Chapter 39: Pedang Penghakiman.
Di tengah hutan yang lebat, terdapat jalan setapak yang berkelok-kelok layaknya ular, dihiasi oleh bunga-bunga liar yang bercahaya lembut dalam kegelapan. Jalan itu mengarah ke suatu tempat misterius yang tersembunyi dari dunia luar. Aura magis yang kuat menguar di sepanjang jalan, menciptakan kabut tipis keperakan yang menari-nari di udara.
Di ujung jalan setapak itu, terdapat sebuah singgasana megah yang terbuat dari tumpukan bunga-bunga indah. Mawar putih, lily lembayung, dan berbagai bunga langka lainnya terjalin membentuk kursi kerajaan yang menakjubkan.
Aroma harum yang memabukkan menguar dari setiap kelopak, menciptakan atmosfer surreal yang memukau siapa pun yang berani mendekat.
Di atas singgasana itu, duduk seorang wanita dengan kecantikan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Lily - sang Ratu Peri, mengenakan gaun hijau zamrud yang tampak hidup, seolah terbuat dari dedaunan dan sulur-sulur yang bergerak lembut. Rambut putihnya yang panjang tergerai indah, berkilau keperakan tertimpa cahaya bulan yang menembus kanopi hutan.
Mahkota bunga di kepalanya bukanlah hiasan biasa. Di tengahnya tertanam sebuah batu permata hijau yang memancarkan energi magis yang luar biasa. Batu itu berpendar lembut, seakan memiliki kehidupannya sendiri, menciptakan aurora hijau yang menari-nari di sekitar sosok Lily.
Matanya yang tajam menyapu area di sekelilingnya, mengamati para peri dan hewan magis yang berlutut dengan penuh ketundukan. Mereka semua merasakan kekuatan absolut yang menguar dari sosok cantik namun mematikan ini - kekuatan yang mampu menghancurkan atau memberi kehidupan sekehendak hatinya.
Seekor griffin - makhluk magis dengan tubuh singa dan kepala elang - melangkah maju dengan kepala tertunduk. Sayapnya yang keemasan bergetar gugup saat ia menyampaikan berita.
"Yang Mulia," suaranya dalam dan penuh hormat. "Kami mendapat kabar dari saudara kami di wilayah timur. Ada sosok berbahaya yang telah memasuki wilayah kita - seorang manusia naga."
Griffin itu berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian sebelum melanjutkan. "Kekuatannya... sangat mengerikan. Bahkan Serigala Petir pun lebih memilih lari daripada menghadapinya. Saat ini, sosok itu berada di kerajaan elf."
Lily hanya menatap dengan dingin, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Namun tatapannya saja sudah cukup untuk membuat semua makhluk di hadapannya gemetar ketakutan. Auranya berubah gelap, membuat bunga-bunga di sekitarnya sedikit layu.
Tiba-tiba, sebuah portal sihir terbentuk dari sulur-sulur tanaman yang meliuk indah. Cahaya hijau keemasan memancar dari dalamnya, dan seorang peri melesat keluar dengan napas tersengal. Sayap kristalnya bergetar kelelahan, wajahnya pucat pasi seolah baru menghadapi sesuatu yang mengerikan.
Peri itu segera berlutut di hadapan Lily, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Yang Mulia..." ia berusaha mengatur napasnya.
"Tenang." Satu kata dari Lily, diucapkan dengan suara sedingin es namun selembut sutra, membuat peri itu seketika menenang. Kekuatan magis Lily mengalir lembut, memulihkan stamina sang peri.
"Hamba... hamba tahu identitas manusia naga itu," peri tersebut memulai. "Hamba memata-matainya di kerajaan elf tadi malam. Ia berbicara dengan mantan raja elf, Vertigo."
Lily mengangkat alisnya sedikit - gesture kecil yang membuat semua yang hadir menahan napas.
"Sosok itu..." peri itu menelan ludah. "Dia adalah Raia Astrydia yang telah kembali."
Melihat ekspresi Lily yang tak berubah, peri itu buru-buru menambahkan. "Raia Astrydia adalah penyihir legendaris dari era mitos! Satu-satunya penyihir yang memiliki sihir di luar hukum alam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Astrydia
FantasyRaia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia. 500 tahun kemudian, seorang pemud...
