Chapter 40 Pengorbanan Sang Ratu

79 7 0
                                        

Chapter 40: Pengorbanan Sang Ratu

Cahaya matahari pagi perlahan merangkak naik, menyinari sosok Raia yang duduk tenang di tepian menara kastil. Siluetnya membayang di atas kota yang mulai terbangun, sementara angin sejuk memainkan rambut putih keperakannya. Matanya menerawang jauh, mengamati kehidupan yang mulai bergerak di bawah sana.

Suara langkah pelan terdengar dari belakang - berbeda dari yang biasanya. Bukan langkah anggun seorang ratu, melainkan langkah berat yang sarat penyesalan.

Vera mendekat dengan kepala tertunduk. Bahunya yang biasa tegap kini membungkuk seolah menanggung beban seluruh dunia. Setelah melihat ayahnya bergegas menuju kamar ibunya, ia duduk tanpa kata di samping Raia. Keheningan menyelimuti mereka, hanya diisi oleh desir angin dan gemerisik dedaunan.

"Bagaimana rupanya?" Raia memecah keheningan, suaranya tenang tanpa nada menghakimi. "Sosok yang mengaku sebagai diriku itu."

Vera tersentak. Kepalanya terangkat dengan mata melebar, terkejut mendapati ketenangan alih-alih cercaan yang ia kira akan diterimanya. Menyadari bahwa sosok di sampingnya adalah Raia Astrydia yang asli membuat jantungnya berdebar kencang.

"Satu bulan yang lalu..." Vera memulai, suaranya bergetar. Pandangannya menerawang ke cakrawala, seolah mencoba menggapai kembali kepingan masa lalu yang telah mengubah segalanya.

---

Sore itu, langit berwarna jingga keemasan ketika Vera duduk sendirian di taman istana. Matanya menatap kosong ke arah patung Raia Astrydia - pahlawan yang selama ini ia puja, yang telah menyelamatkan dunia dengan mengorbankan nama baiknya.

"Andai saja aku bisa sekuat dirimu," bisiknya pada angin. "Mungkin aku tak akan merasa selemah ini..."

Beban sebagai Ratu Elf terasa mencekik. Setiap hari, ia harus menghadapi tatapan meremehkan dari para tetua yang menganggapnya terlalu muda. Setiap keputusannya dipertanyakan, setiap idenya ditentang. "Kau belum cukup dewasa," kata mereka. "Kau tidak seperti ayahmu."

Tepat saat air mata pertamanya jatuh, sebuah energi gelap muncul di hadapannya. Sosok tinggi berjubah hitam dengan rambut biru gelap yang menjuntai hingga pinggang melangkah keluar dari kegelapan. Matanya merah menyala seperti bara api, memancarkan aura kekuatan yang mencekam namun... menenangkan.

"Aku bisa merasakan kesedihanmu," suaranya dalam dan magnetis. "Beban yang kau pikul... rasa tidak mampu yang menghantuimu..."

Vera tersentak mundur. "Siapa-"

"Aku Raia Astrydia," sosok itu memotong. "Yang telah bangkit dari tidur panjang... untuk membantu jiwa yang tersesat sepertimu."

Vera hendak tertawa tidak percaya, tapi kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Kabut tipis merasuk ke dalam pikirannya, dan tiba-tiba semua masuk akal. Tentu saja ini Raia Astrydia - siapa lagi yang memiliki aura sekuat ini?

"Aku... aku selalu mengagumimu," Vera berbisik, suaranya bergetar. "Ayah menceritakan semua tentangmu. Bagaimana kau mengorbankan segalanya demi kedamaian... bagaimana kau tetap berjuang meski semua orang membencimu..."

"Dan lihat sekarang," sosok itu tersenyum dingin. "Kau mengalami hal yang sama, bukan? Dianggap lemah... tidak mampu... tidak pantas..."

Air mata Vera mengalir deras. Akhirnya ada yang mengerti! "Ya... ya! Mereka tidak pernah memberiku kesempatan! Mereka selalu membandingkanku dengan ayah... aku... aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa!"

"Kalau begitu," sosok itu mengulurkan tangannya. "Bagaimana jika kuberikan kekuatan untuk membuktikan diri? Kekuatan untuk membuat semua yang meremehkanmu berlutut? Kekuatan untuk membuat kerajaanmu lebih makmur dari yang pernah ada?"

AstrydiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang