Chapter 29 Not Everything Can be Solved Alone

91 11 0
                                        

Chapter 29

Not Everything Can be Solved Alone

Tiga hari berlalu sejak pertemuan dengan Raven. Selama Sang Ratu Dunia Bawah memulihkan energinya untuk ritual pembentukan tubuh, Raia dan Ignora menghabiskan waktu menjelajahi berbagai sudut dunia bawah.

"Tempat ini jauh lebih luas dari yang kubayangkan," Raia bergumam sambil memandang hamparan padang kristal merah yang terbentang hingga horizon. Langit hitam di atas mereka dipenuhi aurora merah yang menari tanpa henti.

Ignora mengangguk, sayap naganya yang transparan berkilau ditimpa cahaya aurora. "Yang kau lihat ini hanya sebagian kecil, Raia. Dunia bawah tidak hanya satu."

"Maksudmu?"

"Ada banyak dunia bawah lain," Ignora menjelaskan sambil duduk di atas sebuah kristal besar. "Bahkan aku sendiri tidak tahu jumlah pastinya. Setiap dunia bawah memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda."

"Seperti apa contohnya?" Raia bertanya, matanya menyapu pemandangan asing di sekitar mereka.

"Ada dunia bawah yang seluruhnya terdiri dari lautan api abadi," Ignora mulai menjelaskan. "Ada yang berupa padang es tanpa akhir, ada yang hanya kegelapan pekat tanpa cahaya sedikitpun." Ia berhenti sejenak. "Setidaknya itu yang kudengar dari cerita para pendahulu."

Raia mengambil tempat di samping Ignora, matanya menerawang ke kejauhan. "Kalau dunia bawah ini khusus untuk para penjahat..." ia berhenti sejenak, "bagaimana dengan orang-orang baik? Apakah ada yang disebut surga dunia?"

Pertanyaan itu membuat Ignora tertegun. Ia terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan tenang, "Sejujurnya, aku pun tidak tahu." Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. "Bagaimanapun, aku hanya manusia biasa sepertimu. Pengetahuanku tentang hal-hal seperti ini tidak jauh berbeda darimu."

"Manusia biasa?" Raia mendengus geli. "Kau bisa berubah menjadi naga, Ignora. Itu jauh dari definisi 'biasa' menurutku."

"Ah, itu..." Ignora tertawa kecil. "Aku terlahir sebagai manusia setengah naga. Bisa dibilang... warisan keluarga?"

"Setengah naga?" Raia menggelengkan kepala, pura-pura tidak percaya. "Berikutnya kau akan bilang kalau kau juga setengah phoenix atau semacamnya?"

"Hei!" Ignora memukul pelan bahu Raia. "Aku serius! Kau pikir mudah hidup dengan dua sisi yang bertentangan dalam dirimu?"

"Maksudmu?"

Ignora menghela napas panjang. "Sisi manusiaku menginginkan kehidupan normal, damai, seperti manusia pada umumnya. Tapi sisi nagaku..." ia menatap tangannya yang perlahan berubah bersisik, "selalu haus akan kekuatan, pertarungan, dan dominasi. Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk bisa menyeimbangkan keduanya."

"Maaf," Raia berkata pelan. "Aku tidak bermaksud..."

"Tidak apa-apa," Ignora tersenyum. "Itu masa lalu. Sekarang aku sudah bisa menerima kedua sisi diriku. Justru berkatnya aku bisa bertahan di tempat seperti ini."

"Ya, ya, aku percaya," Raia tersenyum mengejek, mencoba mencairkan suasana. "Seperti aku percaya kalau kristal merah ini sebenarnya adalah permen."

Mereka berdua tertawa, suara tawa mereka bergema di keheningan padang kristal. Sejenak, mereka bisa melupakan situasi serius yang sedang mereka hadapi.

"Tapi serius," Raia kembali ke topik awal setelah tawa mereka mereda. "Kau tidak pernah penasaran? Tentang... apa yang ada di luar sana? Di balik semua dunia bawah ini?"

Ignora menatap aurora yang masih menari di atas mereka. "Tentu saja aku penasaran. Tapi ada hal-hal yang mungkin memang tidak ditakdirkan untuk kita ketahui." Ia menoleh pada Raia. "Atau setidaknya, belum saatnya untuk kita ketahui."

AstrydiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang