Chapter 26 The Dark Queen's Throne

117 11 0
                                        

Chapter 25

The Dark Queen's Throne

Mayat-mayat terus bertambah. Tumpukan bangkai iblis dan jiwa yang hancur kini setinggi tembok kastil, menciptakan monument kematian yang mengerikan. Namun seolah tak ada habisnya, gelombang demi gelombang pasukan neraka terus berdatangan.

"Mereka seperti serangga," Raia berkata dingin, tangannya mencabik iblis terakhir dari kelompok yang menyerang. Darah hitam mengalir dari jemarinya yang kini lebih mirip cakar. "Tak peduli berapa banyak yang dibunuh, tetap saja bermunculan."

Ignora menyapu area dengan ekornya, membekukan puluhan jiwa sekaligus. "Kau terdengar bosan," naga putih itu mendengus. "Padahal ini baru pemanasan."

Di dalam kastil Raven, di ruang singgasana yang megah...

Dinding-dinding obsidian hitam berkilau mencerminkan api abadi yang menyala di pilar-pilar tinggi. Ornamen-ornamen dari tulang dan logam hitam menghiasi setiap sudut, menciptakan atmosfer mencekam yang bahkan membuat iblis paling berani merinding.

Di atas tahta yang terbuat dari tengkorak dan berlian hitam, duduk sosok wanita dengan kecantikan yang mematikan. Rambut hitamnya yang panjang mengalir seperti sutra gelap, kontras dengan kulitnya yang pucat sempurna. Gaun hitamnya yang elegan dihiasi dengan pola-pola rumit berwarna , bergerak lembut seolah memiliki kehidupannya sendiri.

Matanya yang berwarna ungu gelap menatap tajam pada sosok berlutut di hadapannya—seorang prajurit bertubuh kekar dengan armor obsidian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matanya yang berwarna ungu gelap menatap tajam pada sosok berlutut di hadapannya—seorang prajurit bertubuh kekar dengan armor obsidian. Kepalanya yang terbakar dengan api biru membungkuk dalam-dalam.

"Yang Mulia," suara prajurit itu bergema dalam ruangan. "Dua penyusup telah mencapai gerbang utama. Seekor naga putih dan... seorang jiwa."

Raven yang tadinya tampak bosan, mendadak menegakkan tubuhnya. "Naga putih?" suaranya lembut namun mengandung ancaman. "Ignora?"

"Benar, Yang Mulia. Naga pengkhianat itu telah kembali."

Jemari lentik Raven mencengkeram lengan singgasananya. Retakan halus muncul di permukaan logam hitam itu. "Menarik," bibirnya yang merah membentuk senyum berbahaya. "Akhirnya dia memberanikan diri. Dan kau bilang... ada seorang jiwa bersamanya?"

"Ya, Yang Mulia. Jiwa yang... berbeda. Kekuatannya..." prajurit itu gemetar. "Para Jenderal Neraka sendiri ragu untuk menghadapinya secara langsung."

"Begitu?" Raven bangkit dengan anggun. Energi gelap menguar dari tubuhnya, membuat udara bergetar. "Mereka menunggu kehadiranku?"

"Benar, Yang Mulia. Mereka berdiri di depan gerbang, menantang Anda secara langsung."

Kembali ke gerbang kastil...

Ignora merasakan perubahan dalam diri Raia. Nafsu membunuh yang tadinya meluap-luap kini berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih mengerikan. Bukan lagi sekedar keinginan untuk menghancurkan, tapi manifestasi murni dari eksistensinya sendiri.

AstrydiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang