Raia Astrydia sang penyihir legendaris yang konon mampu menundukkan dunia manusia, tiba-tiba menghilang 500 tahun yang lalu setelah menyerang kerajaan di dunia bawah. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti nasib Raia.
500 tahun kemudian, seorang pemud...
Sihir dunia Raia mulai terbentuk secara penuh, mengubah suasana menjadi sesuatu yang mengerikan. Langit merah menggantung rendah, dan ribuan tengkorak tergeletak di mana-mana, menciptakan pemandangan yang membuat para elf merasakan ketakutan yang dalam. Mereka sadar bahwa saat ini adalah saat terakhir mereka melihat matahari.
Di tengah ketegangan tersebut, para elf bersiap-siap untuk melawan, meskipun hati mereka penuh dengan keraguan. Suara desiran angin yang dingin menambah ketegangan, seolah alam pun merasakan kengerian yang akan segera terjadi.
Namun, tiba-tiba, dari kejauhan, muncul sosok seorang anak kecil yang berlari dengan cepat, diiringi seorang elf yang mengenakan mahkota dan memegang tongkat emas bercahaya. Suasana hening sejenak saat anak itu berteriak, “Tunggu! Jangan lakukan apa-apa! Tolong berhenti!”
Semua elf yang melihat ke arah anak itu segera berteriak, “Kembali! Pergi dari sini, Aurelia!”
Namun, terlambat. Gerakan anak itu berlari tanpa peduli, dan sebelum mereka dapat bertindak, Raia sudah membatalkan sihir dunianya. Dalam sekejap, ia berada di depan anak itu, berjongkok dengan senyuman lembut di wajahnya, berusaha menenangkan ketakutan yang terpantul di mata anak tersebut.
“Hey, kecil,” Raia berkata, suaranya lembut. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Wajah anak itu ketakutan, tetapi ada keberanian dalam tatapannya. “Aku… aku ingin kau berhenti menyakiti keluargaku!” dia menjawab, suaranya bergetar. “Tolong, jangan sakiti mereka!”
Elf yang mengenakan pakaian keluarga kerajaan segera mengarahkan ujung tongkat emasnya yang berbentuk bulan sabit, dengan bola cahaya hijau di tengahnya. “Jangan mendekati anak itu, orang asing!” katanya dengan nada tegas, matanya menatap Raia dengan waspada.
Raia tidak mengalihkan pandangannya dari anak itu, tetapi ia merasakan ketegangan semakin meningkat. Elf bermahkota itu menyadari bahwa Raia berasal dari ras naga, dan ia tahu betul bahwa ras naga sangatlah kuat, mustahil untuk dilawan oleh pasukan elf yang ada. “Kau sendirian,” elf itu berusaha menegaskan, “tapi kami tidak akan mundur!”
"Yang Mulia! Orang itu sangat berbahaya!" teriak salah satu elf yang memegang pedang besar, suaranya menggema di antara pepohonan yang hening.
Ratu elf berdiri dengan angkuh, kecantikan yang memukau segera menarik perhatian semua yang ada di sekitarnya. Rambut pirangnya yang halus terikat rapi dalam kuncir kuda, memancarkan kilauan emas yang berkilau dalam cahaya. Anting bulan sabit perak yang tergantung di telinganya bergetar lembut saat ia bergerak, menambah pesona yang memikat.
Matanya yang berwarna biru cerah seolah mencerminkan langit yang cerah, penuh dengan kedalaman dan misteri.
Baju yang dikenakannya berwarna kuning dan putih, lengan pendek dan ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan elegan.
Sarung tangan panjang yang membalut lengannya menambah kesan anggun, sementara rok pendeknya menampakkan kakinya yang ramping, dihiasi dengan stocking panjang bermotif indah yang menunjukkan simbol kerajaan.
Jubah kuning dan putih yang melingkari bahunya melambangkan statusnya sebagai ratu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.