cukup untuk menampung satu altar batu di tengah dan beberapa rak berisi gulungan-gulungan usang yang diikat dengan tali emas.
Tangan Raia bergerak ke liontin yang tersembunyi di balik jubahnya-sebuah kristal biru yang berpendar lemah dalam kegelapan. Ia melepaskannya dan meletakkan kristal itu dengan hati-hati di tengah altar. Perlahan, kristal mulai melayang, berputar dan memancarkan cahaya biru yang semakin terang hingga menerangi seluruh ruangan.
"Sudah waktunya," bisik Raia, suaranya menggema di dinding-dinding batu. "Aku tidak bisa menunda lebih lama lagi."
Dengan gerakan terlatih, ia membentuk segel-segel tangan rumit-jari-jarinya bergerak dengan kecepatan dan presisi sempurna, membentuk formasi yang tidak pernah diajarkan kepada satupun muridnya. Udara di sekitarnya mulai bergetar, partikel-partikel energi sihir berputar seperti badai kecil yang terkendali.
"Divido Spiritus, Corpus Separatum," Raia mengucapkan mantra kuno, suaranya berubah lebih dalam. "Ego Sum Duo, Et Unum."
Segel terakhir terbentuk, dan cahaya dari kristal meledak memenuhi ruangan. Tubuh Raia terangkat beberapa sentimeter dari lantai, melayang dengan jubah putihnya berkibar lembut. Kemudian, pemandangan menakjubkan sekaligus mengerikan terjadi-tubuh Raia mulai memisah, seperti bayangan yang perlahan memisahkan diri dari pemiliknya.
Proses itu berjalan perlahan dan tampak menyakitkan. Raia menggigit bibirnya hingga berdarah, menahan teriakannya agar tidak terdengar hingga ke permukaan. Keringat dingin membasahi keningnya saat tubuhnya benar-benar terpisah menjadi dua entitas yang identik.
Namun, tidak lama setelah pemisahan itu, perbedaan di antara keduanya mulai terlihat. Sosok pertama tetap dengan rambut putih panjang dan mata biru pucat yang khas-Raia yang dikenal oleh penghuni Kuil Angsa. Namun sosok kedua mengalami perubahan dramatis-rambutnya yang putih perlahan berubah menjadi biru gelap, acak-acakan dan liar, kontras dengan rambut rapi Raia yang pertama. Ketika sosok kedua membuka matanya, bukan biru pucat yang terlihat, melainkan merah menyala seperti darah segar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kedua sosok itu perlahan mendarat kembali di lantai batu, berdiri berhadapan. Raia berambut putih menyentuh tubuhnya sendiri, mengecek setiap detail untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik.