Chapter 36 Breakdown Nostalgia

82 5 1
                                        

Chapter 36: Breakdown Nostalgia

Raia membuka matanya, dan warna merah menyala di dalamnya bersinar tajam. Ketika ia menarik rambutnya ke atas, menghindarkan segala yang bisa menghalangi pandangannya, tatapannya menjadi dingin dan penuh tekad.

Di sekelilingnya, waktu seolah berhenti, seluruh hutan tampak terhenti dalam keheningan, menunggu. Dengan lengan yang mantap, Raia melanjutkan segel tangannya, memfokuskan energi yang baru ia miliki untuk membuka sihir dunia yang dimaksud.

“Sihir dunia. Aku menamainya Breakdown Nostalgia.”

Seketika, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Hutan yang sebelumnya lebat dan dingin berganti menjadi lautan yang tenang. Air biru jernih berkilau di bawah sinar matahari yang lembut, menciptakan panorama yang menakjubkan. Namun, di balik keindahan ini, ada sesuatu yang mendalam, seolah dunia ini menyimpan rahasia yang kelam.

Raia menutup lalu membuka matanya kembali, dan seketika pemandangannya berubah menjadi lautan tenang yang membentang tak berujung.

Di atasnya, seekor naga putih dengan tanduk panjang yang mirip miliknya berkeliaran di langit yang gelap. Petir merah menyambar ke segala arah, menciptakan suasana yang menegangkan namun menakjubkan. Suara gemuruh dari langit membuatnya merasakan getaran di dalam dirinya.

Dengan langkah mantap, Raia melangkah ke depan, membungkuk, dan menyentuh air tenang di bawahnya. Saat jarinya menyentuh permukaan, gelombang kenangan mulai muncul. Dalam sekejap, ia kembali ke masa lalu—ke saat-saat yang membentuk siapa dirinya sekarang.

Pertama, ia melihat kenangan pahit dari kematian kedua orang tuanya. Gambaran itu menyakitkan, wajah mereka yang penuh kasih kini dipenuhi dengan kesedihan. Raia merasakan kembali rasa kehilangan yang mendalam, seolah-olah jiwanya terbelah oleh duka.

Namun, saat kenangan itu memudar, ia berpindah ke medan perang yang kelam, di mana ribuan mayat penyihir tergeletak di tanah. Darah mengalir, dan suara jeritan serta ratapan menggema di telinganya. Ini adalah bagian terkelam dari hidupnya, saat ia terjebak dalam siklus kekerasan dan balas dendam.

Tiba-tiba, dunia di sekelilingnya berubah lagi. Raia menemukan dirinya berada di dalam sebuah rumah kayu yang nyaman, di mana ia duduk bersama tiga sosok teman masa lalunya ketika masih dikenal sebagai Raia Astrydia.

Di hadapannya, seorang pria bertubuh kekar dari ras elf mengenakan jubah khas kerajaan elf, dengan janggut putih yang menunjukkan kebijaksanaan dan pengalaman. Senyumnya hangat, mengingatkan Raia akan masa-masa menyenangkan.

Di sampingnya, seorang pria lain duduk tenang, memainkan belati hitam dengan lihai. Rambutnya berwarna biru malam dan matanya berwarna hijau, menciptakan kontras yang menawan.

Ia tampak asyik bercakap dengan sosok seorang wanita cantik bersurai merah dan bermata ungu, yang memangku pedang besar berbentuk kotak. Mereka berempat tertawa dan minum bersama, menciptakan suasana hangat yang penuh keceriaan.

Namun, tawa itu tiba-tiba teredam saat kenangan itu mulai memudar. Raia merasa tercekik oleh rasa rindu yang mengalir dalam dirinya. Seolah-olah masa lalu yang indah itu mengingatkannya akan semua yang telah hilang. Dan saat itu juga, dunia sihir Raia kembali berpindah, membawa dia ke momen awal pertemuannya dengan Lily di pasar kerajaan.

Ia melihat dirinya yang menjadi Noah, berkeliling pasar yang ramai, aroma rempah-rempah dan makanan menggoda tercium di udara. Di tengah kerumunan, ia melihat Lily—seorang gadis yang awalnya menyamar sebagai nenek-nenek penjual, senyuman cerah dan mata yang penuh harapan. Saat mereka bertemu, jantung Raia berdebar kencang. Momen itu terasa manis dan murni, jauh dari semua kekacauan yang kini mengelilinginya.

AstrydiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang