Chapter 49 The Swan Sect

43 4 0
                                        

Chapter 49: The Swan Sect

Fajar beranjak naik saat Lily dan Raia keluar dari pondok kristal. Udara pagi di Verdantia terasa menyegarkan—perpaduan aroma bunga kristal dan embun pagi yang masih menyelimuti tumbuhan.

"Kita akan mengunjungi Sekte Angsa hari ini," Raia berkata sambil mengenakan jubah putih bergaris emas yang tersimpan di pondoknya—pakaian formal yang sepertinya sudah lama tidak ia kenakan.

"Dengan Blanc?" tanya Lily, mengingat naga putih salju milik Raia.

Raia tersenyum. "Ya. Dia sangat senang saat berada di dunia luar."

Mereka berjalan melewati jalanan Verdantia yang mulai ramai dengan aktivitas pagi. Penduduk membungkuk hormat ketika melihat mereka, beberapa bahkan memberikan bunga kristal atau makanan sebagai tanda penghormatan.

Lily masih belum terbiasa dengan perlakuan istimewa ini, tapi Raia tampak nyaman, membalas setiap sapaan dengan senyum hangat dan anggukan kepala.

Saat mereka mencapai tepi Hutan Kristal, sosok megah Blanc sudah menanti. Naga Putih Salju itu berbeda dari naga-naga yang pernah Lily lihat. Tanduk kristalnya bercabang seperti ranting pohon, dan jenggot panjangnya bergerak lembut seperti rumput tertiup angin.

"Blanc," Raia menyapa, mengelus kepala naga tersebut.

Naga itu membungkukkan kepalanya sebagai balasan dan mengeluarkan suara seperti lonceng kristal yang berdenting. Matanya yang besar dan berwarna biru es menatap Lily dengan penuh rasa ingin tahu.

"Pagi, Blanc," Lily ikut mengelus.

Blanc mengeluarkan suara mendengkur lembut, tampak senang dengan sapaan Lily. Ia menurunkan tubuhnya, memposisikan diri agar mereka bisa naik ke punggungnya yang lebar.

"Dia semakin menyukaimu," Raia tersenyum, membantu Lily naik ke punggung Blanc.

Lily menyentuh sisik Blanc dengan lembut, merasakan teksturnya yang halus dan dingin seperti es, namun tidak menggigit. "Berapa umurmu?"

Blanc tidak menjawab, tapi matanya berkedip dengan cara yang membuat Lily merasa naga itu tersenyum.

"Bahkan aku tidak tahu pasti," Raia tertawa kecil, naik ke belakang Lily dan melingkarkan lengannya di pinggang kekasihnya. "Blanc sudah ada di dalam sihir duniaku entah sejak kapan."

Dengan gerakan anggun, Blanc mengangkat tubuhnya. Mereka terangkat dari tanah dengan mulus, tanpa guncangan yang biasanya dirasakan Lily saat terbang dengan makhluk lain.

"Pegangan," bisik Raia saat Blanc mulai melesat ke langit.

Pemandangan Verdantia dari udara membuat napas Lily tercekat. Kota kristal itu berkilau seperti permata raksasa yang tersebar di atas karpet hijau hutan. Menara-menara tingginya menjulang menembus awan rendah, sementara sungai-sungai kecil berkilau seperti benang perak yang menjalin seluruh kerajaan.

Blanc terbang dengan kecepatan mengagumkan, namun tanpa turbulensi. Udara dingin di ketinggian seolah tidak menyentuh mereka—Lily merasakan kehangatan yang nyaman menyelimuti tubuhnya.

"Blanc menciptakan selubung udara hangat di sekitar kita," Raia menjelaskan, seolah membaca pikiran Lily.

Mereka terbang melewati gunung-gunung tinggi dengan puncak kristal, lembah-lembah hijau dengan danau berkilau, dan hutan-hutan kristal yang tersebar seperti taburan permata di atas lanskap Verdantia.

Setelah beberapa saat, Lily melihat struktur megah di kejauhan—bangunan putih dengan atap melengkung seperti sayap angsa yang terbentang. Di sekelilingnya, tujuh menara kristal menjulang tinggi, masing-masing berpendar dengan warna berbeda.

AstrydiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang